
"Apa sebenarnya mau kamu, Adrian? " geram papa Indrawan saat langkah kakinya harus kembali terhenti karena dihadang oleh Adrian yang berlutut di depannya.
Bukan rasa iba ataupun kasihan yang ia rasakan terhadap menantunya itu, yang ada malah rasa jijik, dan bahkan simpatinya yang dulu ada untuk lelaki itu, kini musnah melihat drama yang diperankan oleh Adrian tersebut.
"Pa ... izinin Adrian buat bersatu kembali dengan Kavita, Pah. Atau paling enggak, minimal Papa izinin buat Adrian ketemu sama Kavita, biar Adrian yang ngomong dari hati ke hati sama Vita. Adrian yakin, semua ini dilakukan Vita karena lagi emosi dan marah aja sama Adrian, Kavita pasti masih mau maafin Adrian, Pah, " cerocos Adrian tak memberi celah papa Indrawan untuk berkomentar atas perkataannya.
"Cih! Muak saya liat sandiwara kamu! Lebih baik sekarang kamu pergi dari hadapan saya sebelum saya kehabisan kesabaran," malas berada di depan Adrian lebih lama yang nantinya malah akan membuat amarahnya naik ke ubun-ubun, hal itu tentunya tidak akan baik untuk kesehatan jantungnya, makanya papa Indrawan memilih berlalu begitu saja.
Namun seolah sudah kehilangan urat malunya, Adrian kembali mengejar mertuanya itu dan dengan cepatnya memeluk kaki papa Indrawan yang sedang melangkah, sampai hampir saja papa Indrawan terjatuh dibuatnya. Untung saja asistennya sigap menangkap tubuh tingginya itu.
"Bebal sekali ya kamu! " bentak papa Indrawan jengkel.
Sepertinya kesabarannya benar-benar habis saat ini, tapi lelaki paruh baya itu tak mau mengotori tangannya dengan menyentuh Adrian yang dinilainya tak lebih baik dan steril dari kuman itu, hingga ia memerintahkan kepada asisten dan pengacaranya untuk mengurus Adrian yang sudah seperti lintah itu.
"Adrian nggak akan lepasin Papa sebelum Papa ngasih tau Adrian dimana keberadaan Kavita dan juga anak Adrian berada, " kekeh Adrian pada pendiriannya.
Papa Indrawan tertawa, tepatnya tawa jengkel atas kalimat yang baru saja di dengar olehnya.
"Ngasih tau kamu keberadaan Kavita? Itu sama saja saya menggali kuburan saya sendiri!" ucap papa Indrawan kemudian.
Adrian masih memeluk kakinya erat dengan kepala mendongak, menatap papa Indrawan dengan sorot mata penuh harap.
"Dan apa tadi kamu bilang? Anak kamu? Anak kamu darimana, hah! Apa kamu mengurusnya? Apa kamu ada saat Kavita merasa kesakitan dan membutuhkanmu? Apa kamu menyaksikan saat anak yang kamu bilang anak kamu itu dilahirkan ke dunia?! " suara papa Indrawan yang lantang menggema di lorong pengadilan agama tersebut.
Jleb!
Pertayaan menusuk itu membuat Adrian tertunduk, ia mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh ayah dari istrinya itu. Meski kalimat papa Indra seperti itu, tapi di dalam hatinya, ia tetap merasa yakin jika anaknya dengan Kavita masih hidup dan baik-baik saja saat ini.
"Aku yakin, kalau anak aku dan Vita masih hidup saat ini, dan dia baik-baik aja sama Kavita di suatu tempat, " batin Adrian.
Bibirnya bergetar, ia ingin bertanya namun lidahnya terasa kelu kali ini.
"Tap-tapi, Pah ... kemarin Adrian denger suara tangis bayi waktu di rumah di puncak itu. Itu suara tangisan anak Adrian dan Vita 'kan, Pah? " tanya Adrian dengan suara lirih, dan di selingi oleh isak tangis.
Wajahnya merah padam menahan amarah yang siap meledak begitu saja, tapi akal sehatnya masih bekerja sehingga ia mengurungkan niatnya untuk memukul Adrian. Ia cukup berkaca dari kejadian yang menimpa lelaki itu beberapa waktu yang lalu.
"Lepas! " dihempaskan nya kuat tubuh Adrian dari kakinya, namun seperti lintah yang melekat erat, Adrian sulit untuk terlepas. Lelaki itu masih saja kekeh dengan pendiriannya yang tidak akan melepaskan kaki ayah mertuanya itu sampai ia mendapatkan informasi yang dia inginkan mengenai istri dan juga anaknya.
"Dodi ... Dino ... ! Tarik dan jauhkan dia dari saya! " perintah papa Indrawan pasa asisten dan pengacaranya.
"Siap, Tuan! " kedua lelaki itu memegang lengan Adrian kanan kiri dan menariknya kuat-kuat.
Adrian terjengkang dengan posisi kedua lengan yang masih dipegangi oleh kedua pria tadi saat kamu Shinta serta suaminya sampai di tempat tersebut. Entah darimana saja mereka tadi sampai tak tau bagaimana kelakuan anaknya yang memancing kemarahan papa Indra sejak tadi.
"Heh! Kalian mau apain anak saya?! " teriak mami Shinta melengking memekakkan telinga siapa saja yang mendengar nya.
"Jaga anak Anda kalau tidak ingin kami berlaku kasar kepadanya! " ucap Om Dodi memperingatkan dengan tegas.
"Memangnya apa yang dilakukan anak saya, hah? Dia cuma meminta penjelasan, 'kan? Apa ada yang salah dari itu semua? " lagi, wanita paruh baya itu berteriak. Sungguh membuat muak papa Indra.
"Dasar ibu dan anak sama saja, sama-sama tidak memiliki sopan santun dan tata krama dalam bersikap," gerutu Om Dino.
"Penjelasan apa maksud Anda? " papa Indra menoleh pada besannya, yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan besan.
"Ya... mengenai istri dan anaknya, menantu dan cucu dari keluarga Wijaya, " meski takut-takut, mami Shinta tetap menjawab seperti itu.
Papa Indra kali tertawa, entah menertawakan dirinya sendiri yang selama ini merasa bodoh atau apa, yang jelas pria itu merasa sangat kesal pada orang-orang di sekitarnya itu.
"Bukannya seharusnya saya yang meminta penjelasan dari kalian? Kemna saja kalian saat Kavita mengalami kejadian mengerikan itu? Apa yang kalian lakukan hingga lalai terhadap anak saya, dan berakibat buruk kepada anak dan cucu saya, hah? " teriak papa Indra. Ia sudah tak dapat lagi membendung emosinya yang sejak tadi sudah di tahannya sekuat tenaga.
"Mana tanggungjawab kalian, yang katanya berjanji akan menjaga,erawati dan membahagiakan Kavita anak saya? Janji yang kalian ucapkan saat meminangnya dulu! " kini seorang ayah mau menuntut apa yang sebenarnya menjadi hal dari putrinya.
Mami Shinta terdiam membisu, papi Wijaya berpaling, kini ia merasa kehilangan muka di depan sahabatnya itu.
"Mana?? "