Akhirnya Aku Memilih Pergi

Akhirnya Aku Memilih Pergi
Yang Penting Lo Aman, Vit!


Valdi dan Kavita yang tengah menikmati sarapan pagi mereka mendengar orang-orang yang saling mengobrol mengenai kedatangan serombongan orang yang berseragam serba hitam disertai dengan beberapa orang polisi. Keduanya mengernyitkan kening saling bertanya, tetapi mereka sama-sama menggelengkan kepala tidak tahu.


Kavita hanya mengangkat kedua bahunya acuh lalu kembali fokus pada semangkuk soto yang masih mengepulkan uap panas di hadapannya. Aroma khas dari soto yang begitu lezat mampu menggugah selera makannya yang memang saat ini tengah kelaparan karena air susunya yang sudah ia pompa tadi untuk diberikan kepada sang anak. Ya, semenjak malam itu Kavita memang semakin sering menyusui bayinya meski tak secara langsung, tetapi yang jelas, bayinya itu tak lagi diberi kan susu formula karena ASI miliknya sudha mencukupi kebutuhan bayi tersebut.


Berbeda dengan Kavita yang merasa cuek dan sudah kembali fokus pada menu hidangan nya, Valdi justru merasa ada sesuatu yang janggal tentang rombongan orang yang datang itu. Karena tak biasanya rumah sakit kecil yang ia teruskan dan ia jalankan semenjak tragedi yang menimpa Kavita itu di datangi oleh orang-orang penting, apalagi sampai sebuah kelompok besar.


Perasaan Valdi mendadak tak nyaman, ia pun mengurungkan acra makan nya dan malah merogoh ponsel di saku jas putih yang dikenakannya. Ia menghubungi rekan nya sesama dokter di rumah sakit tersebut.


"Ya, Di? " tanya seseorang yang Valdi hubungi di seberang sana.


"Kasih info Masseh ... tentang berita yang lagi trending pagi ini dong, " ucap Valdi disertai nada candaan untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya sedang tak tenang.


"Ouch ... soal rombongan serba hitam itu? " tanya temannya lagi memastikan.


"Yap, betul, " shut Valdi dengan cepat.


"Tenang, Bosqyu ... mereka nggak lagi demo kok. Nggak ada kaitannya juga sama rumah sakit, dan tentang perawatan disini, " ucap Ferdi, orang yang sedang di telpon oleh Valdi.


"Oke, itu berita baik. Lalu yang jadi pertanyaannya, mereka itu siapa dan dari mana? " tanya Valdi tak sabaran.


"Jakarta, Bos. Emm ... kayaknya kurang tepat deh kalau disebut mereka, karena sebenarnya dia itu seorang pengusaha atau seorang CEO dari perusahaan apa gitu yang datang kesini buat nge-jemput adiknya yang abis kecelakaan di jalan alternatif beberala waktu lalu terus dirawat di sini aja. Dan yang lainnya itu cuma para pengawalnya. Eh... pengawal apa bodyguard gitu tadi kata orang-orang, " jelas Ferdi panjang lebar.


"Pengusaha atau CEO dari perusahaan di Jakarta?" ulang Valdi.


"Iya, Bossqyu ... emang kenapa, Bos?"


"Kamu tau siapa nama orang itu?"


"Kalo nggak salah nih ya, Bos. Menurut informasi yang saya dapat dari dokter Ilham yang menangani si korban itu namanya Aditya, terus yang dateng buat jemput itu kakaknya, namanya kalo nggak salah-"


"Adrian, " gumam Valdi pelan memotong kalimat dari Ferdi hingga lelaki itu berseru.


"Nah ... bener tuh, itu namanya. Adrian. Iya, namanya tuan Adrian Saputra siapa gitu. Pokoknya kata orang-orang yang tau dia itu pengusaha sukses di kota sana. Maklum, dunia gue cuma di seputar kehamilan, kelahiran dan bayi, jadi gue nggak tau soal pengusaha, perusahaan, dan CEO seperti itu, " ucap Ferdi yang sudah tak lagi terlalu terdengar di telinga Valdi, karena lelaki itu kini tengah mendapat semprotan dari Kavita yang duduk di depannya.


Saat Valdi menggumamkan nama Adrian tadi, meski dengan suara pelan namun masih saja terdengar di telinga Kavita. Sehingga wanita yang sedang asyik menikmati soto yang sudah hampir tandas itu pun tersedak dan menyemburkan makanannya ke atas meja.


"Bisa nggak, lo nggak usah nyebut-nyebut nama lelaki brengs-ek itu hah?! Bikin mood makan gue rusak aja deh, " semprot Kavita dengan nada pelan namun sarat akan ketegasan pada Valdi spontan menutup mata dan menahan nafasnya saat Vita menyemburkan makanan itu ke arahnya.


Untung saja Valdi tak melepaskan kaca matanya, sehingga kedua matanya yang bermanik ke abu-abuan itu tak terkena sembutan kuah soto yang berasal dari mulut Kavita.


"Sabar napa, Vit. Yang namanya kayak gitu banyak, bukan dia doang kali ah! Main sembir-sembur aja. Kek mbah dukun lo, " ucap Valdi pula mengomel seraya mengusap wajahnya yang sedikit basah menggunakan tisu yang tersedia.


Si Mahmud itu kini menyedot minuman jeruk hangatnya setelah merasa lumayan kenyang dengan semangkuk soto yang hanya tinggal beberapa sendok saja. Lalu ia hendak mengelap mulutnya dengan lengan baju rumah sakit yang ia kenakan. Hampir saja lengan itu menyentuh bibirnya yang basah karena baru saja selesai makan dan minum, Valdi sudah lebih dulu menahan lengannya tersebut dan mengusap bibir Vita dengan tisu yang ia pegang tadi.


Sejenak Kavita terdiam dan menatap Valdi, namun hanya sekejab saja karena setelah nya ia langsung marah-marah pada dokter muda itu.


"Valdi ... ! Lo ngusap bibir gue pake tisu bekas buat ngelapin wajah lo tadi ya? " seru Vita pada Valdi yang sudah mulai terkekeh.


Sebenarnya Valdi pun tak menyadari jika ia mengelap mulut Kavita menggunakan tisu bekasnya, tapi ia jadi merasa geli saja dengan hal itu.


"Sory, Vit. Gue nggak sengaja, abisnya gue reflek aja ngliat lo mau ngelap mulut pake lengan baju. Kan lebih jorok lagi tuh. Lagian, gue ngelap muka juga gara-gara kena semprotan soto yang berasal dari mulut lo juga 'kan? Lalu apa masalahnya kalo kembali lagi ke mulut lo itu, " jelas Valdi dengan kedua matanya menatap pada bibir Vita yang berwarna pink alami.


Kavita mendengus, "hish... pinter bener ngeles nya lo, "


Valdi terdiam, kenapa dengan melihat bibir Kavita membuat jantungnya berdebar tak karuan seperti saat ini. Situasi ini benar-benar tak aman baginya. Hingga suara teriakan dari ponsel yang masih berada di dekat telinganya itu mengagetkan dirinya.


"Woy, Bos Valdi! Ente kagak ngedengerin ane daritadi udah nyerocos panjang lebar kali tinggi sama dengan luas? Malah asik-asik pacaran, tau gitu ane matiin telponnya dari tadi. Ketimbang ane dijadiin nyamuk doangan, " protes Ferdi pada Valdi yang hanya kemabli terkekeh.


"Sorry.. sorry, Fer. Ane lupa matiin telponnya, yaudah makasih buat semua infonya ye. Gue matiin nih sekarang, bye, "


Ternyata Valdi lupa jika ia belum mematikan sambungan telponnya dengan Ferdi yang ia tanyai soal rombongan Adrian tadi. Nah, mengingat nama Adrian ada disana. Valdi segera beranjak dari duduknya dan memegang pegangan kursi roda Kavita, tanpa aba-aba lelaki itu membawa Vita pergi dari sana.


Kavita yang masih memegang gelas berisi minum jeruk itu kaget dan merasa kebingungan dengan ulah Valdi yang lagi-lagi abstrak.


"Lo kenapa sih, Di? Mau bawa gue kemana coba?" tanyanya. Kedua tangannya masih memegangi gelas besar tersebut, takut-takut jika gelasnya akan melarikan diri dari genggaman nya.


"Gue mau ajak lo hiling-hiling ... keliling-keliling biar nggak pusing, " jawab Valdi asal. Ia saat ini tengah panik, sehingga yang terfikir kan olehnya hanyalah membawa Kavita menjauh dari laki-laki bernama Adrian yang saat dibenci oleh wanita itu.


Baru saja mendengar nama Adrian, Kavita sudah marah-marah sampai menyemburkan makanan nya, bagaimana jika wanita itu sampai bertemu lagi dengan lelaki itu? Bisa-bisa Kavita mengeluarkan nafas api dari hidungnya untuk menyembur lelaki yang ia cap sebagai laki-laki breng-sek bin jahat tersebut.


"Valdi lo makin nggak jelas ya lama-lama. Ini tuh masih pagi ya, dan gue juga baru aja sarapan. Jangan sampe gue keluarin lagi sarapan gue tadi gara-gara mual lo ajakin keliling, muter-muter, "


"Yang penting lo aman aja, Vit.


🔥🔥🔥


Nah lo ... Kira-kira si Vita bakal ketemu nggak ya sama Adrian disini?


Ditunggu komennya ... 🥰