
Adrian menghempaskan tangan Varo yang mencekal lengannya, tanpa babibu lelaki itu langsung berlari keluar ruangan guna menyusul Vara yang sudah mendahuluinya.
"Vara! kamu mau kemana? " teriak Adrian memanggil Vara. Pria itu mungkin lupa jika sedang berada di rumah sakit dan tidak boleh berisik.
"Vara sayang.. tunggu! " Adrian berusaha menggapai tangan Vara.
Vara menghentikan langkah kakinya dan dengan cepat berbalik menghadap Adrian.
"Kamu bisa kendaliin diri sedikit gak sih, Dri? Ini tuh di rumah sakit, tempat umum. Kalau sampai ada yang lihat kita, semuanya bisa kacau, " ucap Vara dengan suara berbisik.
"Oke, sory.. aku minta maaf, " Adrian tersadar, ia melepaskan tangan Vara uang di genggamnya.
"Udah deh. Mending sekarang kamu balik lagi ke ruang perawatannya Vita, dan minta maaf sama Vita. Bilang aja kalau tadi kamu bercanda, " titah Vara.
"Kalau itu aku nggak bisa, "
"Kamu pengen berhasil nggak sih, Dri? " tanya Vara, wanita itu tampak sangat kesal.
"Kalau kamu mau rencana kita berhasil, kamu harus ikut aturan dan perjanjian yang udah kita sepakati sebelumnya, "
"Tapi aku nggak sanggup khianatin kamu, Vara, " bisik Adrian juga.
"Enggak, Dri. Kamu itu nggak lagi khianatin aku. Kamu itu lagi berjuang, kamu lagi berusaha buat masa depan kita nanti, buat anak kita juga, "
"Tapi hati aku sakit, Var. Saat aku harus selalu mencoba menyentuhnya, bersikap manis padanya, dan semua yang sering aku lakuin ke kamu. Difikiran aku itu selalu hanya ada kamu, " Adrian berucap dengan suara yang mulai biasa.
"Bahkan saat menyentuhnya, yang ada dalam mata dan bayanganku cuma kamu, "
"Apa? Apa semua ini? " gumam seseorang yang melihat dan mendegar perkataan Adrian dan Vara. Orang itu terkejut, dan menutup mulutnya yang ternganga.
Vara menangkup wajah Adrian, "ini hanya sementara, Adrian. Kita harus bisa melewati semuanya, "
"Setiap kali kamu ngerasa nggak sanggup. Kamu harus ingat perjanjian kita. Kamu harus membayangkan masa depan rumah tangga kita yang sempurna dengan adanya bayi mungil diantara kita, "
"Aku mohon, Dri. Pliss.."
"Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka? Rumah tangga? Mereka suami istri? dan apa tadi, bayi mungil diantara mereka? " seseorang yang tak sengaja mengikuti langkah Adrian, dan mendapati kenyataan yang mengguncang jiwanya.
"Oh Tuhan.. aku harus bagaimana sekarang? " orang itu menyandarkan punggungnya di tembok, rasanya tubuhnya seperti kehilangan otot, lemah tak berdaya.
" Aku juga mau jadi wanita yang sempurna. Aku juga mau jadi seorang ibu, " ucap Vara memelas degan air mata yang kembali menetes.
"Oke-oke.. kamu jangan nangis.. " Adrian menghapus air mata Vara dengan kedua ibu jarinya.
"Dia bisa berperilaku manis degan wanita itu? " ucap seseorang yang bersembunyi di tembok belakang Adrian dan Vara berada.
"Aku paling nggak sanggup kalau harus liat kamu nangis kayak gini, " ucap Adrian lembut.
"Bahkan tutur katanya selembut itu, " gumam orang itu menggelengkan kepalanya, ia merasa tak percaya dengan apa yang saat ini sedang ia saksikan.
"Aku bakal lakuin apapun buat kamu, untuk kita, demi masa depan dan anak kita, "
Disisi lain, seorang paruh baya yang melihat hal tersebut menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Air matanya luruh bersamaan dengan kepercayaannya yang hancur musnah.
Sedangkan dari arah lain, Mami Sinta datang mendekati dua orang yang berseteru itu. Hampir saja keduanya berpelukan saat Mami Sinta menegur Adrian.
"Loh, Dri.. Vara.. kok kalian disini? udah abis jenguk Vita? " sapa Mama Sinta yang otomatis menghentikan pergerakan Adrian yang sudah hampir merengkuh tubuh wanitanya.
"Emm.. udah Tan, " jawab Vara sembari menghapus air matanya cepat.
" Akting? " tanya balik Adrian dan Vara yang merasa kebingungan.
"Kalian ini, udah Mami bilangin kan.. kalau mau latihan itu di rumah aja, dilihat orang kan nggak enak kalau ditempat umum. Nanti disangkanya kalian lagi berantem loh, " ucap Mami Sinta yang semakin tidak dimengerti oleh dua orang di hadapannya itu.
"Eh, it-itu.. " Vara terbata, bingung untuk menjawab.
"Mami darimana? " Adrian tak mau ambil pusing, ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Abis dari kantin, makan siang. Kalian udah makan? " jawab sekaligus tanya Mami Sinta.
"Udah, " jawab Adrian singkat.
Mami Sinta menoleh pada Vara, "Vara mau kemana? "
"Vara mau kerja dulu, Tan, "
"Yaudah kalau gitu, Hati-hati ya.. biar tante sama Adrian ke ruangan Vita dulu buat jaga dia, " Mami Sinta sudah menggandeng lengan Adrian, jadi mau tak mau Adrian harus menurut.
" Iya, Tan, permisi, " pamit Vara seraya berlalu.
"iya, "
.
"Hati-hati, Vara, " seru Adrian yang langsung mendapatkan cubitan dari Mami Sinta.
"Diem, Drian. Jangan berkepanjangan pesennya, " bisik mami Sinta
"Kenapa sih, Mi? " kesal Adrian dengan bibir mengerucut.
" Sst, udah ayo! jangan brisik aja kamu, " Mami Sinta setengah menyeret lengan Adrian yang ogah-ogahan diajak kembali ke ruangan Kavita.
"Sebenarnya siapa yang sedang bersandiwara disini? Aku makin nggak ngerti sama orang-orang itu, " seseorang yang sejak tadi di persembunyian semakin kebingungan dengan apa yang baru saja ia saksikan.
"Mereka benar-benar keterlaluan. Aku nggak Terima Vita diperlakukan seperti itu. Aku harus bisa cepat mendapatkan bukti dan membongkar rencana jahat mereka, " gumam seseorang yang lain di bagian lain pula.
Diruang rawat Kavita, wanita itu baru saja dia uapi buah oleh sang adik yang mendadak jadi bersikap lembut dan tak lagi iseng padanya.
"Kok Kakak ngerasa aneh ya dibaikin sama kamu kayak gini, " Vita membuka suara, ia mencoba bersikap biasa saja dengan apa yang baru saja terjadi, seolah-olah hal tersebut bukanlah suatu masalah besar bagi dirinya. Padahal Vero saja yang adiknya masih merasa sangat jengkel dengan kejadian tadi.
"Udah deh, Kak. Nggak usah mancing-mancing kalau Vero lagi baik tuh, " Vero menusuk buah pir menggunakan garpu dengan tenaga ekstra, hingga suara dentingan nya memekakkan telinga.
"Biasa aja kali, bisa ancur tuh piring ntar, "
"Bodoamat. Aak... " sepotong buah disodorkan Varo di depan mulut sang kakak.
"Makasih, Uncle Vero yang baik hati dan budiman.. " Vara bersuara seperti anak kecil ssbil mengusap perutnya.
Mau tak mau, siap tak siap dengan kondisi hubungannya dengan Adrian. Ia tetap harus berusaha menerima janin yang sudah bersemayam di dalam kandungannya kini.
"Uncle? " tanya Vero dengan lengkungan si bibirnya, entah apa yang ada di fikiran pemuda itu.
"Yes, Uncle Vero.. " Vita tertawa yang segera menular pada sang adik.
Disaat keduanya sedang tertawa bersama, pintu ruangan itu kembali terbuka. Kemunculan Mami Sinta dengan di dikuti Adrian membuat suasana kembali hening.
Bersambung...