
Suasana ceria dan bahagia tercipta di rumah dokter Valdi yang sangat asri tersebut. Canda dan tawa saling terlontar di antara semua orang yang ada di dalamnya. Namun saat Valdi baru saja keluar dari kamar mandi, ekor matanya menangkap sebuah mobil hitam tampak asing dan mencurigakan ada di ujung halaman rumahnya, tepatnya di samping pagar.
Alis Valdi terangkat sebelah, mobil itu ... sepertinya aku pernah melihatnya sebelum ini. Tapi dimana, dan siapa ya? " tanyanya dalam hati.
Merasa tak mengingatnya, ia pun kembali berjalan menuju ruangan yang ditempati oleh Kavita dan keluarganya tersebut.
Senyum terukir di wajah tampannya saat melihat kehangatan keluarga itu. Terbesit rasa iri dalam hatinya melihat kebahagiaan keluarga wanita yang dicintainya tersebut. Karena walau bagaimanapun ia hanyalah manusia biasa yang sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terkasihnya.
Tetapi sepertinya ia harus rela hanya dengan kondisi hidupnya saat ini. Karena saudara kembarnya sendiri saja seakan tak bersimpati kepadanya, apalagi orang lain yang mungkin tidak akan pernah sudi untuk memperhatikan dirinya yang merasa hanyalah seonggok daging itu.
Ya, Valdi seringkali merasa seperti itu. Padahal dia selalu disanjung oleh para pasien beserta keluarganya. Makanya seringkali lebih betah berada di rumah sakit yang memberikan semangat kepada dirinya ketimbang berada di rumahnya dulu.
"Hey, Dokter Valdi. Ayo kita foto bersama, " ajak papa Indrawan melambaikan tangannya pada Valdi yang baru saja tiba di ruangan itu kembali.
"Ah, tidak. Silahkan kalian lanjutkan saja, saya akan membereskan kamar tamu dulu, " tolak Valdi secara halus yang sebenarnya hanyalah sebuah alasan, karena seluruh ruangan dan rumah tersebut sudah di bereskan dan di bersihkan oleh orang yang menjaga rumah tersebut.
"Oh ayolah, Dokter Valdi. Kita adalah keluarga, kalau bukan Anda, siapa lagi keluarga kami? Bahkan kebaikan Anda selama ini malah melebihi baiknya seorang yang masih berhubungan keluarga? Anda justru lebih dari seorang keluarga bagi kami," papa Indrawan tak menyerah, beliau orang yang sangat gigih, jangan harap hanya dengan alasan seperti tadi bisa membuatnya menyerah begitu saja.
Perkataan yang terucap dari papa Indrawan itu begitu cess ... terasa sejuk dingin menyentuh sanubari Valdi yang tadi sempat memanas sebab rasa iri hatinya.
Valdi pun mau tak mau mengangguk setuju dan perlahan berjalan mendekat. Rangkulan serta pelukan hangat langsung ia dapat kan dari laki-laki paruh baya berwajah ramah yang merupakan ayah dari Kavita itu.
"Terimakasih banyak ya, Nak Valdi. Selamat ini kamu sudah begitu banyak membantu keluarga kami. Kamu dengan tulus menjaga, melindungi, dan merawat anak beserta cucu saya, " bisik papa Indrawan tepat disamping telinga Valdi. Terdengar pula isakan disana, pertanda jika lelaki paruh baya itu saat ini sedang menangis.
Pemuda itu menegang, ia tak menyangka sama sekali jika ayah dari wanita yang ia cintai itu memeluknya dengan erat dan mengucapkan kalimat seperti itu kepadanya. Sebab selama ini dirinya hanya berusaha untuk sebaik mungkin merawat dan menjaga wanita yang berharga baginya. Tanpa mengharapkan balasan ataupun imbalan meski hanya sekedar ucapan terimakasih .
"Om Indrawan nangis? " gumamnya bertanya pada diri sendiri di dalam hati.
"Saya nggak tau apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikanmu selama ini, Nak, "
"Eng-nggak perlu, Om. Valdi ikhlas ngelakuin semuanya buat Kavita sama little angle. Eh, baby nya, "
"Kalo boleh sih, jadiin saya menantu Anda, Om, " lanjutnya yang hanya bisa terucap di dalam hati. Mana berani dia mengatakan itu secara langsung, bisa-bisa langsung kaku di tempat dia nanti.
Papa Indrawan menepuk-nepuk pelan punggung Valdi, "Om tau, kamu itu anak yang baik dan tulus, Valdi. Maka dari itu, Om selama ini bisa tenang mempercayakan mereka sama kamu, "
"Oh, Tuhan... hatiku mau meledak. Om Indrawan jangan berlebihan dong, ntar aku terbang loh, " teriak Valdi dalam hati.
Perlahan pelukan itu terlepas, papa Indrawan mengusap matanya yang masih basah oleh air mata. Ia kembali mengajak Valdi untuk berfoto bersama dengan keluarganya.
"Vero... "
"Yes, I'am, Pa, "
"Ayok! "
"Siaaap, "
❤❤❤
Buat yang nungguin Adrian ketemu sama Kavita, sabar ya... lagi disiapin momen yang pas, biar greget😄.