
Semua orang masih berkumpul di dalam kamar Kavita, mereka masih penasaran dengan cerita yang sebenarnya terjadi tadi di ruang tamu hingga adanya tembakan yang dilayangkan oleh seseorang.
"Tadi, Wijaya datang kemari memang sengaja untuk menemui Papa dan Mama. Sebab sudah semenjak kepergianmu dari rumah Adrian waktu itu, mereka tidak pernah mendapatkan akses untuk bisa masuk ke rumah kita sama sekali. Papa memerintahkan seluruh anak buah Robi untuk menjaga ketat rumah kita, dan juga ada beberapa yang berjaga di rumah sakit tempat kamu dirawat selama ini, " terang papa Indrawan kepada Kavita dan semua orang yang kini perhatikan mereka tertuju padanya.
Mendengar keterangan seperti itu tentu saja Valdi merasa terkejut, pasalnya selama merawat Kavita beberapa bulan ini,iq yak pernah merasa melihat atau bertemu dengan orang yang seperti ayah dari Kavita itu bicarakan. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali.
"Di rumah sakit juga, Om? Kok Valdi nggak tau ya. Valdi kira penjaga Kavita itu cuma Vero sama Diva aja, " tanya Valdi yang merasa setengah tak percaya.
Papa Indrawan terkekeh pelan, "Memang Om sengaja tidak memberitahu kalian semua mengenai hal ini. Bahkan Mama nya anak-anak juga tidak tau mengenai hal ini, " ucapnya kemudian.
"Waktu itu, Om seperti sudah memiliki firasat buruk. Seperti sesuatu yang buruk akan terjadi kepada keluarga Om, dan Om sendiri juga tentunya. Oleh sebab itu, Om langsung menyuruh Robi untuk mengerahkan semua anak buahnya dan mengatur strategi sedemikian rupa agar keluarga Om tetap aman meskipun Om harus terbaring tak berdaya karena terkena serangan jantung mendadak, " jelas papa Indrawan.
"Kapan Papa ngelakuin semua hal itu, kok bisa sampai Mama nggak tau?" tanya Mama Indri yang tak merasa mengingat ada banyak pengawal di sekitar rumahnya.
"Bahkan... para pengawal Papa dimana aja Mama nggak tau, atau... Mama aja ya yang kurang peka. Lagian, Mama mana sempet mikir hal lain, pikiran Mama waktu itu hanya tertuju pada Papa dan Kavita beserta bayinya aja. Pikiran Mama kacau, karena orang-orang tersayang Mama pada sakit dan bahkan koma. Untungnya saat itu masih ada Vero yang menguatkan Mama, "
Vero mendekat dan memeluk Mama Indri. Kecupan singkat mendarat di pucuk kepala sang bunda.
"Makasih, Sayang... "
"Itu udah menjadi tanggung jawab Vero sebagai anak laki-laki di keluarga kita, Ma. Vero harus kuat, harus bisa menjaga seluruh keluarga kita, "
"Good, Boy. Papa bangga sama kamu, Vero. "
Tepukan mendarat di pundak lelaki muda itu dari sang ayah tanda rasa bangga memiliki anak lelaki yang bertanggung jawab terhadap keluarga.
"Terus, soal tembakan tadi itu karena apa, Pah? Kenapa bisa tiba-tiba ada suara tembakan? Apa Papi Wijaya yang ngelakuin itu, dan berniat buruk ke Papa? " Kavita masih belum mendapatkan jawaban soal penembakan yang menjadikan tanda tanya besar di benaknya sejak tadi. Kenapa harus ada tembakan yang menyebabkan adanya satu korban luka parah. Itulah yang membuatnya tak habis fikir. Apa se dendam itukah keluarga mertuanya terhadap keluarganya?
"Soal tembakan itu... bukan, bukan Wijaya pelakunya. Itu hanya salah satu anak buahnya saja. Sebenarnya tembakan itupun bukan bertujuan ingin menembak Papa secara langsung, hanya saja... "
Papa Indrawan mulai mengingat dan mengurai kejadian tadi sejak awal mula besannya itu tiba disana.
Papi Wijaya dan mami Shinta datang secara baik-baik ke rumah yang sebenarnya mereka sendiri juga tak tau itu milik siapa. Kedua paruh baya itu hanya mengikuti mobil milik besan mereka yang memasuki pekarangan rumah itu. Dan benar saja, saat keduanya mengetuk pintu, muncullah dua orang yang sudah beberapa bulan ini berusaha mereka temui. Yakni kedua orang tua Kavita, atau besan mereka sendiri.
Awalnya baik-baik saja dengan kecanggungan yang ada sebab rasa bersalah yang menyelimuti hati kedua orang tua Adrian. Sedangkan kedua orang tua Kavita enggan untuk memulai obrolan apapun dengan besan yang sudah tak mereka anggap tersebut, bahkan mereka sudah tak sudi lagi untuk mengakuinya sebagai besan.
Mama Indri ingin berteriak memaki, "salah paham, katamu?! Kalaian fikir kami bodoh sampai bisa kalian perdaya seperti itu. Dan apa tadi? Adrian kekanakan? Itu bukan kekanakan, tapi kebodohan, kejahatan, kecurangan dan bahkan kemunafikan! " namun itu semua hanya bisa ia suarakan dalam hati saat ia merasakan ada jemari yang menggenggam erat tangannya.
Saat menoleh, ia mendapati sang suami menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan seraya menggeleng pelan. Mau tak mau mama Indri hanya bisa kembali mendaratkan bokongnya uang semula sudah terangkat.
Dengusan kasar terdengar dari mulut mama Indri sebagai pertanda rasa kekesalannya.
Melihat kedua besannya yang hanya diam saja, mami Shinta pun ikut menimpali perkataan suaminya.
"Iya loh, Jeng. Namanya juga dalam rumah tangga, bukankah keributan kecil itu sudah biasa terjadi. Apalagi anak-anak kita kan masih muda, jadi masih sering labil lah ya cara berfikir nya. Jadi, kita sebagai orang tua lah yang harusnya bisa memakluminya dan menasehati mereka, "
Semakin jengkel saja mama Indri mendengar ucapan besan perempuanmu kali ini. Rasanya bukan lagi ingin memaki, ia bahkan ingin mencekik ibu dari Adrian itu saat ini juga. Tapi mengingat saat mengingat cucunya, ia jadi urung sebab tak inginasuk penjara dan tak bisa lagi bermain dengan sang cucu nantinya.
"Lalu? Apa kalian sudah memaklumi Kavita dan menasehati Adrian? " tanya papa Indra dengan nada datar. Benar-benar malas sebenarnya meladeni dua orang di hadapannya itu. Jika tak ingat kalau Wijaya itu adalah sahabat baiknya sejak dulu, tak sudi ia menerima kedatangan mereka disana.
"M-maksudnya, bagaimana ya, Ndra? " tanya papi Wijaya tergagap.
"Bukankah kalian menganggap mereka anak-anak yang masih labil pemikirannya? Berarti kalian bisa memaklumi Kavita yang memilih pergi dari rumah Adrian kan, setelah apa yang anak kalian itu lakukan terhadapnya? " meski belum tau dengan pasti apa yang terjadi pada rumah tangga putrinya, tapi dari semua kejadian yang ia kumpulkan di memori otaknya. Ia merasa yakin jika kesalahan terbesar terletak pada Adrian.
"It-itu... ya, kami pasti memakluminya. Dan kami akan meminta maaf kepada Kavita atas kelakuan buruk Adrian terhadap Kavita selama ini. Kami yakin, Adrian pasti bisa mengubah sikapnya yang kekanakan itu demi putra atau putri mereka, " keringat dingin mengalir di dahi papi Wijaya, ia tak yakin jika sahabatnya itu bisa memaafkan Andrian dan mereka dengan mudah.
"Cih!" papa Indra berdecih, kesabarannya mulai menipis, "putra atau putri mereka? Setelah semua yang terjadi, bagaimana kalian bisa begitu yakin jika anak yang dikandung Kavita masih hidup? Apa kalian sudah mengurusnya dengan baik selama ini? "
"Ja-jadi... apa anak Adrian sudah tak ada lagi? Apa bayi itu jika bisa diselamatkan? "
"Kalian fikir saja sendiri! " sahut mama Indri jengkel.
"Indri... tolong katakan jika semua itu tidak benar! Cucu kita masih hidup 'kan? "
Dorr...
"Tuan besar... !