
Fero saat ini menyuapi, Siena karena dia memaksa nya untuk makan, saat ini
"sayang buka mulut mu, apa kamu tidak dengar!"
teriak Fero kesal.karena Siena tidak menggubris nya.
"Sien,,, apa kau mendengar ku atau aku akan melakukan hal itu lagi untuk bisa menyadari kesalahan mu sayang"
ucap Fero lantang.
"Aku akan pulang, saat ini juga sudah terlambat menjemput anak-anak di sekolah nya"
ucap Siena sambil berusaha bangkit.
"tetap duduk atau kita melakukan itu lagi heeuh, kesabaran ku ada batas nya apa kamu akan terus menguji nya"
tiba-tiba, saja ponsel Siena berbunyi.
"Halo,,,ya saya sendiri, ada apa ya?"
tanya Siena.
"Anak-anak, anda hilang dari jam istirahat ya .
...ucap Guru pembimbing nya....
"Apa, apa yang anda bicarakan itu tidak mungkin, anak saya tidak mungkin,, hilang, apa ada yang melihat nya menjemput mereka tunggu aku akan segera kesana saat ini juga"
Siena sedang panik dia langsung bergegas mengambil tasnya dan berlari menuju pintu, namun lagi-lagi Fero mencegah nya.
"lepas Fero aku sangat buru-buru kenapa kamu tidak mau mengerti, aku punya tanggung jawab yang harus aku pikul sendiri sampai saat ini, jadi aku tidak mungkin, menikah dengan siapapun mulai dari saat eummm. eummm
"lepas, aku harus segera pulang mencari keberadaan anak-anak ku"
"aku tidak mau kamu mengucapkan kata-kata mu tadi apa pun yang terjadi kamu akan tetap menikah dengan ku titik"
kata Fero
"terserah bagaimana jika nanti lihat waktu yang akan membuktikan"
ucap Siena yang langsung menghempaskan genggam tangan Fero, dan Fero yang mengikuti nya dari belakang saat mau naik lift tiba-tiba istrinya muncul dari dalam lift otomatis, dia berhenti, dan istrinya langsung memeluk Fero di depan Siena .
"Dasar laki-laki pengecut, semua tidak ada yang benar-benar setia".
ucap Siena yang langsung tertutupi pintu lift
sesampainya di sekolah Siena melihat rekaman cctv yang baru saja di buka oleh mereka ternyata Adnan,lah yang menjemput mereka paksa,
"mas Adnan ya ampun apa lagi yang harus aku lakukan, kamu sungguh benar-benar menguji ku, baiklah aku akan kesana"
ucap Siena pun bergegas menuju rumah lama nya karena Adnan, pasti membawanya kerumah yang Siena tempati waktu itu.
"Daniel, Sinan kamu kalian di mana sayang ini Bunda, ayo kita pulang sayang Bunda janji, setelah hari ini kita akan menjauh dari mereka semua"
ucap Siena yang kini sudah berada di tangga rumah Adnan, memang tidak di kunci karena selalu di jaga ketat oleh anak buah nya.
tapi ada keanehan Siena rasakan saat ini rumah nya sepi dan Siena bisa langsung masuk, bahkan Siena masuk ke kamar mereka dulu dan semua nya kosong, Siena sempat melihat sekelebat bayangan dirinya dulu dan Adnan di kamar itu hingga tetesan air mata kembali jatuh,
Siena sadar apa pun yang terjadi dulu kini dia harus sadar bahwa semua itu tidak akan pernah abadi, apa lagi saat itu Siena jadi istri kedua biarpun karena terpaksa tapi Siena harus pergi dan merelakan waktu menghapus semua nya.
"kau datang Sayang, kenapa baru datang di saat aku memaksa mu menggunakan anak-anak, kita agar kau bisa kembali hmm..?"
kata Adnan.
"Dimana, anak-anak ku saat ini aku akan segera mengajak mereka pulang"
ucap Siena tanpa basa-basi.
"Kenapa kau menanyakan mereka, dan ingin membawanya pergi mereka juga anak-anak ku dan satu hal yang pasti saat ini mereka ada di tempat yang aman"
kata Adnan, menegaskan.
"kau tidak punya hak untuk mereka dan kata-kata mu begitu menggelikan, kamu bilang dia anak mu dan kau berhak atas mereka, lalu kemana saja kau selama ini, apa pernah sedikit saja kau perduli pada mereka apa bisa di sebut ayah, seseorang yang bahkan enggan memasukkan mereka kedalam kartu keluarga, apa gunanya ayah saat mereka di hina apa seorang ayah akan membiarkan anak nya menjadi yatim di hadapan dunia, pernah kah kau pikir semua itu?"
kata Sania panjang lebar Adnan, tidak mau ego nya runtuh saat ini juga dia memberikan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh kepada Siena.
"cepat kamu tanda tangan jika kau ingin anak-anak kembali kecuali kalo tidak pilihan ada di kamu dan kamu hanya punya satu pilihan, sayang?"
Adnan, mendekati dan memeluk Siena dari belakang, dan mengendus bau parfum pria, saat itu Adnan langsung membawa Siena ke dalam kamar mandi iya bahkan mengguyur tubuhnya Siena dengan shower.
"Adnan apa yang kamu lakukan, heuhhhhh?"
tanya Siena kini .
"Diam ,,,....."
teriak Adnan yang prustasi karena nya kini "dengar aku melepaskan diri mu bukan untuk menjual tubuh mu ke pria itu, aku melepaskan diri mu karena aku percaya kamu akan tetap setia kepada ku tapi apa yang kudapat, ternyata kamu main gila di belakang ku!!!""""
Adnan yang kini menunjuk-nunjuk Siena dengan amarah dan tangisan nya, yang ia perlihatkan kepada Siena saat ini.
"Aku tidak menjual tubuh ku dan aku tidak seperti mu, yang ingkar janji hiks hiks hiks hiks hiks, kamu boleh sakiti aku tapi tolong jangan mereka mereka, kembali kan mereka kepada ku . aku janji akan pergi jauh dari kehidupan mu dan keluarga tercinta mu aku nggak akan ganggu kalian aku janji akan pergi"
"tidak akan pernah dengar kan aku kau tidak akan pernah menjauh dari ku lagi, aku akan membuat mu kembali memiliki bayi dan saat itu terjadi kau hanya milikku sayang"
ucap Adnan yang langsung membawa Siena kembali ke dalam kamar"
"lepas kan aku, aku bukan jalang yang bisa kamu sentuh semau mu ingat itu"
Siena, menegaskan
Siena beranjak dari kamarnya untuk segara
pergi dari rumah itu namun Siena di tarik paksa oleh Adnan, karena dia tahu Siena bakal pergi jauh setelah ini.
"kalau mau ke mana sayang kamu. tidak bisa pergi tanpa seizin ku?"
ucap Adnan yang langsung melempar, Siena ke atas ranjang.
pinta Siena, yang berontak karena Adnan kini sedang melucuti semua pakaian nya sambil mencium seluruh bagian yang sudah terbuka dengan susah payah Siena melepaskan diri dari Adnan namun ia dapat di kalahkan oleh Adnan, saat Adnan akan melepas bagian bawah Siena seseorang datang memukul nya dari belakang, orang itu ternyata Fero yang saat itu mengikuti.
🌹💖💖💖🌹
Siena, yang saat ini menangis meratapi nasibnya, di dalam kamar, nya saat ini sang ayah yang mencoba menenangkan nya.
"Siena,,, sayang Ayah.ayah mohon jangan menangis lagi anak-anak pasti aman saat ini di suatu tempat, jadi kamu sebaiknya berdoa semoga mereka selalu baik-baik saja sudah ya biar ayah sekarang yang menemui keluarga Sanjaya. semoga mereka tau Adnan membawa mereka ke mana"
ucap sang ayah, Fero yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tamu setelah mengantar kan Siena kini ia sedang berfikir keras, untuk mencari informasi masih mengenai Daniel dan Sinan.
sementara itu Jimi yang kini mendatangi kediaman keluarga Sanjaya iya di sambut oleh Adnan yang langsung mencium tangan sang mertua.
"Ayah, selamat datang ada apa Ayah, kemari tidak biasanya?"
ucap Adnan, berpura-pura tidak tahu.
"Dimana kedua cucuku kau sembunyikan saat ini?"
ucap Jimi tanpa basa-basi.
"Owh anak-anak "
ucap Adnan terpotong.
"siapa yang datang Nak kamu buka pintu lama sekali sih?"
ucap Ibu Adnan.saat itu dia langsung melotot melihat kedatangan Jimi.
"untuk apa kau datang kemari, apa untuk meminta uang, buat anak cucumu yang sialan itu belum puasa kau menguras harta kami"
ucap Inez pada Jimi.
"heuhhhhh, jaga ucapan mu jangan sampai kau mati berdiri jika suatu hari kau tahu siapa aku dan putri ku, kau seorang wanita seharusnya tutur sapa mu di jaga jika kau pikir kami selama ini miskin kau jelas salah besar bahkan jika aku mau saat ini juga perusahaan,milik suamimu bisa bangkrut seketika, tapi saya aku tidak se licik dirimu, aku masih punya hati nurani , dan ingat jangan pernah ganggu lagi anak dan cucu ku jika kau tidak mau jatuh miskin, sekarang kamu kembali kan cucu ku atau nanti kau akan menyesal saat kesabaran ku habis"
ucap Jimi yang kini mengeluarkan taring nya, intinya jangan melihat orang dari tampilan nya, seberapa banyak pun kekayaan yang mereka miliki, tetap tidak akan bisa menandingi kekayaan,milik Jimi ya Jimi memang tidak setenar keluarga Sanjaya, karena dia bekerja di balik layar.
"Ayah, anak-anak ada di dalam mereka sedang bermain dengan kakek nya"
jawab Adnan, yang merasa tidak enak hati dengan ucapan sang mertua tadi.
"Apa yang kau bilang Adnan, siapa yang kau sebut,cucu pria tua ini, apa Sinan dan Daniel yang kau bilang, anak teman mu itu heuhhhhh ?"
tanya ines kaget.
"kau bahkan tidak bisa mengenali keturunan mu sendiri, saking angkuhnya diri mu"
Jimi masuk kedalam rumah dan saat itu Inez berusaha mencegah nya .
"Sinan Daniel, kakek datang untuk menjemput kalian kemari lah"
ucap Jimi lantang dan tiba-tiba saja mereka berlari an ke arah Jimi yang kini menunggu di ruang tamu.
"kakek," ucap Sinan dan Daniel kompak ,
mereka kini memeluk Jimi, dan Jimi langsung membawa pulang mereka Adan hanya mampu menatap punggung mereka.
"sesampainya di rumah mereka berdua langsung menemui sang ibu yang kini di peluk oleh Fero, karena terlalu banyak menangis jadi Fero menenangkan nya.
"Bunda, Daddy "
ucap mereka kompak, dan Siena pun langsung melepaskan pelukan Fero dan kini dia langsung memeluk kedua anak nya sambil menangis, kalian kemana saja Bunda mencari kalian ke mana-mana jangan sembarang pergi lagi, Bunda khawatir, terjadi apa-apa dengan kalian.
ucap Siena dan kini mereka pun di peluk oleh Fero,
"sayang nya Daddy coba kalian cerita dari mana saja kalian seharian ini?" tanya Fero pada Sinan dan Daniel. sementara itu Jimi langsung meninggalkan mereka sambil tersenyum.
"sayang, sebaiknya kamu istirahat,biar aku yang mengurus mereka nanti" ucap Fero pada Sien.
"Tidak sebaiknya kamu pulang saja, istri mu pasti sedang menunggu mu saat ini"
jawab Siena, Daniel dan Sinan langsung pergi meninggalkan mereka di kamarnya, dan kini tinggal Fero dan Siena.
"sayang eummm eummm ahhh" Aku pulang dulu ya besok aku kesini lagi untuk melamar mu" ucap Fero setelah mencium bibir Siena.
"Sebaiknya tidak usah Fero, aku tidak mau, merusak kebahagiaan mu dengan istri mu dan lagi kenapa kau harus memaksa kan kehendak mu, aku punya anak yang harus aku perhatikan,tumbuh kembang nya, dan aku tidak mau ada gangguan di masa depan nya nanti"
kata Siena.
"hey sayang dengar kan aku tidak akan ada gangguan, kita akan selalu bahagia membimbing anak-anak kita nanti bersama-sama dan Sinan juga Daniel tidak akan kekurangan kasih sayang aku janji pada mu"
ucap Fero
"aku minta waktu Fero,"
ucap Siena.
"tidak sayang aku tidak bisa menunggu lagi , pokonya besok aku akan datang kemari titik sudah dulu ya sayang, aku pergi dulu muachh"
Fero pun pergi.
Siena, saat ini terlalu banyak pikiran hingga kini dia tertidur saking lelahnya,
Jimi, yang kini tengah membantu kedua cucunya belajar,
Siena, berencana pergi ke Paris bersama dengan, dengan seluruh keluarga nya.siena sudah tidak ingin lagi bertemu dengan semua orang di masa lalu nya.
Siena yang sudah bangun pagi kini dia sudah menyiapkan surat-surat penting dan kini ia sibuk, mengurus butik dan dan semua nya iya urus agar bisa, secepatnya berangkat iya bahkan berhari-hari menghindari Fero, kini Siena tengah pergi ke Bali mengurus butik dan semua aset yang ada di sana karena ingin menetap siapa yang akan mengurus butik dan semua aset yang ada di sana.siena pun pergi ke pantai sejenak untuk melepaskan rasa lelah nya, iya memandangi ombak yang beriringan saat ini tak terasa air mata nya menetes, dan kini dia tengah duduk termenung di pantai, tiba-tiba bunyi ponsel membuyarkan lamunan nya, Siena kini sedang bicara serius dengan seseorang, yang ada di sebrang telpon
"Aku tidak menghindar tapi aku benar-benar sedang sibuk dan saat ini pun aku baru bisa rehat, tolong kamu mengerti Fero aku tidak punya asisten dan kini semua aku urus sendiri."
"Aku bingung harus menjelaskan apa lagi terserah kamu saja sekarang aku cape"
Siena melemparkan ponselnya ke atas tempat duduk nya kini ia menangis, Fero kini tengah memaksakan Siena harus menemui nya di ibukota dan Siena tidak bisa memenuhi nya iya tidak mungkin kembali saat ini juga rencananya Siena dan keluarga akan berangkat ke Paris, dari Bali agar tidak ada yang tau Siena kini tengah menunggu kedatangan Jimi dan kedua anak nya, dan mereka pun sudah muncul di hadapan Siena kini .