
Pov Kavita
Oh iya, aku hampir lupa satu hal yang semakin membuatku yakin untuk tetap berpisah dengan lelaki itu adalah...
Plak...!
Tamparan di pipiku terasa panas dan perih saat ia melayangkan pukulan itu begitu saja di pipi kiriku, saat aku merasa marah dan emosi karena dia selalu saja menomorsatukan Vara, yang rupanya adalah maduku. Ya, saat itu Vara sudah pergi dari rumah yang entah kemana, akupun tak perduli akan dirinya. Aku justru merasa sangat bahagia jika wanita itu pergi menjauh dari kehidupan kami, yang artinya aku akan wanita satu-satunya dan akan sepenuhnya oleh Adrian. Begitulah cinta yang memang egois sifatnya.
Namun, semua angan-angan untuk bisa menjadi ratu dihati Adrian tidaklah semudah itu dapat terwujud, sebab setelah satu bulan kepergian wanita itu, Adrian masih saja sering memandangi fotonya secara diam-diam. Aku bukannya tidak tau, hanya saja aku lebih memilih untuk diam ketimbang akan menjadi keributan. Aku yang kala itu dibutakan oleh cinta, tak perduli sama sekali tentang luka. Yang aku ingin hanyalah memilikinya. Sampai pada saat hari itu yang entah kenapa aku merasa sangat cemburu saat ia melakukan vidoe call dengan Vara, aku fikir ia sudah melepaskan wanita itu, ternyata tidak.
Aku yang merasa marah, melabraknya begitu saja seperti seorang istri sah mendapati suaminya berselingkuh, padahal akulah yang kedua baginya. Aku lah yang bagi Adrian adalah seorang perusak rumah tangganya yang sudah bahagia bersama Vara saat itu. Tapi lagi-lagi aku yang sudah dikuasai oleh amarah, tak perduli apapun lagi dan memakinya begitu saja.
"Kamu masih berhubungan sama wanita itu, Mas? Bukannya kamu udah janji buat cinta sama aku, dan nggak akan berpaling dari aku. Mana janji kamu, Mas? " seruku padanya.
"Tapi aku nggak pernah bilang buat ninggalin dia atau menceraikan dia 'kan? Apa kamu dengar, ada kata-kata seperti itu keluar dari mulutku? Jawabannya jelas enggak! Karena sampai kapanpun, aku nggak akan pernah menceraikan Vara, ngerti kamu." Ucapnya begitu tegas padaku.
Aku semakin tersulut emosi mendengar pernyataan yang menyakitkan itu, rupanya aku salah mengartikan perkataannya saat memohon maaf padaku saat itu. Aku fikir Adrian akan selalu ada untukku, dan hanya aku.
"Kenapa Mas? Apa kurangnya aku di mata kamu? Bukankah aku wanita sempurna, bahkan aku bisa dengan cepat akan segera memberikan keturunan untuk keluarga mu. Bukankah itu tujuan keluarga mu menjodohkan kamu sama aku?" teriakku. Kata-kata itu dari bibirku karena aku sudah tau tujuan mereka, terutama kedua orangtuanya menjodohkan Adrian denganku.
Adrian mendelik, tatapannya begitu tajam menatapku. Sebenarnya nyaliku sedikit menciut melihatnya, tapi aku tak mau kalah lagi, aku tak mau ia tindas lagi dan dia bisa berbuat semaunya lagi menyakiti hatiku. Akupun kembali melontarkan perkataan buruk yang membuat Adrian semakin tersulut amarah.
"Apa? Bukankah benar, kamu di nikahin sama aku gara-gara si Vara itu gak bisa punya keturunan'kan, karena dia cacat! Itu yang mami sama papi kamu bilang! " Lagi, aku berteriak lantang di hadapannya. Itu semua karena aku sudah lelah memendam amarah di dalam dada yang kini terasa meledak di ubun-ubun.
Adrian tidak terima, dia tetap membela Vara yang memang merupakan wanita kebanggaan nya itu. Wanita yang merupakan cinta pertamanya.
Tangannya pun terangkat, dan mendarat di pipiku dengan kencang.
"Kamu nggak berhak ngomong apapun tentang Vara! "
Air mataku mengalir dengan derasnya, aku berbalik meninggalkannya dengan rasa sakit dihati. Sebenarnya saat itu aku sudah ingin meninggalkannya, namun ak masih memikirkan bayi di slama kandunganku yang tak mungkin terlahir tanpa ayah. Aku tidak tega walau hanya sekedar membayangkan nya saja.
Lumayan lama kami saling diam, mungkin ada sekitar satu minggu lebih. Dan dalam jangka waktu itu kugunakan untuk memikirkan kembali apa yang akak kulakukan ke depannya, apakah aku harus meninggalkan Adrian, atau memberi kesempatan pada suamiku itu lagi. Setelah menimbang dan juga hasil dari aku konsultasi pada seseorang, ia memberiku nasehat supaya aku memberi Adrian kesempatan sekali lagi saja.
"Jika Adrian bisa menjadi lebih baik, maka bertahanlah. Tapi jika sebaliknya, maka tinggalkanlah... " nasehat orang itu begitu bijak.
Aku pun setuju. Maka dari itu, saat Adrian kembali berlutut memohon maaf padaku, aku memaafkannya. Lagi-lagi dengan syarat yang sama seperti waktu dulu ia menyakitiku. Lelaki itu menyanggupinya, entah itu karena niat baik hatinya, atau karena ada paksaan dari orang lain akupun tak tau. Yang jelas, aku mencoba berpositif thingking saja demi kebaikan calon bayiku.
Ya, sudah berulang kali aku memberinya kesempatan. Jika kalian bilang aku ini wanita bodih, itu benar.
Karena terkadang cinta yang tulus memang tidak menggunakan logika, melainkan menggunakan hati, dan mengutamakan perasaan.
Maka dari itu, aku selalu tersentuh dan tak tega saat Adrian meminta maaf, dengan air mata berderai dan menampakkan wajah sedih melasnya.
Tapi semenjak kejadian menyakitkan itu... tidak akan pernah ada lagi kesempatan baginya.
Tidak akan pernah ada lagi kata maaf untuknya.
Aku tak akan lagi terbuai oleh janji manisnya.
Hatiku sudah tertutup oleh rasa kecewa.
Rasa cintaku sudah menghilang dan berganti dengan rasa benci untuknya.
Semoga aku tidak akan pernah lagi goyah.
Aku harus tegas!
Aku harus menatap ke depan dan melangkah maju demi masa depanku dan juga Kava.
Aku yakin, kami pasti bisa bahagia meski hanya berdua saja tanpa adanya Adrian lagi diantara kami.
Akan aku pastikan tidak akan ada lagi kata kita antara aku dan dia. Tidak akan ada lagi kata keluarga dengannya.
"Semuanya sudah usai, Adrian!
Masa depan kita berbeda, kita tak lagi satu tujuan."
"Kuharap kau tak akan pernah ada lagi di dalam kehidupanku yang sudah mulai membaik ini."
Kalian pernah nggak sih, ada di posisiku? Memang rasanya sangat sakit untuk tetap bertahan bersama pasangan kita, tapi rasanya begitu berat juga untuk pergi meninggalkannya. Mungkin karena rasa cintaku yang begitu dalam untuknya. Itulah yang selama ini menjadi keraguan di hatiku. Apakah aku bisa bertahan tanpanya, apa aku bisa hidup tanpa bersamanya. pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu saja hadir saat aku ingin memutuskan.
Tapi tekadku sudah bulat sekarang, apalagi dngan dukungan orang-orang terkasih ku. Aku pasti bisa menata masa depanku dengan baik tanpa dia.
Aku melihat satu persatu orang-orang baik disekitarku ini, semuanya tersenyum tulus dan selalu mendukungku supaya cepat move on.
"Jadikan masa lalu sebagai pengalaman dan pembelajaran di masa yang akan datang, " nasehat mereka padaku.
Aku mengangguk setuju.
"Masa depan cerah menunggumu, bersemangatlah! "
Pov Kavita End
Kilasan bayangan hari menyakitkan itu berkelebatan di dalam ingatan Kavita. Terbentuk seperti rangkaian sebuah video dan berputar di dalam memori otaknya. Membuatnya semakin yakin jika keputusannya untuk pergi dari Adrian adalah suatu keputusan yang sangat tepat.