
Fero hanya bisa, menghibur istri tercinta nya, dengan pelukan ternyaman, saat ini, Sania sedang berbaring, di sofa kepalanya di letakkan di paha sang suami yang sedang bersandar di sana, iya mengelus istri nya itu dengan sayang .
Jimi yang melihat itu tersenyum bahagia, ternyata Fero masih seperti dulu, saat ia masih kecil selalu meletakkan kepala Siena di paha nya dan di elus nya dengan sangat sayang.
"semoga cinta kalian abadi seperti cinta ku padamu sayang ku aku sangat-sangat, merindukan mu,tahu kah engkau sayang aku selalu merindukan mu di setiap detik di setiap hembusan nafas ku selalu ada namau" gumam Jimi dalam hati iya hanya bisa menitikkan air mata nya, saat ini.
Jimi, bergegas, pergi,ia menemui Daniel yang sedang sibuk belajar dengan laptop nya, dia mengerjakan tugas sekolah nya yang tertunda yang di berikan oleh guru nya saat ini.
"kak, Dan... sayang kamu sedang apa hmm, boleh kakek,tau?" tanya Jimi pada cucunya itu.
"Dan... sedang mengerjakan tugas kek.. tadi guru dan mengirimkan nya " jawab Daniel sambil tetap fokus.
"tekun lah belajar nya sayang sebentar lagi, kamu adalah pewaris tunggal keluarga ini,kake sudah lelah mengurus semua itu, dan kakek menyimpan harapan besar padamu"ucap Jimi pada cucunya itu.
"kakek Daniel, bukan satu-satunya cucu kakek, kenapa harus Daniel yang mewarisi semua itu" ucap Daniel.
"kakek sudah tua dan dan Bunda mu tidak mau memegang perusahaan yang kakek miliki sementara, Sinan, perempuan, dia juga bakalan menikah dan semakin lama semakin bertambah pula kekayaan yang kita miliki, kakek hanya punya kamu"ucap Jimi.
"tapi ayah,juga ingin aku jadi pewaris perusahaan nya kek"ucap Daniel bingung.
ayah mu masih sangat muda dia bisa memiliki anak dari ibu sambung mu nanti jadi tidak usah di pikirkan" ucap Jimi.
Daniel diam sejenak, saat ini dia sedang berpikir, harus bagaimana melewati ini semua keluarga ingin dia yang mewarisi seluruh perusahaan, keluarga nya, saat ini
Jimi mengelus, puncak kepala Daniel, saat ini.
"jangan terlalu di pikirkan saat ini Kakek masih bisa menghendel nya"Jimi duduk di samping Daniel, sementara Sinan kini tengah bermain dengan Sherly bermain boneka, saat ini ia sedikit dewasa saat ini, mungkin karena didikan dari nya sudah mulai tumbuh dalam diri nya.
"kak, Cinan ... kakak jangan pelgi lagi ya celi tidak ada teman belmain lagi mommy, cibuk Daddy juga cibuk celi celalu ikut kakek,ke butik cama mommy" ucap Sherly yang kini baru sedikit lancar bicaranya walau masih cadel dan itu makin membuat Sinan gemes pada adik nya
"sayang,kak, Sinan sekolah dengan kak, dan jadi kakak tidak bisa, tinggal di sini lama-lama, tidak apa-apa, kamu harus nya bersyukur karena kakek masih sehat dan bisa menjaga mu, saat ini,dulu kami juga sama dengan Sherly, hanya di asuh oleh kakek, walau ada pengasuh di rumah kakek tidak ingin cucunya terlalu bergantung pada mereka, bahkan Daddy selalu mengajak kami jalan-jalan, saat dia ada waktu,kakak sudah terbiasa di bawa mommy ke butik juga,di jaga sama kakek itu tandanya kakek sangat sayang terhadap kita" jawab Sinan menjelaskan, dan Sherly manggut-manggut, seperti sangat mengerti.
"cama,donk KA kita di jaga kakek"ucap Sherly lagi.
" iya Sherly malah lebih beruntung Daddy selalu ada sama mommy dulu Ayah kakak, sudah tidak pernah nengokin kakak, Daddy juga sesekali datang nya jadi, Sherly lebih beruntung" kata Sinan lagi.
"kalian sedang bicara tentang apa sih Sayang, kedua putrinya Daddy yang cantik ini, kayanya lagi asik berbincang" ucap Fero yang kini,ada di samping mereka mengelus puncak kepala nya dengan Sayang.
"Daddy, Sherly sedang curhat katanya kesepian kalo aku dan kak, Daniel pergi" ucap Sinan.
"hmmm... jadi Sherly juga ingin kakak Sherly dua-duanya ada di sini begitu?"ucap Fero yang kini mengangkat tubuh Sherly tinggi-tingggi.
"Daddy, hati-hati Nanti Ade jatuh" kata Sinan.
"tidak akan Sayang ku" ucap Fero sbil mengecup puncak kepala Sinan.
kebahagiaan yang mereka rasakan, saat ini tiba-tiba saja, ada seseorang datang bersama dengan Adnan,yaitu Liliana. yang saat ini, sedang bergandengan tangan, layaknya pengantin baru, Siena yang mengetahui ada yang bertamu saat ini dia Mension nya ia bangkit dari tidurnya, saat ini.
Sania bergegas berjalan keluar kamar nya menuju ke, arah tangga berjalan perlahan ia menuruni tangga dan Sien,
langsung melongo melihat, kedua pasangan itu
Siena termasuk nampak di paksakan, betapa tidak, dia harus kuat, karena ia tidak mau menunjukkan sisi lemah nya saat ini.
"mas Adnan, ternyata kamu, selamat ya atas pernikahan nya"kata Siena sambil tersenyum menyalami mereka.
"Sien.... apa kabar mu sayang?" ucap adnan sambil memeluk Siena.
semua orang yang ada di sana menatap ke arah mereka, namun Fero sudah biasa melihat itu.berbeda dengan Liliana yang kaget'.
"owh Kabar ku baik mas, silahkan duduk!" ucap Siena.
"BI, tolong buat kan minum untuk tamu saya!!"kata Siena saat ini.
Jimi, mendekat ke arah Adnan,dan bertanya bagaimana,kabar mereka.
"nak, bagaimana kabar kalian, saat ini?"kats Jimi
"kabar kami baik ayah" jawab Adnan.
Fero mendekat kearah Siena,dan merangkul istrinya itu dengan erat Siena pun bersandar di dada bidang suaminya sungguh pemandangan yang sangat indah bagi yang melihatnya namun tidak dengan Adnan, iya diam-diam mengepalkan tangannya, Adnan bahkan bergumam dalam hati nya.
"Awas saja kamu Fero sekali saja kamu sakiti dia lagi aku tidak akan segan-segan menghabisi mu"gumam Adnan dalam hati.
sementara itu Sinan dan Sherly juga Daniel duduk,di samping Jimi.
mereka semua begitu dekat dengan sang Kakek yang teramat sayang padanya sedari belum lahir.
"ayah kapan ayah datang?" ucap Daniel,sambil menatap Tante Liliana.
"barusan sayang ayah kemari sengaja berlibur, dan akan langsung mengajak kalian pulang" jawab Adnan.
"Dan terserah kalian saja Daddy, lagian, dan juga masih betah di sini sama kakek, tapi kalo ayah mengijinkan sih" ucap Daniel, melirik semua nya.
"tidak Dan,, kamu sudah terlalu lama di sini pelajaran mu banyak yang ketinggalan kemaren guru, kalian datang ke rumah Ayah" ucap adnan sambil melirik sang anak gadis yang kini mendekat ke arah Fero.
"Daddy, Sinan mau jalan-jalan dulu sama, Daddy sebelum pulang ke ibukota" kata Sinan.
"tentu saja Sayang Daddy, baik'lah ayo berangkat sekarang Kakak,mau kemana pasti Daddy antar sayang, muachh" Fero mencium kening Sinan dan langsung beranjak ke atas untuk mengambil dompet dan kunci mobil.
🌹💖💖💖🌹
"sore, hari nya mereka pun kembali ke Jakarta, saat itu Fero mengantar kepergian Sinan dan Daniel sampai di bandara Ngurah Rai Bali.
mereka saling berpelukan dengan begitu Liliana bisa melihat betapa Fero sangat menyayangi kedua nya.
sementara itu Siena hanya menitikkan air mata saat keduanya, berpamitan iya sebenernya tidak rela kalau kedua anak nya harus pergi jauh dari nya, selama ini mereka selalu bersama-sama dalam suka maupun duka.
"sudah dong yank...lain kali, kita bisa ketemu mereka atau kalau Daddy libur kita kunjungi mereka di sana" ucap Fero menenangkan Siena.
"kak, Dan... Sinan Daddy minta tolong jaga diri kalian baik-baik kalo ada apa-apa kabari Daddy langsung ya!" ucap Fero kepada kedua nya sementara Adnan, mendekat ke arah Siena.
"Siena, sayang aku pamit pulang dulu, terimakasih jamuan nya, dan Liliana suka sekali dengan makanan nya" kata Adnan.
"owh, sama-sama,Oya mbak Liliana aku titip mereka ya, maaf merepotkan dan semoga kalian segera mendapatkan kan momongan, agar rumah semakin ramai" ucap Siena, berbasa-basi dengan Liliana.
"tenang saja Nona, aku akan menjaga mereka dengan sebaik mungkin, tidak usah khawatir kan itu semua" ucap Liliana, yang masih merasa sedikit canggung.
"jangan panggil aku Nona, kita adalah saudara, mulai saat ini, panggil saja aku Sien, seperti yang lain nya" ucap Siena ramah Sambil berjabat tangan.
"owh, iya jika kamu butuh Gaun atau apapun, bisa minta sama asisten ku di butik, aku yang ada di sana, bilang saja aku yang kasih Alina pasti mengerti, anak itu bahkan setelah menikah tidak pernah menemui ku" gerutu Siena.
Adnan hanya tersenyum,lalu dia berkata.
"Sien, aku masih bisa membelikan nya apa pun yang dia mau, jadi tidak usah khawatir" ucap Adnan.
"syukurlah,ku pikir seperti ku, dia wanita yang mandiri.
Adnan, langsung merangkul, pinggang Liliana, dan ia langsung berkata.
"aku tidak, menikah dengan seorang wanita yang mandiri, karena takut seperti yang sudah-sudah, dia meninggal kan aku, seperti dulu" ucap Adnan, penuh penekanan.
"tapi aku lebih suka yang mandiri seperti istri ku ini, jadi dompet ku tetap untuh dan Aset kekayaan ku juga utuh tidak akan dan tidak pernah meminta apapun dari ku jadi kalau aku selingkuh pun dia. Takan pernah merasakan ada yang. hilang selain kasih sayang"Fero mengatakan itu untuk menyindir Adnan, Sambil merangkul Siena, sementara Adnan merasa, tersinggung langsung, mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Daddy,ayah mau sampai kapan, kita berargumen,ini sudah mau berangkat pesawat nya" ucap Daniel langsung membuat mereka berhenti berdebat.
"baik lah sayang ku hati-hati di jalan, Ok jaga diri jaga adik mu"ucap Fero dan Siena memeluk Daniel dan Sinan.
mereka pun berangkat, saat itu juga Siena dan Fero, langsung kembali ke rumah mereka saat itu juga,di perjalanan, Fero sempat menghentikan mobil nya, dan langsung, bergegas turun dan membuka pintu untuk Siena.
"Daddy, kenapa harus berhenti, di sini tempatnya sepi" ucap Siena.
"lihatlah yank, kearah sana pemandangan nya sungguh menakjubkan, dan semua nya begitu indah, apa lagi di nikmati berdua kamu pasti suka kan sayang" kata Fero.
"hmmm, ya, kamu betul Daddy" ucap Siena yang memandang pemandangan itu dari atas bukit, Fero langsung menghadap ke arah Siena. setelah menghidupkan kamera yang terpasang di atas mobilnya, iya mencium lembut bibir istrinya itu mereka pun bercumbu mesra di terangi sunset, yang begitu indah, sehingga bayangan mereka seperti siluet, di kamera tersebut.
setelah, hampir satu jam mereka menikmati pemandangan indah yang ada di sana mereka pun pergi, untuk kembali ke Mension, Fero tersenyum bahagia, saat ini mereka bisa merasakan, kebahagiaan yang datang dari hal terkecil, yang mereka lakukan, saat ini .
"sayang, aku berharap selamanya sampai tua nanti sampai maut menjemput kita akan selalu tersenyum bahagia seperti ini" ucap Fero sambil mencium punggung tangan Siena bidadari kecil nya dulu kini sudah menjelma menjadi, istri dan seorang ibu bagi anak-anak nya dan juga dirinya.
"cinta kita berdua sudah terwujud Sayang, bukan kah ini yang kita mau sedari dulu hmmm" ucap Fero lagi.
"Daddy, aku sangat bahagia saat ini berdua bersama dengan mu, dan kuharap tidak ada pengganggu lagi" jelas Siena.
"tidak akan adalagi sayang ku selama nya aku hanya milik mu, dan kita akan selalu bersama, membimbing, anak-anak kita kelak" kata Fero sambil membawa Siena dalam dekapan nya.
"yank... besok aku ikut ke kantor boleh" ucap Siena yang manja seperti dahulu.
"tentu saja Sayang dengan senang hati, yang mulia Ratu, aku sangat bahagia jika kau bisa ikut dengan ku ke kantor besok sekalian aku ingin memperkenalkan diri mu Hanny pada seluruh staf kantor nanti agar mereka tahu istri ku yang paling cantik bak bidadari ini, adalah ratu dalam hati ku saat dulu saat ini nanti dan selamanya" ucap Fero Sambil mencium bibir istrinya sekilas.
akhirnya sampai juga di garasi depan Mension mereka saat ini Fero langsung turun dan berjalan mengitari mobil nya membuka, pintu mobil untuk istrinya itu.
Fero, bahkan menggendong Siena ala bridal style menuju kedalam dan langsung bergegas menuju kamar mereka, sementara itu Jimi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, bahkan mereka tidak melihat ada dirinya di sofa sedang mengajak kedua cucunya bercengkrama, seperti kebiasaan Nya dulu dengan, Daniel dan Sinan Jimi merasakan,ada yang kurang setelah kepergian kedua cucu tersayang nya tersebut.
sementara itu,Adnan dan keluarga nya kini sudah mendarat di bandara Sukarno Hatta, langsung menuju mobil mereka yang telah beberapa hari menginap di parkiran tersebut.
setelah menempuh perjalanan satu jam karena macet mereka pun kini tiba di rumah milik Adnan yang baru ia beli Daniel sudah. menolak untuk tinggal di situ tapi Adnan tidak mau mendengar nya,ia malah mengatakan besok mereka baru boleh pindah kerumah,milik Siena yang dulu membuat mereka bahagia.
"Daniel, sekali ini saja ayah mohon, menginap dulu di sini besok ayah izin kalian tinggal di rumah Bunda,ok sayang, setelah ayah mendapatkan orang kepercayaan ayah untuk menjaga kalian berdua, tadi nya ayah ingin kalian bisa tinggal bersama dengan kami di sini tapi kalau kalian tidak mau ya ayah tidak bisa memaksa Sayang.