
Vara Valencia, seorang gadis keturunan Inggris-Indonesia. Ibunya yang merupakan orang Inggris, dipersunting oleh sang ayah saat dirinya dulu menjalankan bisnis disana. Lalu wanita itu diboyong ke Indonesia dan menetap di salah satu kota di Indonesia.
Keadaan materi yang mumpuni dengan bisnis yang berkembang pesat membuat sang ayah yang waktu itu masih muda dan senang memacari gadis-gadia bule, lalu ia memutuskan untuk menikahi Agatha Valencia yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta dan menjadi tambatan hatinya.
Dari situlah kecantikan Vara berasal, kulitnya yang putih bersih dengan rambutnya yang berwarna semi pirang seperti bule. Itu semua asli karena keturunan dari sang ibu, bukan di warnai seperti yang sedang trend saat ini.
"Vara ... Cheese, " sang Mommy sangat senang mengabadikan momen-momen pertumbuhan Vara.
Vara kecil hidup berkecukupan, dengan bisnis ayahnya yang seakan tak pernah mati. Meskipun begitu, Vara bukanlah termasuk orang yang sombong sebenarnya. Justru ia merupakan anak yang baik dan penurut, hal itu mewarisi dari sifat ibunya yang memanglah merupakan orang yang baik hati.
"Kita hidup membutuhkan orang lain, kita saling membutuhkan. Jadi kita harus bersikap baik terhadap sesama, mengerti? " ucap mommy Vara dengn logat bulenya yang kental. Itulah nasehat yang selalu ibunya katakan pada Vara, dan tertanam dalam hatinya sepanjang masa.
Berbeda dengan anak dan istrinya, sang ayah yang telah dibutakan oleh harta, memiliki gaya hidup yang serba wah dan selalu berfoya-foya, serta menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting. Maka hal tersebut membuat ayahnya melakukan korupsi saat tau jika sang istri mengidap suatu penyakit.
"Ap-apa, Dok? Kangker rahim? " terkejut lah sang ayah saat dokter memvonis ibu dari Vara mengidap suatu penyakit kronis. Vara yang saat itu baru berusia belia pun tidak diberitahukan apa-apa.
Kedua ora tuanya selalu berusaha menutupinya dari Vara, agar gadis itu tidak merasa sedih dan bisa fokus pada belajarnya.
"Apa ada cara untuk mengobati penyakit istri saya, Dok? Saya akan maljukan apapaun untuk kesembuhannya, masalah biaya bukanlah menjadi soal bagi saya, " ucap ayah Vara kala itu.
Dan Ayah Vara yang memang sangat mencintai istrinya itu terus berupaya untuk kesembuhan dan kesehatan sang istri. Hingga ia menjual satu demi satu aset yang ia miliki, untuk pengobatan istrinya tersebut. Tak jarang ia membawa istri tercintanya ke rumah sakit di luar negri yang katanya fasilitas dan pengobatan disana lebih baik.
"Kemoterapi, obat-obatan medis, tradisional, alternatif sudah kucoba. Apalagi sekarang? " keluh ayah Vara.
Tapi semuanya dirasa percuma saat dokter justru mengatakan bahwa kangkernya semakin menjalar dan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Wanita itu mungkin sempat dinyatakan sembuh dari penyakit mematikan yang dideritanya. Tapi entah darimana lagi datangnya, penyakit itu kembali lagi saat Vara beranjak remaja.
Tapi sang ayah tak mau menyerah dan terus berupaya, hingga ia rela kehilangan semua aset bahkan perusahaan yang dirintisnya sendiri sejak nol. Ia rela kehilangan semua hartanya demi istri yang sangat dicintainya.
Bahkan ia pun rela dikucilkan oleh rekan-rekan dan keluarganya karena mulai bangkrut dan jatuh miskin. Semua orang menertawakannya karena dirinya yang semula membangga-banggakan hartanya tersebut kini musnah sudah.
"Operasi pengangkatan rahim juga sudah kami lakukan, tapi kangker itu masih saja bertumbuh di dalam tubuhnya dan menggerogoti organ dalamnya, " bak tersambar petir di siang bolong, sang ayah hanya bisa bisa terduduk lemas saat dokter mengatakan kemungkinan kesembuhan sang istri hanya tinggal beberapa persen saja.
Mereka pun pindah dan menjalani hidup sederhana, Vara juga ikut pindah ke sekolah lain. Dan disitulah ia bertemu dengan Adrian.
Vara yang menurut Adrian adalah gadis yang baik, pendiam dan cerdas, semua itu terbukti dari prestasi gadis tersebut di sekolahnya hingga mendapatkan beasiswa. Adrian sangat tertarik dan mulai melakukan pendekatan pada Vara.
Perlahan tapi pasti, Adrian San Vara pun menjadi lebih dekat dan menjalin hubungan, mereka juga berkenalan dengan kedua orangtua Masing-masing.
Lalu Adrian pun mengetahui masalah apa yang tengah menimpa keluraga tersebut. Tapi orangtua Vara yang sudah menyerah membuatnya tak bisa melakukan apa-apa, kecuali hanya mendukung dan memberi semangat pada pujaan hatinya saja, Vara.
Dan kelanjutannya kalian sudah tau kan ya.. mereka berdua menikah secara sederhana. Dalam kebahagiaan pernikahan yang baru beberapa waktu, Vara harus kehilangan ibunya yang sudah tak mampu lagi bertarung melawan penyakitnya.
Sedangkan sang ayah yang sangat mencintai ibunya itu merasa sangat kehilangan. Mungkin kehilangan perusahaan dan semua hartanya hingga mendapatkan cemoohan masih bisa ia tahan dengan berpindah tempat tinggal.
"Daddy harus selalu semangat, Daddy jangan kayak gini. Pliss, Daddy.. demi Vara, " tangis Vara kala melihat ayahnya yang hanya mau berdiam diri dan termenung sepanjang waktu usai meninggalnya sang istri.
Stres, depresi, linglung, dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Tak mau makan, tak mau minum, mandi atau melakukan kegiatan apapun selain melamun.
Hingga pada suatu hari...
"Daddy, Vara udah masakin makanan kesukaan Daddy loh. Daddy pasti suka, Daddy makan ya.. biar Vara suapin, " rayu Vara dari luar kamar ayahnya. Gadis itu mengetuk pintu berulang kali kamu gak juga mendapat jawaban.
Setelah menunggu beberapa saat tak juga mendapat sahutan, gadis tersebut membuka pintu yang ternyata tak terkunci. Dan alangkah terkejutnya saat ia mendapati sang ayah dalam keadaan yang mengenaskan.
"Daddy ... " histeris Vara sembari berlari kearah ayahnya.
"Kenapa Daddy bisa jadi seperti ini?" Vara mengangkat kepala ayahnya dan meletakkannya di pangkuannya.
Sang ayah mengejang dengan mulut yang sudah mengeluarkan busa. Matanya melotot serta bibirnya berkomat-kamit seperti ingin berbicara sesuatu. Namun tenggorokannya sudah tercekat dan sudah sulit bagi pria itu untuk sekedar bernafas sekalipun.
"Apa yang sudah Daddy lakukan? Tolong jangan tinggalin Vara, Dad ... " wanita itu sudah menangis sejadi-jadinya dan berteriak meminta pertolongan.
Tapi semua sudah terlambat, sang ayah sudah tidak bisa lagi tertolong. Ayah Vara sudah menghembuskan nafas terakhir nya saat masih dalam perjalanan.
Dokter mengatakan jika sang ayah overdosis obat penenang dan obat tidur. Memang Vara mengakui jika sang ayah sangat terpukul atas meninggalnya sang ibu, tapi ia sama sekali tak menyangka jika ayahnya akan berbuat nekat seperti itu.
Rasa sedih, hampa kehilangan dua orang terkasihnya dalam jangka waktu yang berdekatan membuat Vara sempat depresi. Tapi kehadiran Adrian dalam hidupnya yang selalu memberikannya limpahan cinta dan perhatian mampu membuatnya kembali bersemangat menjalani kehidupannya.
"Aku sangat mencintaimu, Vara. Berjanjilah akan selalu semangat menjalani kehidupan ini, dan aku juga akn berjanji akan selalu ada untukmu, " janji Adrian pada Vara kala itu.
Vara bahkan sampai lupa jika dirinya sudah tak lagi memiliki orangtua sama sekali. Karena Adrian mengajaknya pindah ke rumah baru mereka sepeninggal ayah Vara.
Dan mereka pun memulai kehidupan bahagia mereka berdua. Saling mencintai, menyayangi, mengasihi, memberi semangat, dan saling memperhatikan.
Satu tahun, dua tahun berlalu dengan sangat manis tanpa kedua insan yang selalu dimabuk cinta itu sadari. Hingga pada suatu hari ada yang menyinggung soal anak yang belum juga hadir diantara mereka.
Ya, memang sudah seperti menjadi hukum alam, orang yang menikah akan memiliki keturunan untuk melanjutkan nama mereka, usaha mereka, bisnis mereka bahkan untuk mewarisi segala tentang mereka.
Tapi kenyataan pahit harus mereka terima saat mereka berkonsultasi dengan dokter, dan melakukan serangkaian pemeriksaan kepada dua orang tersebut. Hingga ditemukan sesuatu yang ganjil hingga dokter memvonis Vara dengan suatu penyakit, hingga sangat kecil kemungkinan mereka untuk bisa memiliki keturunan.
"Nyonya Vara mengidap penyakit ... "
Othor udah kasih tau sedikit tentang Vara nih..
Lanjutin Vara lagi apa gantian Vita dulu ya abis ini?
Tinggalkan jejak di kolom komentar, dan tolong yang positif, biar Othor makin semangatđŸ¥°