Terjebak Cinta Pria Egois

Terjebak Cinta Pria Egois
Sakit hati


akhirnya, mereka pun kembali ke Paris kecuali Fero dan Siena juga Sherly, mereka masih tinggal di Bali.


hanya Ferdinand yang kini ikut ke sana untuk menjenguk Jessica.


sesampainya di Mension milik Kenan, mereka pun akhirnya langsung menemui Jessica, yang kini masih di rumah sakit dia mengalami peradangan dan demam tinggi akibat kelelahan dan telat makan.


Sinan yang melihat putri nya terbaring lemah dia langsung memeluk nya, dan menangis dia adalah ibu yang paling cengeng setiap kali anaknya sakit, karena kasih sayang yang begitu besar, mungkin itu yang selalu di rasakan setiap ibu di dunia.


mereka pun bergantian masuk untuk melihat keadaan Jessica saat ini, termasuk Ferdinand, yang diam-diam sangat khawatir dengan kondisi Jessica.


Jessica, langsung memalingkan wajahnya ke arah lain saat melihat Ferdinand, mendekat ke arah nya.


Ferdinand, pun duduk, di samping nya, dia tidak ingin menyerah begitu saja, pada sikap Jessica,biar bagaimanapun perasaan nya lebih besar dari kebencian Jessica , saat ini dan penyebab nya adalah karena Ferdinand, memperlakukan shanty, layaknya dia, saat di Bali,ada kecemburuan yang tersimpan rapat di hati Jessica, dan saat itu dia berjanji akan melupakan Ferdinand, tapi orang itu kini ada di hadapannya, dan mereka pasti akan selalu bertemu karena mereka adalah keluarga.


"Hanny, aku minta maaf"ujar Ferdinand,sambil menggenggam tangan Jessica.


namun Jessica, enggan menjawab bahkan wajahnya masih berpaling ke arah lain.


"Jessica, aku tau kamu benci aku tapi, siapa yang mulai masalah nya, aku sudah bilang, kita akan segera menikah dengan cara apapun, aku akan mendapatkan mu, tapi kamu sendiri yang menolak dan pergi dari ku saat itu"ujar Ferdinand.


tiba-tiba, Jessica menoleh,lalu berkata"jangan pernah membahas tentang semua kebohongan mu lagi, aku cape mendengar nya, pulang lah jangan ganggu aku lagi aku mau istirahat"ucap Jessica.


"sayang, kamu ngusir aku, gak nyesel kalau aku beneran menikah dengan nya??"ujar Ferdinand lagi.


"heuhhhhh... nyesel,memang nya kamu siapa aku , kita hanya keponakan dan paman, kita tidak punya hubungan lain selain itu"ujar Jessica, sambil berbalik memunggungi Ferdinand,air mata nya meleleh, tanpa izin.


"owh begitu ya ok , baiklah-baik, aku akan segera menikah, semoga kamu tidak akan pernah menyesali kata-kata mu itu"ujar Ferdinand sambil mengepalkan tangannya dia begitu,marah dengan sikap Jessica.


"pergilah memang itulah keinginan mu, untuk apa kamu datang jauh-jauh, hanya untuk mengabari kalau sudah akan menikah kenapa tidak telpon saja atau langsung menikah mereka semua sudah ada di sana bukan"ujar Jessica, saat Ferdinand, hendak pergi Ferdinand, tidak ingin melupakan amarah nya di sana takut melukai Jessica.


Ferdinand, berbalik arah dia kembali menemui Jessica, dan membalikkan badannya menghadap ke arah nya, aku tau kamu sedang berpura-pura tidak perduli lagi dengan ku, aku tau kamu menutupi perasaan mu, baik'lah jika itu yang kamu inginkan, segera lah sembuh dan aku ingin kau sendiri yang mempersiapkan keperluan pesta nya, aku akan menikah di negara ini.


"aku tidak mau"ujar Jessica.


"kenapa?? coba beri aku alasan"ujar Ferdinand tidak kalah sengit.


"aku bukan ahlinya, kamu bisa minta mommy, atau yang lainnya, yang pasti bukan aku"ujar Jessica.


"ya, bukan kamu karena kamu tidak rela aku menikah dengan orang lain"ujar Ferdinand.


"terserah, kamu aku tidak ingin mendengar apapun lagi, keluar lah aku mau istirahat "ujar Jessica yang kembali memunggungi Ferdinand.


"kita harus bicara, Jessica, jangan seperti ini"ucap Ferdinand, yang kini membalikkan tubuh Jessica, sedikit kasar untuk menghadap nya.


"sakit tau...apa sih mau mu"ujar Jessica.


tiba-tiba, Ferdinand , mencium bibir Jessica dengan sangat rakus dia begitu kecewa dengan sikap Jessica saat ini, Jessica memukul-mukul dadanya Ferdinand, dia tidak ingin Ferdinand, meruntuhkan pertahanan hati nya, saat ini.


"lepas, aku bilang jangan pernah lakukan itu lagi"ujar Jessica.


"kenapa, apa karena kamu tidak mencintai ku, atau karena kamu tidak mau aku menikah"ujar Ferdinand.


"Ferdinand, aku benci kamu"ucap Jessica.


"terserah kamu mau bilang apa yang pasti aku tau hati dan perkataan mu, sangat bertolak belakang"ujar Ferdinand, yang menatap tajam kearah Jessica.


saat itu Arthur, masuk dia melihat adegan Ferdinand, yang tengah menatap tajam kearah adiknya itu.


"ada, apa ini???"ujar Arthur.


"aku mencintai nya, dan ingin menikah dengan nya, tapi adikmu itu selalu menutupi perasaan nya"Arthur dan Jessica,begitu kaget saat ini Arthur, tidak pernah menyangka bahwa Ferdinand, mencintai adiknya, yang tak lain adalah keponakan nya sendiri, dan adik perempuan Arthur.


"apa paman tidak salah, apa paman sadar dia itu keponakan mu"ujar Arthur.


"aku tidak perduli, yang aku tau sejak dulu aku sangat mencintai nya"ujar Arthur.


"kita harus bicara"ujar Sinan, yang tiba-tiba masuk,di ikuti Jessi dan Kenan sementara' itu Arthurro, sedang sibuk mengobrol di telepon.


"Ferdinand, apa ??yang tadi kamu katakan itu benar"ujar Sinan.


"tidak momm... Ferdinand, ngelantur "jawab Jessica.


"Jessica, mommy, bicara dengan Ferdinand, bukan dengan mu"ucap Sinan.


"semua yang kakak,dengar itu benar, aku mencintai Jessica, sejak dulu"ucap Ferdinand.


"tidak momm.. dia bohong"ucap Jessica lagi.


"Jessica,kalau orang tua bicara itu diam jangan mencela"ujar Kenan datar .


"tapi Daddy"ucapan nya terhenti saat Kenan mengangkat tangan dia tidak ingin Jessica membantah.


"terserah kalian, tolong keluarlah, aku ingin istirahat"ujar Jessica.


"Jessica, mommy harus mendengar semua penjelasan dari kalian berdua"ujar Sinan,tegas.


"tapi momm"ucap Jessica , terhenti"dia sudah akan menikah dengan shanty, dan tadi dia minta aku mengurus segala keperluan pesta baiklah-baik, aku sendiri yang akan mengurus nya"ucap Jessica.


"Ferdinand, jika itu yang kamu inginkan, saat ini sebaiknya kamu telpon Daddy dan mommy agar segera kembali ke sini, tapi tunggu Jessica sembuh setelah itu kamu bisa menikah dengan shanty"ucap Sinan.


"bukan shanty, yang aku mau tapi dia"ujar Ferdinand, tegas dan menunjuk ke arah Jessica, semua orang bengong dan Ferdinand yang kecewa kini langsung pergi dari ruangan itu.


dia pulang ke Mension, milik mommy nya yang sudah lama tidak di datangi nya, Ferdinand di sambut oleh pelayan rumah besar tersebut, rumah nya masih sangat terawat, dan masih seperti yang dulu.


Ferdinand, berjalan gontai menuju kamar nya, saat ini dia begitu prustasi, dan meminta pelayan membawakan minuman untuk nya dan pelayan pun datang dengan membawa sebotol wine dan satu buah gelas di atas nampan.


🌹💖💖💖🌹


Ferdinand, menghabiskan minuman nya, hingga tandas, dia begitu kecewa dengan sikap Jessica saat ini, kenapa jelas-jelas Jessica,sama mencintai nya tapi dia selalu menutupi perasaan nya.


lain Ferdinand lain juga Jessica, yang saat ini mendapat kan ceramah dari ayah dan ibu nya, dia begitu merasa sangat kebingungan harus berkata jujur atau bohong tentang perasaan nya terhadap Ferdinand, tapi Jessica, memilih berbohong demi kebaikan,biar bagaimanapun semua, tidak akan pernah baik-baik saja jika dia mengakui perasaan nya terhadap Ferdinand, pada kedua orang tua nya.


"momm... Jessica hanya ingin melihat pernikahan Om , Ferdinand, sebelum Jessica pergi ke Jerman, Jessica sudah putuskan untuk tinggal bersama dengan omah di sana"ucap Jessica.


Kenan pun menyetujui keinginan Jessica, karena itu adalah permintaan kedua orang tua nya, yang sangat menginginkan cucunya, untuk Tinggal bersama nya.


akhirnya setelah Jessica,di nyatakan sehat oleh dokter dan di izinkan untuk pulang, Jessica pun langsung di bawa pulang oleh keluarga nya saat itu juga.


pernikahan Ferdinand pun,di gelar saat itu juga di Paris, seperti perkataan Jessica, dia membantu menyiapkan pesta, Ferdinand bersikap sangat dingin pada Jessica, karena dia begitu marah dengan cinta nya itu saat ini.


sampai acara pernikahan pun selesai, Jessica saat ini sedang bersiap untuk pergi dan masih membereskan barang-barang nya, Ferdinand datang ke kamar nya, dia langsung memeluk Jessica dan mencium bibir nya dengan sangat lembut, walaupun Jessica, berusaha untuk menolaknya, namun Ferdinand tidak melepaskan ciuman itu,malah semakin panas, Ferdinand, mencium bibir dan lehernya Jessica, dan meninggalkan bekas kemerahan di area itu.


"lepas, Ferdinand, kamu sudah punya istri, dan kita tidak punya hubungan apa pun, ingat itu"ujar Jessica.


"persetan dengan semua itu, aku hanya mencintai dan kamu tau itu"Ferdinand melanjutkan aktivitas nya saat ini Jessica pun mendorong nya, untuk menjauh.


"kenapa Jessica, kenapa kamu lakukan ini, kamu menyiksa diri sendiri, kita saling mencintai"ucap Ferdinand, penuh penekanan.


"stop, Ferdinand cukup, jangan katakan itu lagi keluar lah, istri mu sudah menunggu mu sedari tadi"ucap Jessica.


"istri... istri bisa tidak saat ini kamu jangan bahas itu, aku muak dengan semua kepura-puraan mu aku tau kamu mencintai ku dan itu hingga saat ini"ujar Ferdinand,sambil berurai air mata"aku benci ini semua Jessica, aku benci kamu tau itu, baiklah-baik mulai detik ini, aku akan tunjukkan apa itu,suami istri, dan saat penyesalan mu itu datang jangan harap aku akan melihat kearah mu lagi"ucap Ferdinand, yang berbalik badan, dan melangkah pergi.


"buktikan lah, aku tunggu sampai hari itu tiba"ucap Jessica.


Ferdinand pun berbalik dia mencium bibir Jessica dengan kasar dia mendorong tubuh Jessica ke atas ranjang, Ferdinand, langsung menyerang bibir Jessica , dengan sangat kasar, hingga terdapat luka Gigitan, karena Jessica menolak itu.


saat Ferdinand, hendak membuka kancing baju Jessica, tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu dan itu ternyata adalah shanty, yang mengetahui keberadaan nya dari pelayan Mension tersebut.


"mas, kamu di dalam"ucap shanty, dan Jessica pun langsung mendorong Ferdinand, dia langsung bangkit dan merapikan diri nya, sementara Ferdinand, masih setia berbaring di atas ranjang dengan santai nya, entah apa maunya, Jessica pun membuka pintu, dan menyuruh shanty , masuk.


"mas, kamu sedang apa??"ujar shanty yang heran sementara Jessica, melanjutkan memasukkan barang nya yang akan ia bawa.


"sayang, aku sedang melihat dia bersiap sebentar lagi dia akan ke Jerman, untuk selamanya tinggal di sana, kemarilah peluk aku"ucap Ferdinand, tanpa ragu langsung menarik shanty,ke atas ranjang, dan langsung mencumbu bibir nya dengan sangat lembut.


Jessica,tau Ferdinand, sengaja melakukan itu, walau rasanya sakit dia tidak ingin menujukan itu, saat itu juga Jessica , masuk kedalam kamar mandi, dia menyalakan shower, dan mengguyur tubuhnya yang terasa sangat,panas dan rasanya gumpalan daging yang bernama hati itu terasa perih, namun dia tetap berusaha menahan tangisnya.


hingga saat ia keluar menggunakan bathroob,di lihat nya Ferdinand, tengah mengungkung istrinya itu di atas sofa, Ferdinand masih asik bercumbu.


"mau sampai kapan kalian di kamar ku, apa ?di rumah ini tidak ada kamar lain"ucap Jessica yang kini berjalan menuju wal-k in closed.


"ahhh... sayang aku lupa jika kita berada di kamar orang lain, saat ini habis nya kamu itu begitu memabukkan, sebaiknya kita pindah kamar dan melanjutkan malam pertama kita di sana"ujar Ferdinand, sangat lantang.


Jessica, hanya diam tanpa melakukan apapun dia bersandar di dinding samping lemari pakaian nya.


air mata nya lolos begitu saja saat ini tapi dia langsung mengusap wajah nya dengan keras, saat itu juga dia langsung mengenakan pakaian, dan berdandan seakan tidak terjadi apa-apa, saat ini dia langsung bergegas membawa koper milik nya dan menggunakan lift, turun ke lantai bawah,disana Kenan, dan Sinan tengah menunggu nya untuk makan malam, tapi Jessica menolak dia langsung berpamitan pada kedua orang tua nya dan ketiga kakak dan adik nya itu.


"sayang,ayo makan dulu,toh penerbangan nya masih dua jam lagi"ujar Kenan.


"Tidak, Daddy aku harus segera berangkat, sekalian aku ada perlu mau mampir ke studio sebentar ada barang yang ketinggalan di sana"ujar Jessica.


"Baiklah"ujar keduanya kompak.


"Jess, jaga diri baik-baik nanti kalau kakak,ada waktu kakak jenguk kamu di sana ingat jangan lupa bakar lebih giat"ujar Arthur, sementara yang lain hanya memeluk nya secara bergantian.


ada sepasang mata, yang kini menatap tajam kearah nya, Jessica,tau itu tapi dia berusaha untuk tidak menggubris nya, Ferdinand berdiri di ambang pintu, dia mengepalkan tangannya, saat ini rasanya ingin sekali dia berjalan kearah Jessica, dan membawanya pergi ke dalam kamar nya, untuk mengurung nya, agar dia tidak pergi, tapi semua itu hanya keinginan nya sedari, tidak pernah bisa terlaksana.


"Jessica, apa aku begitu tidak berharga di mata mu, sehingga kamu tega melakukan ini padaku"gumam Ferdinand, lirih.


Jessica pun berjalan menuju mobilnya, saat ini dia langsung bergegas masuk ke dalam mobil nya dan menghidupkan mesin nya.


ponsel nya langsung berbunyi notifikasi pesan masuk dari Ferdinand.


"kembali atau kau akan melihat kematian ku"Ferdinand.


Jessica hanya bisa menghela nafas saat ini dia langsung melakukan mobilnya.


sementara itu Ferdinand, langsung pamit, hendak menyusul Jessica , tapi dia beralasan akan mengambil barang yang tertinggal di hotel tadi siang.


Ferdinand, buru-buru masuk ke dalam mobilnya, dan tancap gas dengan kecepatan penuh, dia berhasil menyusul Jessica,di jalan yang sepi dia langsung menikung mobil Jessica, dan hampir saja, terjadi tabrakan jika Jessica, tidak langsung mengerem mobil mereka sedikit lagi bersentuhan.


Ferdinand, turun dari mobil dan meminta Jessica, membuka pintu mobil nya, saat itu juga.


"turun"ujar Ferdinand.


"apa mau mu"ujar Jessica, yang masih berada dalam mobil nya.


"turun atau aku ledakan mobil mu saat ini juga"ancam Ferdinand, dia menjadi lebih beringas, saat ini, Ferdinand hilang kesabaran.


"aku tidak mau terserah kamu mau lakukan apa, aku tidak perduli, dan satu lagi mulai saat ini"ucapan Jessica terhenti, saat Ferdinand, menodongkan senjata api di kepalanya sendiri.


"kau memilih ini bukan"ucap Ferdinand.


Jessica yang kaget pun langsung bergegas keluar dari mobilnya.


"jangan lakukan hal bodoh Ferdinand, semua itu tidak akan merubah keadaan, kamu harus pikirkan, kondisi keluarga jika kau berbuat nekad,omah dan yang lain nya pasti akan sangat kehilangan mu"ujar Jessica yang kini mendekat ke arah Ferdinand, mencoba merebut pistol tersebut.


"perduli apa dengan mereka, aku hanya berharap kau saja yang memperdulikan ku tapi sepertinya aku salah kau bahkan tidak pernah sedikitpun peduli pada ku"ujar Ferdinand, yang hendak menarik pelatuk.


"jangan bodoh Ferdinand, please buang pistolnya dan jangan lakukan ini"ujar Jessica, yang mau tidak mau dia harus mengesampingkan egonya.


Jessica, memeluk, Ferdinand, saat ini dengan sangat erat"aku mohon jangan lakukan itu, aku perduli pada mu, aku sangat mencintaimu"ujar Jessica.


"berjanjilah, kau tidak akan pernah pergi dari ku lagi, dan berjanji lah kau akan menikah dengan ku, hanya dengan ku,kalau tidak aku akan bunuh diri saat ini juga"ujar Ferdinand.


"baiklah,baik tapi izinkan aku untuk pergi saat ini aku tidak ingin Daddy, kecewa"ujar Jessica.


"ikut aku sekarang juga, aku yang akan mengantarkan mu kesana"ujar Ferdinand, sebelum nya dia membetulkan posisi mobil nya,mau tidak mau Jessica pun mengalah dan menunggu di mobilnya.


Jessica, hanya bisa pasrah dengan keinginan Ferdinand, saat ini dia tidak ingin melihat nya bunuh diri, dan itu akan menimbulkan penyesalan seumur hidup nya.


Ferdinand pun, masuk ke dalam mobil Jessica, dia langsung tancap gas, saat itu juga dia membawa nya, kesebuah villa, yang pernah Ferdinand kunjungi bersama dengan Fero, saat dia kecil, villa itu milik Fero.


"mau kemana, kita aku sudah harus berangkat"ujar Jessica yang kebingungan.


"ikutlah aku janji hanya sebentar"ujar Ferdinand .


mereka pun masuk dan langsung menuju ruangan yang tampak seperti kamar di ruang terbuka, Ferdinand langsung memeluk, Jessica dari belakang, dia mencium leher Jessica, yang begitu halus, Jessica, berusaha menahan gejolak yang di timbulkan dari perbuatan Ferdinand.


"jangan, lakukan itu aku mohon"ucap Jessica lirih.


"kenapa sayang, aku tau kamu juga punya rasa yang sama bukan??"ujar Ferdinand,sambil menatap wajah Jessica, dengan tatapan sayu.