
setelah kembali dari kamar mandi, Arthurro, terlihat sudah fresh, entah apa yang di lakukan nya di sana dia langsung berganti pakaian saat itu juga setelah mengeringkan rambut nya dia memakai pakaian santai, saat ini .
"sayang aku laper"ucap Arthurro manja.
"baiklah aku buatkan makan malam untuk mu "ucap Terry, sambil berjalan menuju pintu keluar kamar, hendak turun ke bawah.
"sayang aku hanya ingin di temani makan, kamu belum boleh beraktivitas dulu saat ini kamu baru saja melahirkan"ucap Arthurro.
"baiklah Ar... aku terserah kamu saja"ucap Terry.
"sayang boleh aku minta sesuatu?? dari mu mulai saat ini"ucap Arthurro lagi.
"apa??"jawab Terry.
"mulai saat ini tolong panggil aku sayang atau yang lainnya aku tidak ingin kamu memanggil nama saja"ucap Arthurro.
"aku belum terbiasa, lalu aku harus panggil kamu apa??"ucap Terry.
"apa saja, tapi jangan panggil aku dengan nama, kamu adalah istri ku, dan sudah selayaknya, mengganti panggilan mu mulai sekarang apalagi kita sudah memiliki mereka berdua, bagaimana kalau mereka mendengar mommy nya, memanggil nama ayah nya "ucap Arthurro, memberikan pengertian.
"baiklah mulai sekarang aku panggil Daddy, saja "kata Terry.
"itu jauh lebih baik apa lagi kalau di tambah dengan sayang di belakang nya"ucap Arthurro,sambil tersenyum.
"owh ya ampun itu namanya modus, Arthurro , boleh untuk selamanya kita tinggal di sini saja, aku tidak ingin terus-terusan berpindah-pindah "ucap Terry.
"Daddy, sayang atau suamiku "ucap Arthurro.
"iya suamiku, boleh tidak??" tanya Terry, lagi.
"aku pikirkan lagi nanti,ayo temani aku makan sekarang juga"ucap Arthurro,sambil merangkul pinggang istrinya itu, dengan sayang.
"baiklah Daddy"ujar Terry,sambil tersenyum, dan Arthurro, pun mencium bibir Terry, sekilas.
"kamu nakal Daddy"ucap Terry,sambil mencubit perut suspek suaminya itu.
"tidak masalah nakalin istri sendiri"ucap Arthurro.
Terry, hanya membalas dengan senyuman,sambil terus berjalan menuju meja makan bersama dengan Arthurro, dan di sana juga sudah ada, Sinan dan juga Kenan.
"kalian, juga gabung mommy,kira kalian tidak lapar karena sedang melepas rindu"canda Sinan.
sementara itu Kenan, hanya tersenyum, dia tidak pernah melihat istrinya bersikap seperti itu.
"mommy,kami juga punya perut kali"ucap Arthurro.
sementara Terry, tersenyum kecil, karena malu ternyata mertua nya, adalah orang yang cukup hangat, tidak semenakutkan yang di bayangkan.
mereka pun makan dengan lahap nya, saat itu dengan obrolan,hangat tapi tidak lama seorang pelayan memberitahu bahwa putranya menangis saat ini, Terry, langsung bergegas menuju kamar nya, Arthurro, sedikit kaget karena istrinya, berjalan begitu cepat melewati anak tangga.
"sayang ha.."ucapan Arthurro, terpotong saat melihat istrinya tiba-tiba terjatuh dan lutut nya membentur anak tangga.
"AW..."pekik Terry, semua orang melihat kearah nya, sementara Arthurro, langsung berlari dan mengangkat tubuh istrinya dan berteriak cepat panggil dokter, Arthurro ,membawa istrinya ala bridal style, dan Terry, yang kaget langsung mengalungkan tangannya di leher Arthurro.
"sakit, Daddy"ucap nya lirih.
"sayang kenapa terlalu buru-buru,itu sangat berbahaya, dan lagi di sini ada lift, jadi tidak perlu menaiki tangga ingat kamu belum pulih benar"ucap Arthurro, yang kini sudah tiba di depan pintu kamar, dan langsung masuk, dan benar saja anak mereka sedang menangis dua-duanya, sementara, Sinan, dan Kenan yang menyusul mereka langsung mengambil alih, kedua cucunya itu, dan Kenan, meminta pelayan untuk membuat susu formula, saat itu juga.
"Daddy,biar Terry,beri mereka asi saja"ucap Terry, yang kini baru duduk di tepi ranjang setelah Arthurro,membantu nya untuk duduk.
"sudah sayang, nanti saja , kamu harus di obati dulu seperti nya kamu terluka"ucap Sinan.
Terry, pun melihat ke bagian lutut nya, yang kini tengah di bersihkan oleh Arthurro, darah nya bercucuran, luka nya, sedikit dalam, mungkin terbentur ujung anak tangga.
"sakit Daddy"ucap Terry,sambil berurai air mata.
"tahan sayang,ini darah nya harus segera di hentikan,mana sih dokter nya lama banget"ucap Arthurro, yang panik melihat istrinya kesakitan.
"mungkin masih di jalan sayang sabar dulu ya ucap Sinan,sambil memberi cucunya satu botol susu formula.
"iya, Daddy, aku masih kuat ko"ucap Terry,sambil terus mengusap air mata nya.
Terry, mungkin merasa kesakitan, tapi yang membuat dia menangis bukan luka tersebut melainkan perhatian, suami dan kedua mertua nya itu, Terry,baru merasakan kehangatan sebuah keluarga, saat ini setelah hampir sepuluh tahun lebih keluarga mereka pergi dari dunia ini.
"sayang, jangan menangis lagi ya, aku tidak tahan melihat nya"ucap Arthurro,sambil memeluk erat istrinya itu.
"Daddy, aku menangis bukan karena luka ini tapi aku terharu, dengan kasih sayang kalian semua, aku teringat almarhum keluarga ku"ucap Terry, sambil membalas pelukan suaminya, Terry membenamkan wajahnya di dada bidang Arthurro.
"aku janji sayang mulai saat ini, kamu akan selalu bahagia bersama kami"ucap Arthurro.
"terimakasih Daddy"ucap Terry, tidak lama dokter pun datang dan langsung mengobati luka Terry, dan memeriksa kondisi Terry, takut, sesuatu terjadi pada Terry,secara Terry, baru saja melahirkan.
sementara itu kedua bayi itu kini tertidur di pangkuan Sinan dan Kenan, Terry, pun merasa sangat bangga dengan kedua paruh baya tersebut, mereka begitu perhatian, dan terlebih pada Kenan, dia seperti sangat berpengalaman mengurus bayi, dan itu adalah kelebihan yang dimiliki oleh Kenan,dulu dia sering membantu Sinan merawat ke empat putra-putri nya.
kini, mereka pun secara bersamaan meletakkan cucunya itu di atas ranjang khusus bayi, yang di sediakan oleh mereka sebelum nya.
"Arthurro, sebaiknya kalian istirahat , mommy dan Daddy akan kembali ke kamar kami, jika putra kalian menangis lagi kalian hubungi mommy, saja"ucap Sinan, yang takut anak menantu nya kerepotan.
"tidak usah mommy, mommy istirahat saja biar Arthurro, yang jaga mereka berdua"ucap Arthurro.
"baiklah sayang"ucap mereka,sambil berjalan meninggalkan kamar mereka.
setelah kepergian kedua orang tua nya dari kamar mereka Arthurro pun, langsung membantu istrinya merebahkan diri di kasur, dan menyelimuti tubuh Terry perlahan, Arthurro, takut menyakiti Terry, walaupun luka nya sudah di balut perban.
"tidur lah sayang, aku akan menjaga putra kita "ucap Arthurro.
"mereka sudah kenyang Daddy, dan mereka akan tidur dengan nyenyak, seperti biasanya, semenjak mereka lahir"ucap Terry.
"sayang, aku tau itu, mungkin kalian bertiga sudah menganggap ku egois dan sangat jahat karena tidak bisa menemani kalian,di saat-saat terberat dalam proses kehamilan mu dan saat mereka lahir mereka sudah berusaha mandiri, karena mengerti mommy, nya hanya sendiri, aku benar-benar suami dan Daddy, yang jahat maaf kan aku istri ku, maafkan Daddy , sayang Daddy,sangat mencintai kalian bertiga tapi saat itu Daddy, tidak bisa melindungi kalian bertiga"ucap Arthurro,sambil berlinang air mata.
"sayang, aku tidak pernah menyalahkan mu,atas semua yang terjadi mungkin sudah takdir kita harus melewati semua itu, sebelum akhirnya bisa kembali berkumpul"ucap Terry, Sambil, memeluk suaminya itu yang terlihat begitu menyesal saat ini.
🌹💖💖💖🌹
hari-hari berlalu mereka melewati semua dengan kebahagiaan, tepat nya mereka berempat yang kini memilih tinggal di Singapura, sementara itu Sinan, dan Kenan, sudah kembali ke Paris, dan satu lagi anak Arthurro, yang pertama tepat nya putri nya,kini di asuh oleh Sinan, karena, Sharena selalu sibuk dengan dunia nya, Sharena , hingga saat ini belum bercerai dengan Arthurro, hanya saja dia lebih memilih menghabiskan hidupnya dengan cara berpoya-poya , dengan Genk sosialita nya.
Arthurro, tidak ingin ambil pusing bagi nya, sekarang prioritas utama nya adalah ketiga anaknya dan Terry, satu-satunya cinta di hidup nya.
sementara Arthurro,kini sedang berbahagia,lain halnya dengan Jessica, yang kini tengah terluka , bagaimana tidak, Ferdinand, yang ngotot menikahi nya diam-diam, saat ini tengah sibuk dengan istri tua nya shanty, yang tengah hamil anak kedua mereka, Jessica, yang sudah terlanjur cinta dengan Ferdinand, dan terlanjur menikah saat ini dia hanya bisa pasrah, dan menunggu keajaiban.
"sayang, kamu masih belum tidur"ucap Ferdinand, yang baru saja kembali dari kantor, saat ini tanpa sepengetahuan orang tua nya Jessica, tinggal di Bali, bersama mereka, walau pun berpisah rumah.
"tidurlah sayang,besok aku akan mengajak mu ke Jakarta ke tempat kak, Daniel.
"Ferdinand, boleh aku minta sesuatu"ucap Jessica, lirih.
"apa itu sayang"ucap nya lagi.
"kita bercerai saja, saat ini karena kurasa"ucapan Jessica terhenti saat itu juga karena Ferdinand, membungkam bibir Jessica dengan ciuman kasar.
"jangan minta hal itu , aku tidak akan pernah mengabulkan nya"ucap Ferdinand.
"jangan egois, Ferdinand, setidaknya pikirkan, perasaan ku sedikit saja, aku tidak bisa hamil dan kurasa pernikahan ini percuma saja"ucap Jessica,sambil berurai air mata.
"sayang, jangan berkecil hati, aku tidak begitu menginginkan anak dari mu, kita bisa merawat anak kita dari shanty"ucap Ferdinand.
"kamu ,memang tidak menginginkan nya karena kalian sudah cukup bahagia,lalu apa gunanya, aku berada di sisi mu, sedari dulu aku sudah mengalah untuk kebahagiaan mu, tapi apa kamu egois, dan sekarang aku dapat apa hanya rasa sakit ini"ucap Jessica,sambil pergi membawa tasnya, entah kemana dia akan pergi.
Ferdinand, sudah berusaha mencegah nya, tapi Jessica, sedang sangat emosi, saat ini Ferdinand, membiarkan Jessica, pergi untuk menenangkan pikiran nya, tapi Ferdinand salah Jessica, pergi menemui shanty saat itu dan berlutut,di hadapan shanty, agar bisa membantu nya lepas dari derita yang di rasakan oleh nya selama ini.
namun bukan nya, mendapatkan bantuan tapi shanty malah mencemooh nya, sebagai perebut suami orang, dan apa yang di alami Jessica saat ini adalah bagian dari karma nya, shanty bahkan mengutuk Jessica, tidak akan pernah bahagia, selama mereka bersama.
kini Jessica, pergi dari kediaman shanty, saat ia hendak keluar, gerbang Ferdinand, yang baru datang langsung menghampiri nya dan bertanya.
"untuk apa kamu datang kemari Jess"ucap Ferdinand, kaget' yang kini melihat istri muda nya itu bercucuran air mata, Jessica , benar-benar hancur saat ini, dia berusaha menghindari, Ferdinand, namun Ferdinand, langsung memeluk nya erat, dia tidak ingin melepaskan Jessica, saat ini dia tau Jessica sedang sangat terluka.
"lepas Ferdinand, aku sudah tidak ingin seperti ini lagi, mulai saat ini kita bercerai saja, aku akan segera kembali ke Paris malam ini juga"ucap Jessica, Namun Ferdinand, tidak melepaskan Jessica, dia malah membawa Jessica, pergi dari rumah tersebut menuju rumah almarhum ibunya Siena, yang lama.
sesampainya di rumah tersebut, Ferdinand langsung membawa Jessica, yang memberontak terhadapnya saat ini.
"Ferdinand, aku tidak ingin di sini, aku mau pulang ke Paris"ucap Jessica.
"tidak Jessica, sampai kapan pun kamu tidak akan aku biarkan pergi jauh dari ku, aku sangat mencintaimu dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu"ucap Ferdinand.
"cinta, macam apa yang rela membagi hati dengan wanita lain, kamu itu egois, untuk apa kamu menikah dengan ku, jika kamu masih sangat mencintai nya"ucap Jessica,kini berteriak di hadapan Ferdinand, Jessica , benar-benar rapuh bahkan kini dia pingsan.
Ferdinand langsung membawa Jessica, kedalam rumah tersebut, dan pelayan pun datang menyambut mereka, rumah yang hanya di huni oleh lima orang pelayan tersebut, saat ini kelihatan sepi.
"tolong, ambilkan minyak angin dan antar ke dalam kamar"ucap Ferdinand.
"baik tuan"jawab bsang pelayan.
Ferdinand pun langsung membawa Jessica kedalam kamar utama, saat itu dia langsung membaringkan tubuh Jessica,di atas ranjang empuk nya.
Ferdinand, melepaskan sepatu dan tas milik istrinya itu, saat ini dia langsung menyelimuti nya setelah pelayan, datang memberikan minyak angin aromatherapy dan satu nampan berisi air minum, Ferdinand langsung mengoles minyak angin tersebut, dan tidak berapa lama Jessica, tersadar tapi dia hanya diam membisu.
"sayang minum lah dulu kamu pasti harus"ucap Ferdinand.
"aku tidak ingin minum air kecuali jika di campur dengan racun"ucap Jessica, yang langsung membuat Ferdinand, emosi, dia langsung melempar gelas tersebut ke dinding, dan Jessica, pun terdiam kini air mata nya luruh , dia langsung membelakangi Ferdinand, yang kini menatap nya tajam.
"Jessica, apa sebegitu benci nya kamu padaku, heuhhhhh, ...hingga kamu tidak ingin hidup bersama dengan ku"ucap Ferdinand pelan tapi penuh penekanan.
"jawab!!!"""teriak Ferdinand, yang kini di bakar emosi karena sakit hati , kenapa Jessica tidak pernah mau bersabar menunggu nya untuk menceraikan shanty.
"kamu tau jawabannya, dan aku tidak perlu lagi menjawab nya"ucap Jessica , lirih masih di iringi tangis nya.
"kamu ingin anak bukan, baiklah-baik, kita akan mewujudkan nya"ucap Ferdinand, yang langsung melempar selimut tebal tersebut ke sembarang arah dia langsung membalikkan badan Jessica , saat itu juga, dan mengungkung nya,namun Jessica, berontak dia tidak ingin melakukan itu di saat Ferdinand, sedang di bakar emosi.
"lepas Ferdinand, aku tidak ingin seperti ini"ucap Jessica, yang tidak di gubris oleh Ferdinand, dia, terus memaksa kan kehendak nya, begitu saja, Jessica , hanya bisa menangis pasrah saat ini.
setelah selesai melakukan penyatuan Ferdinand,kini merebahkan diri di samping Jessica, yang masih menangis sesenggukan.
"kamu jahat Ferdinand, bukan ini yang aku inginkan,hiks hiks hiks"ucap Jessica lirih.
"sayang, aku harus bagaimana lagi agar kamu tetap bertahan selama nya di sisiku"ucap Ferdinand,sambil memiringkan tubuhnya menghadap Jessica, yang kini sudah kembali di balut selimut.
"aku tidak bisa terus bersama dengan mu, jika kita tidak memiliki anak, dan itu akan mempermudah Daddy, untuk memisahkan kita"ucap Jessica.
"tapi kita,saling mencintai, dan akan seperti ini, anak bukan lah alasan utama"ucap Ferdinand.
"kamu mungkin, bisa berkata seperti itu karena kalian sudah memiliki buah cinta kalian, tapi aku "ucapan Jessica, lagi-lagi terhenti,rasa sakit yang di rasakan nya kini membuat dadanya terasa sesak.
Jessica .... memukul-mukul dada nya, dan Ferdinand , langsung memegangi tangan nya"jangan lakukan itu , sekarang tenangkan hati mu, dan ambil nafas teratur jangan sakiti diri sendiri dengan pikiran konyol mu itu, aku mungkin belum bisa bercerita rahasia yang selama dua tahun ini aku simpan rapat-rapat tapi percayalah sayang, hanya kamu wanita yang ada di hati ku, aku tidak pernah bohong, aku rela kehilangan nyawa ku demi kamu"ucap Ferdinand, sambil mencium bibir Jessica, dengan lembut dan lama kelamaan ciuman itu memanas hingga, pergulatan panas pun terjadi untuk yang kedua kalinya.
setelah selesai di jam dua pagi dini hari, mereka pun tertidur pulas saling berpelukan, dan Jessica, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
hubungan Jessica, sebenarnya bukan tidak di ketahui oleh Kenan, hanya saja Kenan, tidak ingin merusak kebahagiaan putri nya itu, dia merelakan Jessica, menikah dengan Paman nya sendiri walaupun itu sedikit bertentangan, tapi Ferdinand, dan Sinan berbeda ayah jadi bisa di katakan Ferdinand, adalah paman tiri Jessica.
ke esokan pagi nya Jessica, bangun dan langsung memberikan diri lalu membuat sarapan pagi untuk mereka berdua, setelah itu dia membawa sarapan itu kedalam kamar utama yang dimana saat ini Ferdinand, masih tertidur pulas.
"sayang bangun, sudah siang kamu tidak masuk kantor"ujar Jessica,sambil mengelus bahu suaminya itu.
"bentar lagi sayang, masih ngantuk"ucap Ferdinand.
"tapi aku sudah buat kan kamu sarapan"ucap Jessica.
"sebentar saja, hanya lima menit, kemarilah temani aku bobo lagi"ucap Ferdinand, yang langsung menarik tangan Jessica, dan langsung mendekap erat Jessica.
"sayang kamu keringetan madi gih"ucap Jessica.
"sebentar saja sayang, biarkan seperti ini dulu"ucap Ferdinand, dan Jessica, pun mengalah dia masih dalam dekapan suaminya itu.
hampir sepuluh menit, dan akhirnya Jessica, membangunkan, Ferdinand, paksa.
"sayang,kalau kamu tidak mau bangun aku ngambek nih"ucap Jessica,sambil berusaha melepaskan pelukan nya Ferdinand.
namun bukan nya lepas Ferdinand,malah semakin mempererat pelukannya.
"morning kiss Hanny"ucap Ferdinand.
Jessica pun langsung mencium bibir Ferdinand, namun dengan cepat Ferdinand, menahan tengkuk Jessica, hingga ciuman itu tidak terelakkan lagi, Jessica,dibuat merona di pagi ini.
"ayo bangun, setelah itu kita pulang"ucap Jessica.
"kita tidak akan pulang di sini juga rumah kita sayang"ucap Ferdinand.
"bagaimana dengan Shan"ucapan Jessica terhenti, saat Ferdinand menempel kan jari telunjuk nya di bibir Jessica.
"aku katakan sekali lagi, jangan sakiti hati mu lagi dengan membahas hal yang tidak penting, dan aku tidak ingin melihat mu meneteskan air mata lagi mulai detik ini hanya akan ada senyuman"tegas Ferdinand.