Terjebak Cinta Pria Egois

Terjebak Cinta Pria Egois
cinta Jessi dua


"ayo, pulang apa masih ada yang kamu butuhkan"ucap Mateo, pada Jessi, yang masih berdiri di depan kasir.


"owh tidak aku, sudah selesai "ucap Jessi,sambil berjalan Jessi, masih melamun sambil membawa sebagian kantong belanjaan nya, hingga sampai ke tempat parkir mobil.


Mateo,sibuk memasukkan, barang belanjaan nya saat ini sementara itu Jessi , masih berdiri memperhatikan, pria yang ada di hadapannya itu.


"siapa sebenarnya dirimu"Gumam Jessi dalam hati.


"Jess, kamu sedang apa"ucap Mateo.


"ah tidak aku sedang menunggu mu "ucap Jessi, sedikit salah tingkah karena ketahuan melamun.


"ayo masuk"ucap Mateo, yang sudah membuka kan pintu untuk Jessi.


"ah iya terimakasih"ucap Jessi,sambil masuk dan langsung memasang sabuk pengaman nya, dia tidak lagi memita Mateo, untuk memasang kan itu.


mereka pun akhirnya , tancap gas untuk pulang ke apartemen nya saat ini, Jessi, hanya terdiam sepanjang perjalanan, dan Mateo, sesekali melirik kearah nya ia bingung ada apa dengan nona muda nya saat ini.


hanya butuh empat puluh lima menit, mereka sudah sampai di apartemen milik Jessi , Jessi pun turun lebih dulu, tanpa menunggu pintu di buka oleh Mateo, dan hal itu membuat Mateo, semakin bertanya-tanya.


Jessi, berdiri di samping mobil, saat ini dia menunggu Mateo, mengeluarkan barang-barang yang mereka beli tadi dan Jessi,membawa beberapa kantong plastik berisi belanjaan itu walaupun Mateo, sudah melarang nya.


mereka berdua pun masuk kedalam lift bersamaan dan masing-masing, memegang barang belanjaan mereka tadi hingga sampai di dalam rumah nya Jessi, saat ini hanya duduk memperhatikan Mateo, yang sibuk , membereskan barang-barang nya tersebut kedalam lemari penyimpanan, dan sebagain Mateo , persiapkan untuk masak makan malam untuk mereka berdua.


"ada yang bisa aku bantu"ucap Jessi.


"kamu bisa mengupas atau memotong sayuran"tanya Mateo.


"biar aku coba"ucap Jessi.


"kalo tidak bisa biar aku saja yang lakukan "ucap Mateo.


"aku harus belajar, bukan kah sebetar lagi aku akan menikah"ucap Jessi.


"heumm, ya semoga saja kelak,suamimu tidak ribet dengan aturan masak-memasak agar kamu, tidak kesulitan"ucap Mateo,sambil tersenyum.


Jessi, langsung terpukau saat melihat Mateo, tersenyum pada nya, Mateo, terlihat lebih tampan saat ini.


"heumm, aku tidak tau"jawab Jessi ,ambigu bagaimana tidak yang mendoakan itu adalah pria yang sangat ingin di nikahi nya.


Mateo, mulai membersihkan sebagian sayuran, dan Jessi,membantu Mateo, tangan Jessi, yang masih kaku dengan potong memotong sayuran akhirnya, dia teriris pisau beruntung tidak terlalu dalam luka nya, walau Jessi, langsung menangis histeris saat melihat darah.


"ya ampun Jessi, kamu terluka"ucap Mateo yang langsung memasukkan telunjuk Jessi , kedalam mulutnya, darah nya dia sedot secara refleks, Jessi yang tadi menjerit dan nangis histeris akhirnya, dia langsung terdiam dan menatap ke arah pria yang kini tengah mengulum jari telunjuk nya.


"tidak apa-apa, jangan takut mari aku bersihkan luka nya"ucap Mateo, yang kini membantu mencuci tangan Jessi di wastafel.


setelah bersih Mateo menuntun Jessi,ke kursi yang ada di depan sana Mateo , langsung mengoleskan salep pada luka nya dan membalut telunjuk Jessi dengan perban kecil khusus, entah Mateo, dapat itu dari mana.


Mateo, selesai membalut luka Jessi, setelah itu ia langsung mengelus puncak kepala Jessi,lalu berkata"jangan takut luka nya hanya luka kecil,besok juga sembuh , kamu duduk manis saja biar aku yang melanjutkan masak nya"ucap Mateo, lembut.


Jessi, semakin, jatuh cinta pada pria yang kini tengah melanjutkan masakan mereka, Mateo membuat salad sayuran dan juga steak daging sapi, juga susu hangat untuk Jessi, Mateo tau Jessi, selalu minum itu setiap kali makan .


setelah selesai Mateo, menghidangkan makanan tersebut di meja makan setelah selesai ia kembali menuntun Jessi , yang masih duduk melamun mungkin karena trauma pikir Mateo, saat ini.


"Jess,ayo kita makan "ucap Mateo lembut.


Jessi, langsung mengikuti langkah Mateo, dan duduk di kursi yang sudah di siapkan untuk nya, Mateo mulai memotong steak nya,lalu ia menyodorkan itu pada Jessi, Mateo tau Jessi pasti kesulitan karena luka di tangan kanan nya itu.


"terimakasih maaf merepotkan"ucap Jessi.


"aku tidak keberatan ko, makan lah setelah itu langsung istirahat, aku masih ada pekerjaan"ucap Mateo.


"heumm, ya'..."ujar Jessi.


mereka pun makan, dengan lahap walaupun tidak ada obrolan saat mereka menyantap makanan tersebut, Jessi langsung meminum susunya, setelah itu dia bangkit dari duduknya, dan hendak membereskan piring bekas dia makan, namun Mateo , langsung menahan nya.


"biar aku saja, kamu istirahat saja"ucap Mateo.


"tapi kamu pasti cape"ucap Jessi.


"tidak apa-apa, itu pekerjaan yang ringan"ucap Mateo santai.


Jessi pun langsung bergegas menuju kamar nya saat itu juga, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena Mateo, melarang nya untuk membantu, Jessi langsung bergegas menuju kamar mandi, saat itu juga dia mandi, dengan tangan nya yang sebelah kanan mengacung ke atas agar tidak terkena air.


Jessi, sedikit kesusahan tapi dia terus berusaha hingga akhirnya proses mandi nya selesai saat ini, Jessi langsung menggunakan bathroob, dan langsung bergegas menuju wal-k in closed untuk berpakaian, setelah itu Jessi memakai skincare nya lalu merebahkan diri di kasur empuk nya.


Jessi masih kepikiran kejadian sore ini dia masih bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya Mateo, kenapa seorang asisten bisa memiliki semu yang di miliki kaum elit.


Jessi, pun tertidur di tengah pikiran nya saat ini yang sedang berkecamuk, karena ini adalah jam tidur nya.


sementara itu Mateo, yang baru saja selesai dengan pekerjaan nya, setelah mandi dia langsung mengecek seluruh pintu dan setelah di nyatakan aman, dia langsung bergegas menuju kamar nya, tapi sebelum masuk kedalam kamar nya,ia membuka pintu kamar Jessi, dengan password yang ia ketahui, dan dilihat nya Jessi, saat ini sudah tertidur tanpa menggunakan selimut padahal Ace di dalam kamar itu sangat dingin, Mateo, pun memberanikan diri untuk menyelimuti tubuh Jessi , saat ini.


"tidur lah yang nyenyak princess, aku tau keinginan mu, dan jika itu adalah takdir kita aku akan benar-benar menjaga mu seumur hidup ku"ucap Mateo,sambil mengelus puncak kepala Jessi, dia pun akhirnya meninggalkan kamar tersebut dan kembali mengunci pintu kamar itu.


sementara itu Mateo,kini langsung membuat kopi, dan duduk di sofa sambil merokok tepat nya di balkon kamar nya.


"hanya tinggal selangkah lagi,misi ini selesai, sudah dua tahun ini aku tidak pulang, ke rumah aku rindu kalian"Gumam Mateo.


πŸŒΉπŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸŒΉ


satu bulan berlalu, hingga saat ini, Mateo, dan Jessi, semakin akrab, bahkan kini Jessi, diam-diam ikut kursus memasak,demi mewujudkan keinginan tersebut, dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya kelak, dan saat itu dia akan memasak untuk mereka berdua dan mungkin juga dengan anak nya.


pagi ini adalah hari yang sibuk bagi Jessi, dia bolak-balik butik dan kantor nya saat ini Jessi, tidak di temani oleh Mateo, dia tau Mateo, saat ini menghadiri acara penting bareng Daddy, nya seperti yang di katakan nya tadi pagi, tapi sebelum pergi bertugas, Mateo, memastikan bahwa Jessi, sampai di tempat kerja dengan aman.


setelah selesai bekerja, Jessi, langsung mengikuti kursus memasak, yang di ambilnya dua jam sebelum ia kembali ke apartemen nya,di sana Mateo, sedang menyiapkan makan untuk mereka berdua, setelah selesai Mateo, langsung mandi dan berganti pakaian ia melihat jam seharusnya Jessi , sudah kembali jam segini tapi tidak biasanya dia belum pulang hingga saat ini.


Mateo, pun mencoba menghubungi Jessi, saat ini, dia begitu khawatir, tidak biasanya Jessi, pulang terlambat.


πŸ“±πŸŽΆπŸŽΆπŸŽΆ


πŸ“±"ya Teo,ada apa??"ucap Jessi yang baru saja mencuci tangan setelah selesai kursus memasak.


πŸ“±"kamu dimana,ini sudah malam dan kamu belum pulang"ucap Mateo.


πŸ“±"aku baru keluar kantor"bohong Jessi.


πŸ“±"apa mau ku jemput"tanya Mateo.


πŸ“±"tidak usah aku langsung pulang kok, kamu makan saja duluan, tidak usah menunggu ku"ucap Jessi.


πŸ“±"aku akan makan setelah kamu pulang"ucap Mateo.


πŸ“±"baiklah, aku pulang sekarang"ucap Jessi.


πŸ“±"hati-hati di jalan"ucap Mateo.


mereka pun mengakhiri panggilan nya masing-masing, dan Jessi, langsung tancap gas menuju apartemen nya saat ini, beruntung tidak ada hambatan apapun di jalan jadi Jessi, cepat sampai di apartemen setelah satu jam mengemudikan mobil nya itu.


saat mendengar pintu terbuka Mateo, buru-buru turun dan berjalan menghampiri Jessi, yang kini berjalan membawa paper bag dan tas nya Mateo, langsung mengambil alih itu.


"sudah jangan ngeyel segera lah mandi setelah itu kita makan"ucap Mateo.


"iya, baik'lah"ucap Jessi.


Mateo, langsung menyimpan paper bag tersebut di meja samping ranjang Jessi lalu dia berjalan keluar dari kamar Jessi.


Jessi langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu dia langsung bergegas menuju wal-k in closed untuk memakai pakaian nya saat itu juga setelah menyisir rambut nya dan memakai skincare, dia langsung turun.


Mateo, sudah menunggu nya,di meja makan saat ini.


"Teo, seharusnya kamu makan terlebih dahulu jangan menunggu ku, kamu pasti sangat lapar ucap Jessi.


"tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin makan sendiri, rasanya sepi"ucap Mateo, jujur.


"hemm.. baik'lah ayo kita makan"ucap Jessi yang langsung mengambil kan makan untuk Mateo, dan memberikan nya pada laki-laki yang kini menatap nya.


"makan lah, anggap saja aku sedang latihan melayani suami ku kelak"ucap Jessi, yang sedikit gugup.


"baiklah terimakasih"ujar Mateo, yang langsung melahap makanan yang di sajikan oleh Jessi.


"heumm, Mateo, boleh aku tanya sesuatu"ucap Jessi.


"jangan bicara saat sedang makan tidak baik"ucap Mateo.


"heum.. baik'lah"ucap Jessi.


mereka pun makan malam di keheningan hanya suara sendok dan piring yang bersahutan, setelah selesai makan Jessi pergi mencuci piring, bekas mereka makan itu sudah menjadi kebiasaan Jessi, yang ingin belajar semua nya saat ini.


setelah selesai makan, mereka pun duduk hanya sekedar menonton televisi, tapi fokus mereka pada ponsel masing-masing, saat ini.


"Teo, boleh aku bertanya sesuatu??"ucap Jessi melanjutkan pertanyaan nya tadi saat hendak makan.


"tanyakan lah"jawab Mateo.


"apa kamu sudah punya istri atau pacar??"ucap Jessi.


"heumm,...soal itu, baik'lah aku jawab sekarang juga, aku belum menikah tapi aku sudah ada calon istri"ucap Mateo, yang langsung merubah ekspresi wajah Jessi, yang terlihat kecewa.


"owh,maaf, kalau aku kelewat batas selama ini"ucap Jessi , yang langsung bangkit berjalan meninggalkan Mateo, yang kini mengerti Jessi ,sangat terlihat kecewa.


"kamu, tidak mengerti Jessi, aku menyukai mu"ucap Mateo lirih, tapi Jessi , tidak mendengar kan hal itu.


Jessi, langsung masuk ke dalam kamar nya, dia menangis sesenggukan saat ini Jessi, benar-benar sakit hati mendengar jawaban Mateo, yang langsung menghancurkan, harapan nya, selama ini Jessi , bahkan bertekad mulai saat ini dia, akan menjaga jarak dengan Mateo.


Jessi, pun tertidur setelah lama menangis, sementara itu Mateo, seperti biasa memastikan Jessi, tidur dengan nyaman dan aman saat ini Mateo, yang hendak memakai kan selimut pada Jessi, dia tidak sengaja melihat bulir air mata di sudut mata Jessi, saat ini, Mateo, merasa bersalah, dengan itu, dia tidak tega melihat Jessi, seperti ini, Mateo menyelimuti tubuh Jessi, dan memberikan kecupan di bibir Jessi, yang tengah terlelap saat ini.


"mimpi indah sayang, maafkan aku, jika tanpa sengaja aku telah melukai hati mu"ucap Mateo, yang langsung berjalan meninggalkan kamar Jessi, dan menutup pintu nya setelah itu dia masuk ke dalam kamar nya, saat ini dia duduk bersandar di kepala ranjang sambil berpikir apa harus dia menyatakan cinta nya pada Jessi, saat ini juga, tapi Mateo,ragu takut Jessi, sudah berubah pikiran tidak seperti dulu saat ia tau Jessi,sangat menginginkan nya.


pagi hari menjelang, Jessi, sudah bersiap dia ingin langsung pergi agar tidak bertemu dengan Mateo, yang menurut Jessi, sudah memiliki calon istri, seperti yang di katakan oleh Mateo, semalam.


Jessi, pergi tanpa pamit saat itu juga, dia bahkan pulang sangat larut meski dari kantor dia pulang Sore, dia mengisi waktu nya dengan kegiatan lain nya, itu yang selama dua Minggu ini dia lakukan, Mateo, bahkan bingung, bagaimana cara nya, menghadapi Jessi, dirinya sangat khawatir dengan kondisi Jessi, yang sering pulang malam bahkan berangkat pagi-pagi tanpa memakan sedikit pun sarapan yang dia sediakan setiap hari setiap malam.


malam ini Jessi pulang jam sebelas malam, dia berpikir mungkin Mateo, sudah tidur saat ini karena lampu apartemen, sudah gelap hanya lampu temaram senja yang menyala di setiap sudut apartemen nya tersebut.


Jessi, melangkah menuju tangga dia hendak pergi ke kamar nya, tapi suara bariton itu mengejutkan nya.


"apa?? kamu lembur setiap hari, sehingga baru kembali di jam segini"tanya Mateo, yang menahan amarahnya, entah kenapa Mateo, merasa sangat kecewa dengan sikap Jessi belakangan ini.


"apa perduli mu, aku pulang jam berapa pun itu hak aku"ucap Jessi.


"owh begiitu ya,heumm kamu benar ,kamu di sini adalah atasan ku"ucap Mateo, yang langsung membuat Jessi,berbalik.


"Mateo, aku tidak pernah bilang seperti itu"ucap Jessi, merasa sangat bersalah.


"kamu tidak usah , menyangkal aku cukup tau diri ko, tapi yang aku ingin tanyakan, apa gunanya aku di sini, jika sudah tidak di butuhkan lagi, aku mengundurkan diri saja"ucap Mateo,sambil berjalan menuju tangga.


"Mateo, aku tidak"ucapan Jessi terhenti saat Mateo, mengangkat tangan nya meminta Jessi untuk tidak bicara lagi.


"Teo, please kamu jangan salah paham, aku lakukan itu demi kamu, agar supaya aku tidak sakit hati karena jatuh cinta pada pria yang sudah memiliki calon istri,agar hubungan kalian tidak terganggu"ucap Jessi,sambil berlari menuju pintu lift,Jessi menangis hingga pintu lift itu tertutup rapat dan Teo, mematung mendengar kata-kata Jessi, ternyata Jessi , masih seperti dulu.


Mateo, segera menyusul Jessi kekamar nya dilihat nya Jessi, tengah telungkup di atas ranjang ia membenamkan wajahnya di bantal yang kini sudah basah dengan air mata nya.


"Jessi, kita harus bicara"ucap Mateo, yang kini mendekat ke samping nya Mateo, berjongkok, di samping ranjang, tangan nya mengelus puncak kepala Jessi.


"Jessi, aku mohon kita harus bicara"ucap Mateo lagi.


"tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, sekarang terserah kamu mau lakukan apa pun, aku tidak punya hak untuk mengatur hidup mu"ucap Jessi.


"Jess, kamu sedang salah paham, apa kamu tau siapa yang aku maksud dengan calon istri ku??"ucap Mateo bertanya.


"aku tidak tau dan tidak ingin tau "ucap Jessi yang kini masih menangis dan membelakangi Mateo.


"Jessi, aku mencintaimu dan aku sangat ingin menjadi kan mu istri ku, istri yang akan menemani ku sepanjang hidup ku, apa kamu dengar itu Jessi"ucap Mateo lantang Jessi yang mendengar itu dia langsung bangkit rasanya tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"apa kamu mau menikah dengan ku Jessi"ulang Mateo,sambil menatap kearah wanita cantik yang kini basah dengan air mata nya.


Jessi, langsung berhambur memeluk Mateo, saat ini dia begitu bahagia begiitu juga Mateo, yang langsung membalas pelukan Jessi saat ini.


"aku mencintaimu Jessi, aku tidak tau itu mulai sejak kapan, tapi yang aku tau aku tidak bisa jauh dari mu, aku tidak kuat saat kamu bersikap dingin dan menghindari ku, aku tidak ingin itu terjadi lagi, aku mencintaimu Jessi, aku ingin kau menikah dengan ku"ucap Mateo,sambil menatap wajah Jessi, saat ini tidak ada jarak di antara mereka, Mateo mendekat kan bibir nya ke bibir Jessi, dan saat itu juga dia ******* bibir seksi itu dengan sangat lembut dan penuh cinta, Jessi pun membalas nya, mereka saling berciuman dengan durasi yang cukup lama hingga Jessi hampir kehabisan nafas.


Mateo, pun mengusap bibir ranum milik Jessi yang basah karena mereka habis bertukar Saliva nya.


"aku mencintaimu Teo, aku sangat mencintaimu, apa kamu tau itu"ucap Jessi.


"ya aku tau itu sayang, maafkan aku, karena butuh waktu lama, untuk mengenali perasaan ini"ucap Mateo.


Jessi pun menggeleng,lalu berkata"tidak ada yang terlambat, aku tau tidak mudah untuk bisa mengenali perasaan itu"ucap Jessi, yang kini membenamkan wajahnya di dada bidang Mateo.


"sayang apa kamu sudah makan??"ucap Mateo bertanya.


"aku tidak selera makan, akhir-akhir ini"ucap Jessi.


"owh ya tuhan, Jessi kamu menyiksa tubuh mu sendiri"ucap Mateo, kaget.


"aku bahkan berharap agar aku secepatnya mati saat itu juga, saat mendengar kamu sudah punya calon istri"ucap Jessi jujur.


"tidak sayang, jangan lakukan itu, aku sangat mencintaimu, dan mulai saat ini aku tidak ingin lagi melihat kamu menyiksa diri"ucap Mateo, yang langsung turun mengambil makanan yang dia buat tadi setelah menghangatkan nya ia bergegas menuju kamar Jessi, dilihat nya wanita itu baru keluar dari kamar mandi, menggunakan bathroob.


"sayang kemari lah, dan cepat habis kan makan malam mu"ucap Teo.


"aku belum pakai baju"ucap Jessi.


"tidak masalah, bukan kah itu juga menutupi tubuh mu"ucap Mateo.


Jessi pun menurut dan duduk di samping Mateo, yang kini hendak menyuapi nya.


"aku ingin makan berdua"ucap Jessi.