
"apa kamu, sudah tidak perduli lagi pada ku heuhhhh"ucap Arthurro, yang langsung mendekat ke arah Terry, memberikan tatapan tajam penuh amarah, saat ini karena, Terry , mengusir nya.
"bukan, aku yang tidak perduli, tapi kamu yang sangat kekanak-kanakan, aku sudah jelaskan, aku bukan cewek, matre aku hanya ingin bekerja selagi aku, bisa belum berkeluarga"ujar Terry.
"kalau begitu,ayo kita menikah"ujar Arthurro.
"Arthurro, kita itu bagaikan bumi dan langit, sampai kapan pun tidak akan pernah bisa bersatu, kamu bisa mencari wanita lain, yang sederajat dengan mu, kapan pun kamu mau"ujar Terry,sambil menunduk sedih.
"aku tidak ingin yang lain, yang aku inginkan hanya kamu"ucap Arthurro, tegas.
"Arthur... aku mohon pikirkan lagi, kamu mungkin, saat ini menginginkan ku, karena, kamu baru pertama kali jatuh cinta, tapi setelah melihat indahnya dunia,di luar sana kamu tidak akan segera tersadar, bahwa masih banyak yang lebih baik segala nya dari ku"ujar Terry lirih sambil berjalan menuju kamar nya.
"Terry, berhenti kita harus bicara"ujar Arthurro.
"pergilah ini sudah malam, kamu pasti sibuk bekerja,atau kencan dengan wanita cantik tadi"ujar Terry, yang meneruskan langkah nya.
Arthurro, tidak hanya diam, dia langsung mengejar Terry.
"Terry, aku bilang berhenti, apa kamu tidak dengar"ujar Arthurro, lantang.
"Arthurro, aku ngantuk tolong kamu mengerti, sekarang terserah kamu mau putus atau apapun itu, yang pasti aku sudah lelah"ujar Terry,sambil berurai air mata, dan memalingkan wajahnya.
Arthurro, mendekat dan memeluk Terry, dari belakang, dia pun menghentikan langkahnya.
"apa lagi, Arthurro, kamu sudah punya wanita lain, jadi aku mohon, jangan seperti ini"ujar Terry , lembut sambil berusaha melepaskan pelukan Arthurro, tapi pelukan itu semakin erat.
Terry, pun menangis dalam diam, dia tidak ingin Arthur tau kalau dirinya sedang menangis, tapi itu hanya berlaku beberapa detik sebelum, Arthurro, membalikkan badannya.
"kenapa, harus seperti ini heummm, aku tidak ingin melihat mu seperti ini"ujar Arthurro, yang langsung mengecup bibir Terry.
Arthurro, mengusap air mata Terry, saat ini dia langsung membawanya dalam dekapan.
"aku tidak akan pernah meninggalkan mu, apa pun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu aku harap kamu bisa pahami itu"ujar Arthurro.
mereka pun, langsung bergegas menuju lantai bawah, karena Arthurro , bilang dia sangat lapar saat ini, Terry, pun membuat nasi goreng daging, seperti waktu itu.
Arthurro, duduk di depan meja dia hanya melihat punggung, wanita yang sangat di cintai nya saat ini dia menghela nafas, sesaat Arthurro, masih ingin memberi uang untuk kebutuhan Terry, dia ingin Terry, istirahat di rumah sampai mereka menikah nanti.
"hanya ada nasi goreng, saat ini aku belum belanja karena, aku hanya sendirian di rumah jadi aku santai saja"ujar nya sambil duduk tanpa menatap wajah Arthurro, yang ia tahu sedari tadi menatap wajah terus-menerus.
"ambillah, ini besok kamu belanja aku ingin kamu stok, kebutuhan dapur agar saat aku kemari kapan pun, aku bisa makan enak"ujar Arthurro, menyodorkan black cards nya.
"Arthurro, aku masih ada uang, baiklah,besok aku belanja seperti yang kamu mau tapi simpan lah ini aku tidak membutuhkan nya saat ini"ujar Terry.
"buang, saja jika kamu tidak ingin menerima nya, lagian aku tidak akan mengambilnya lagi"ujar Arthurro, yang kini hendak meninggalkan meja makan.
Terry, langsung bertanya"Arthurro, mau kemana"ujar Terry,heran karena nasinya belum di cicipi sedikit pun.
"aku tidak ingin makan gratis, karena semua itu di beli dengan uang"ujar Arthurro, melangkah pergi, tapi Terry, menghentikan langkahnya.
"baiklah-baik, aku akan belanja pakai kartumu besok"ujar Terry, Arthurro pun berbalik.
"apa kamu serius"ujar Arthurro.
"serius"ucap Terry, yang kini tersenyum sedikit di paksakan.
"baiklah, sayang aku suka itu, aku tidak mau kamu menolak lagi"ujar Arthurro.
"iya,"jawab Terry, singkat.
Arthurro, pun melahap,nasi goreng buatan Terry saat ini, dia menghabiskan nya, dengan sangat lahap, entah lapar atau,memang benar-benar lezat, tapi Terry, hanya bersikap biasa saja.
setelah selesai makan , Terry, pun langsung bergegas mencuci bekas makan Arthurro.
setelah itu dia bertanya, apa dia akan pulang saat ini atau tinggal tapi Arthurro, memilih tinggal, dia tidak ingin membiarkan Terry, sendirian saat ini.
"ambillah kunci gerbang nya, dan masukkan mobilnya"ujar Terry,sambil memberikan kunci gembok pagar nya tersebut.
Arthurro, pun mengambilnya lalu keluar dan membuka pagar, saat itu juga, dan membawa, mobilnya masuk, saat itu juga.
setelah kembali mengunci pagar, dia langsung mengunci pintu rumah Terry, dan duduk di sofa melihat Terry, yang sedari tadi hanya diam.
"sayang, istirahat lah, kamu pasti sudah sangat lelah"ujar Arthurro.
"kamu, juga,di sana kamar tamu, kamu tenang saja, semua nya bersih ko biarpun sudah sangat lama tidak ada yang menempati"ujar Terry.
"baiklah ", jawab Arthurro.
Terry, pun berjalan menaiki tangga, saat ini dia begitu lelah belum lagi dia begitu bingung bagaimana cara nya,agar Arthurro,mau meninggalkan nya, dia tidak ingin menjadi beban bagi Arthurro, kedepan nya.
Arthurro, memandang, punggung wanita itu dengan tatapan,penuh tanda tanya saat ini, dia tau Terry, sedang banyak pikiran.
Arthurro, pun pergi ke kamar yang tadi di tunjukkan oleh Terry,benar saja kamar itu bersih dan rapi,di sana juga ada Ace, nya dan masih terawat dengan baik, mungkin untuk itulah Terry, bekerja keras, dia tidak ingin, rumah nya kehilangan satu barang pun, karena seperti nya rumah ini punya banyak kenangan untuk nya, Arthurro, akan membantu nya,mau tidak mau dia harus mau terima
ke esokan pagi nya,di rumah Terry, sudah ada beberapa orang yang datang ada tiga pelayan dan dua orang satpam, yang akan mengurus rumah itu mulai saat ini, Terry, yang mengetahui itu dia langsung protes.
"Arthurro, apa-apa an ini, aku tidak mau tau tolong suruh mereka pergi sekarang juga, aku tidak mau ada yang menggangu ketenangan rumah ini"ujar Terry, marah.
kelima nya, tidak bergeming, karena mereka adalah orang-orang, suruhan Arthurro.
"sayang, dengar kan aku dulu, aku melakukan ini karena aku tidak ingin kamu bekerja keras lagi, untuk semua hal dan satpam,ini akan menjaga keamanan rumah ini seperti dulu, mereka punya pos nya sendiri sayang kalau tidak di pakai"ujar Arthurro, mencari alasan.
"Arthurro, aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar mereka, sebaiknya kamu suruh mereka kerja di rumah megah mu itu, aku tidak butuh semuanya, aku masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah ini sendirian"ucap Terry, yang dengan kekeuh nya menolak.
🌹💖💖💖🌹
setelah berdebat, selama satu jam, akhirnya Terry, mengalah dia tidak bisa melawan keinginan Arthurro, saat ini.
"sekarang kita pergi berbelanja untuk keperluan rumah"ujar Arthurro.
"aku pergi sendiri saja,kamu akan berangkat bekerja bukan"ujar Terry, lagi mencoba mencegah Arthurro, untuk ikut, karena dia tidak ingin menggunakan kartu pemberian Arthurro.
"aku bisa masuk kapan saja, lagian aku bos nya"ujar Arthurro,cuek.
"owh,ya ampun bagaimana cara nya, membuat dia tetap pergi"gumam Terry, dalam hati.
"aku ada keperluan mendadak, jadi belanja nya, nanti saja ok"ujar terry,sambil pergi ke luar pintu, tapi tangan nya di cekal Arthurro.
"aku yang akan mengantarkan mu pergi"ujar Arthurro.
"Arthurro.... please, saat ini saja biarkan aku sendiri"ujar Terry.
Arthurro, pun mengalah dan Terry, pun langsung bergegas pergi menuju luar gerbang di sana sudah ada tukang ojek, dan langsung berangkat, saat ini dia langsung pergi menuju pasar tradisional, dia akan berbelanja banyak saat ini, dan tidak ingin Arthurro,tau.
beberapa jam kemudian, Terry, kembali dengan menggunakan taksi, dan begitu banyak belanjaan, Terry, saat ini ketiga pelayan itu pun langsung membantu mengangkut belanjaan nya, saat itu, Arthurro,baru kembali dari kantor, dia hanya datang untuk mengecek keadaan di sana, dan langsung kembali ke rumah Terry.
"kau sudah belanja, sangat banyak, tapi kau tidak menggunakan kartu pemberian ku, kenapa heuhh"ujar Arthurro sedikit lantang.
"aku, sudah menggunakan nya ko"ujar Terry, sedikit ketakutan.
"jangan bohong Terry, apa kamu pikir aku bodoh, tidak ada laporan sama sekali,di ponsel ku"ujar Arthurro.
"aku belum selesai bicara baik'lah, jika ini yang kamu mau, mulai sekarang"ucapan Arthurro, langsung terpotong.
"putus,itu kan yang kamu inginkan"ujar Terry,sambil menatap kearah Arthurro.
"kamu salah Terry, mulai sekarang, aku tidak mengizinkan mu untuk pergi sendiri dan berbelanja sendiri, aku yang akan menemani mu berbelanja"ujar Arthurro.
Terry, tidak menjawab, dia langsung pergi dari hadapan Arthurro.
"sayang,kali ini aku memaafkan mu, tapi lain kali tidak"ujar Arthurro,sambil mengusap wajah nya kasar.
entah dengan cara apa, Arthurro, harus membuat nya menerima pemberian nya.
Arthurro, pun berganti pakaian, dengan pakaian santai yang di bawakan oleh asisten rumah nya saat ini, dia sudah terlihat segar, dan kelihatan lebih tampan.
Arthurro, melihat Terry, yang kini tengah bersiap untuk pergi lagi, dia menahan amarahnya saat ini, entah kenapa semejak, bertemu dengan Terry, dia lebih sensitif mungkin karena dia sangat mencintai Nya Terry, entah lah
"sayang, kamu mau kemana lagi"ujar Arthurro.
"aku mau buka toko, karena siang ini akan ada yang mengirim, pesan ku"ujar Terry.
"kamu tega, meninggalkan, tunangan mu ini kelaparan"ujar Arthurro.
"owh,ya ampun Arthurro, aku sangat buru-buru, jika kamu laper,ada mereka untuk masakkin kamu, dan lagian jika ada mereka bukan kah aku tidak boleh mengerjakan apa pun"ucapan Terry, begitu menohok, Arthurro, telah salah langkah, dan saat itu juga mereka di minta kembali ke Mension milik Daddy, nya itu.
mereka pun langsung bergegas pergi, dia tidak ingin melihat tuan mudanya marah.
"mereka sudah aku usir, jadi sekarang kamu sudah bisa memasak lagi untuk ku"ujar Arthurro, Terry, hanya bisa pasrah dan langsung menuju dapur,di ikuti oleh Arthurro.
Terry, pun mulai membersihkan sayuran dan ikan, saat itu juga,lalu sambil menanak nasi dia juga membuat telur dadar pakai keju, dan sedikit bubuk cengkeh, untuk aroma, dia membuat semur ikan mas, dan dan sayur asem.
setelah selesai dia langsung, menghidangkan nya di meja makan, Arthurro, pun tersenyum, dia sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan Terry, saat ini juga.
"silahkan makan, aku akan segera berangkat, mereka pasti sudah menunggu ku"ucap Terry,sambil berjalan membawa tas selempang nya.
"aku tidak akan makan jika kamu pergi"ucap Arthurro, yang entah kenapa manja nya kebangetan.
"owh ya ampun Arthurro, kamu sudah dewasa, tidak mungkin kamu tidak mengerti ucap ku, please,kali ini saja bantu aku"ujar Terry.
"aku tidak ingin makan,selera makan ku hilang jika kamu tidak di sini bersama dengan ku"ujar Arthurro.
Terry, pun melempar tas nya ke sofa, dia langsung duduk di. hadapan Arthurro.
"kamu, tidak mengambilkan aku makan??"kata Arthurro, lagi-lagi Terry, harus mengalah, dan mengambil kan makan untuk Arthurro.
dia pun kembali duduk setelah memberikan piring yang sudah terisi dengan makanan tersebut kecuali sayur asem dia memberikan di mangkuk, yang terpisah.
"Aaaaaa...."ucap Arthurro, yang menyodorkan sendok berisi makanan ke hadapan Terry.
"kamu, saja yang makan aku tidak lapar"ujar Terry.
"aku tidak ingin makan, jika kamu menolak"ucap Arthurro.
Terry, menghela nafas, beberapa saat ia memalingkan wajahnya.
"baiklah"ujar Terry, yang menerima suapan dari Arthurro.
"gitu dong, aku tidak suka penolakan"ujar Arthurro.
"sekarang kamu habiskan makanan mu itu aku ambil makan sendiri"kata Terry, yang sedikit kesal, dia pun mengambil makanan nya saat ini dan langsung makan tanpa menoleh ke arah Arthurro.
Arthurro, pun melanjutkan makannya, dengan lahap seperti nya, dia benar-benar, lapar saat ini, dan dia bahkan minta sayur asem nya lagi menurut nya,ini sayur sangat unik.
Terry pun dengan pasrah, melayani, Arthurro, hingga beres makan, tiba-tiba dering ponsel pun berbunyi terus menerus, saat ini Terry langsung bergegas mengangkat panggilan nya.
ternyata itu dari si pengirim bunga yang sudah hampir dua jam menunggu nya, Terry pun meminta mereka, menunggu nya lagi, dan dia berjanji akan memberikan ganti rugi untuk waktu yang terlewat.
sementara itu Arthurro, yang sudah selesai makan, dia langsung bergegas mengambil kunci mobil, sementara Terry, membereskan bekas makan dan menyimpan piring kotor nya di bak cuci piring.
dia akan mencuci nya, nanti setelah kembali dari toko, Arthurro, pun berangkat mengantar Terry,ke toko bunga milik nya.
sesampainya di sana, kedua orang pengirim tersebut langsung, menurunkan bunga, yang ada di dalam mobil tersebut, dan langsung memasukkan nya kedalam seperti perintah Arthurro, saat ini , setelah selesai Arthurro, pun memberikan tips, yang sangat besar untuk mereka berdua.
Terry, yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, dia tidak pernah mengerti dengan sikap Arthurro.
"sayang, apa semua nya sudah siap"kata Arthurro.
"sudah, aku hanya tinggal bereskan saja"jawab Terry.
"apa ada yang bisa aku bantu sayang, aku ingin secepatnya selesai, sebentar lagi, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat"ujar Arthurro,sambil tersenyum manis ke arah Terry.
"aku akan pulang larut , sebaiknya jangan menunggu ku, kamu pasti punya banyak pekerjaan"ucap Terry.
"sayang, please, sebentar saja,tolong tinggalkan pekerjaan mu, aku bisa menyuruh asisten ku untuk, menggantikan pekerjaan mu"ucap Arthurro.
"Arthurro, aku mohon,sekali ini saja biarkan aku bekerja dengan tenang"ucap Terry, Arthurro, sangat kesal saat mendengar ucapan Terry, saat ini karena dia tidak ingin penolakan, tapi Terry, bukan wanita yang gampang di bujuk, Arthurro, pun pergi tanpa pamit dia benar-benar sangat kesal.
"owh, tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi nya, saat ini"ujar Terry.
Terry, pun langsung, melanjutkan pekerjaannya, setelah itu dia langsung menata bunga-bunga yang saat ini siapa untuk di pajang di dalam dan di luar, saat itu juga hingga para pembeli langsung berdatangan, kebanyakan dari mereka membeli untuk di bawa ke pemakaman, Terry, saat ini begitu sibuk melayani pelanggan, hingga stok bunga sudah habis terjual, Terry, pun tersenyum manis, dia tidak sia-sia menolak ajakan Arthurro, hingga terakhir,ada sosok, yang pernah hadir dalam hidup nya, walaupun tidak pernah dekat secara langsung, tapi dia adalah, pria, yang sangat di kagumi nya dulu, walaupun itu tidak kesampaian.
dia adalah orang kaya, pemilik kampus tempat nya kuliah dulu walaupun, keluarga Terry, juga bukan orang sembarangan, tapi Terry, tidak pernah berani untuk menyatakan cinta pada pria itu.
"Terry,ini beneran kamu"ujar Alex...
"kak, Alex... apa kabar"ujar Terry, sedikit gugup.
"aku baik-baik saja, oya kemana saja kamu selama ini, hampir, semua dosen menanyakan keberadaan mu, setelah insiden kecelakaan itu, kamu bahkan seakan menghilang"ucap Alex.
"aku, aku mengalami kebutaan saat itu, jadi aku ?tidak melanjutkan kuliah ku, dan lagi setelah ayah, meninggal aku sudah tidak punya biyaya untuk melanjutkan kuliah di kampus itu lagi"ujar Terry, jujur.
"kenapa kamu tidak mengabari ku"ucap Alex.
"aku begitu terpuruk, saat itu bahkan jiwa ku terasa mati hanya kegelapan yang menemani hidupku"ujar Terry,sambil meneteskan air mata, dia tidak bisa menahan kesedihan jika menyangkut masalalu nya, Alex, pun langsung mengelus pundak Terry, untuk menenangkan nya, saat itu tiba-tiba, Arthurro sudah ada di hadapan mereka berdua, Terry, langsung menghapus air mata nya, dan segera menyiapkan bunga, yang di minta oleh Alex.
sementara Alex, bingung melihat itu, dia pun hanya bisa bertanya dalam hati.
"Terry,ini uang nya, terimakasih bunga nya benar-benar cantik,lain kali aku akan datang lagi"ujar Alex.
"iya, sama-sama kak"ujar Terry, sementara itu Alex, masih setia. menatap lekat wajah Terry, yang terlihat sembab, dia duduk di sofa yang ada di toko itu.
"siapa, pria itu??"ujar Arthurro.
"dia,kakak,kelas ku, pemilik kampus tempat ku kuliah dulu"ujar Terry.
"hanya itu"ujar Arthurro.
"maksudnya??"ucap Terry, bingung dengan pertanyaan Arthurro.
"maksud aku apa tidak ada hubungan lainnya"ujar Arthurro,to the points.