Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Hah.. Terlambat!


Flashback


Pov Valdi


Sekitar satu tahun yang lalu, aku menghadiri sebuah pesta perusahaan yang besar. Aku yang tak terlalu menyukai pesta pun merasakan jenuh dengan suasana yang begitu-begitu saja. Sampai ada suatu pemandangan indah, dan yang membuatku betah untuk berada disana.


Seorang gadis turun dari mobil mewah dengan penampilan yang sangat modis, gaunnya benar-benar cocok dan melekat sempurna pada tubuhnya yang memang berbentuk sangat indah.


Sayangnya aku hanya bisa memperhatikannya saja tanpa berani menyapanya. Hah... itulah aku yang terlalu pengecut terhadap wanita. Meskipun soal wajah, harusnya aku bisa bersaing dengan laki-laki di luaran sana. Bukannya aku bermaksud sombong nih ya, cuman banyak gitu loh cewek-cewek yang naksir sama aku, cuma aku nggak srek aja sama mereka.


Ewh, lebih tepatnya kebanyakan ibu-ibu malah yang naksir aku. Ya mau gimana lagi, inilah nasibku sebagai seorang dokter kandungan.


Bicara soal bagaimana aku bisa aku menjadi dokter kandungan dan kenapa harus dokter kandungan, itu karena...,


"Bertahanlah, Kak... kita sebentar lagi sampe. Kakak dan bayi Kakak pasti akan selamat, "


"Ssh... sak-kit, Dek, "


Aku yang dulu pernah tinggal dengan kakak sepupuku saat sedang tidak akur dengan Valdo, kembaranku. Saat itu kebetulan dia sedang hamil tua, dan suaminya malah sedang bertugas di luar kota. Jadilah aku yang menjaganya. Di tengah malam tiba-tiba aja kamarku di ketok, rupanya kakak sepupuku itu merasakan kontraksi pada perutnya yang sudah sering katanya.


Dulu aku nggak tau apa-apa soal kontraksi lah apalagi melahirkan. Melihatnya meringis kesakitan saja aku sudah ngilu dan tak tega, tapi mau bagaimana lagi. Hanya ada aku dan beberapa asisten rumah tangga saat itu, jadi akulah yang bertanggung jawab untuk membawanya segera ke rumah sakit. Sebab suaminya baru juga meluncur dari tempatnya bekerja, dan tidak bisa langsung sampai di rumah.


Pyok


Di tengah perjalanan yang diantar oleh supir, samar aku mendengar sesuatu yang pecah di sela suara desisan kakak sepupuku menahan sakitnya kontraksi.


"Ketuban ku udah pecah, Dek, " begitu katanya.


Apalagi ketuban ini, pikirku saat itu. Dan itulah pertama kalinya aku tau istilah-istilah dalam kehamilan, ketuban, kontraksi, dan melahirkan. Pertama kalinya juga aku melihat bagaimana orang yang sedang kesakitan menjelang melahirkan.


Aku jadi teringat bunda yang udah tenang surga, semoga beliau selalu berbahagia disana.


"Pak, lebih cepet, Pak, nyetirnya! " teriakku panik kepada supir.


Sampai di rumah sakit, dokter kandungan nggak ada di tempatnya sama sekali. Rumah sakit macam apa ini, ingin aku memaki, tapi melihat kakakku, aku urungkan dan terus kucoba untuk menenangkannya.


Waktu terus berjalan, dokter yang di tunggu tak kunjung tiba. Sampai satu jam kemudian kakakku merasa sudha tak tahan lagi ingin mengejar dia bilang.


"Mengejan tuh apalagi? " tanyaku yang hanya bisa dalam hati saat itu.


"Euuk... "


"Oh, itu yang namanya mengejan, baru tau aku, " saat aku mendengar instruksi suster.


Jangan tanya kenapa aku bisa ikut masuk ke ruangan persalinan, nanya juga panik, mana tanganku di genggema terus sama kakak sepupuku itu. Oh ya, namanya Kak Gina.


Kenapa suster membiarkan aku ikut menemani Kak Gina? Sepertinya ia mengira aku ini suaminya, makanya tidak melarang anak di bawah umur sepertiku turut menyaksikan perjuangan ibu melahirkan.


Seperempat jam kemudian Kak Gina ingin mengejan lagi, suster itu melarangnya lagi. Sontak saja aku merasa geram, aku maki-makilah dia,


kalau tidak salah aku masih kelas satu SMA saat itu, jadi emosiku masih sangat labil.


Akupun menggeser posisinya yang berdiri tepat di depan se-langkangan Kak Gina, itu pula pertama kalinya aku melihat pemandangan yang tidak biasa, aku dapat melihat kepala keponakanku sudha hampir menyembul disana. Lalu kepanasan suster itu masih melarangnya mengejar hanya karena tidak ada dokter.


"Dasar suster gila, Anda bisa bekerja tidak, sudah jelas-jelas bayinya mau keluar, masih dilarang buat dikeluarin. Biar saya aja! "


Entah darimana keberanianku tiba, aku menyambar sarung tangan yang tergeletak dan memberi intruksi pada Kak Gina.


"Ayo, Kak, lakuin apa yang mau Kakak lakuin tadi. Me..nge..jan... ya, mengejan. Aku tungguin disini dedek bayinya, " ucapku belepotan entahlah, semoga saja Kak Gina tau maksudku.


Benar saja, Kak Gina kembali me ngejan sekuat tenaga, dan...,


Seorang bayi mungil keluar begitu saja di depanku, reflek aku tangkap meski masih takut, karena ini baru pertama kalinya aku memegang bayi baru lahir.


"Tolong, Sus! " bentak ku pada suster yang hanya bengong melihat aksiku.


Kedua suster tadi langsung bertindak, satu memegang bayi, satunya lagi entahlah, aku melihatnya memasukkan tangan ke dalam jalan lahir Kak Gina. Entah apa yang mau dia lakukan.


Aku hanya terpaku pada bayi Kak Gina yang tak kunjung menangis.


"Kenapa bayinya nggak nangis, " batinku.


Aku takut Kak Gina dengar, kasihan dia masih lemah habis berjuang.


Hah... kenapa malah cerita sejarah aku jadi dokter sih. Tapi ya begitulah pengalaman ku, sehingga aku bertekad untuk menjadi dokter kandungan yang baik dan bertanggungjawab. Jadi meskipun aku nggak bisa selalu standby untuk para pasien ku, setidaknya aku punya banyak partner, juga asisten yang bisa selalu siap siaga untuk para ibu hamil yang merupakan pasienku.


"Kavita... "


Ya, aku tau namanya Kavita saat dia menjadi pasien ku tak lama kemudian dari pertemuan itu.


Hah... betapa kecewanya aku, ternyata aku terlambat!