
Setibanya Erlangga di rumah, betapa terkejutnya dia saat mendapati para penjaganya tergelatak di atas tanah. Lalu dia bergegas melangkah masuk ke dalam rumahnya. Berharap sang istri baik-baik saja.
"Mbok! Dimana Yuta?" tanya Erlangga dengan suara yang menggelegar di seisi ruangan.
Dengan langkah pelan, mbok Minah berjalan dari arah dapur menuju dimana Erlangga berada. Raut wajahnya menyiratkan kalau dia masih ketakutan.
"Ma-maaf, Tuan," ucap mbok Minah dengan suara gugup dan takut. Karena tidak bisa menjaga nyonya-nya dengan baik.
Erlangga semakin khawatir kepada istrinya setelah melihat reaksi mbok Minah. Dia tahu pasti asistennya itu sangat ketakutan padanya. Mau marah pun juga percuma, karena semua sudah terlanjur.
Lalu Erlangga berjalan menuju ruang kerjanya dan melihat rekaman CCTV yang mengarah di depan rumah mereka. Mengeceknya dengan teliti. Memperhatikan setiap detik dari gambar tersebut.
Tak berapa lama Erlangga mengamati video CCTV di depan rumahnya, tiba-tiba tangan Erlangga mengepal dan menggebrak meja kerjanya. Rahangnya mengeras, serta tatapan yang nampak di matanya sangatlah mengerikan.
"Shit!" umpat Erlangga keras. Matanya menatap tajam ke arah layar laptop yang ada di depannya.
"Ternyata selama ini aku cukup dermawan pada kalian." geram Erlangga mengeratkan rahang tegasnya.
Melihat dari mobil dan orang-orang yang telah membawa istrinya pergi, Erlangga dapat memastikan siapa pelaku utama yang menculik istrinya.
Dia tak habis pikir dengan orang tersebut. Selama ini keluarganya sudah bersikap baik dan adil kepada mereka. Tapi apa balasan mereka terhadapnya? Mereka benar-benar ingin membangunkan serigala yang menikmati perannya sebagai domba.
Lalu Erlangga segera mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi adik Barbie nya itu untuk membantu rencananya.
Erlangga juga tidak mau sampai orang tuanya mengetahuinya. Dia ingin menyelesaikan ini dengan cara dan aturannya sendiri. Dimana hukum negara tidak berlaku untuknya.
"Sha! Cepat temukan dimana keberadaan orang sialan itu membawa Yutasha pergi." ucap Erlangga penuh dengan nada amarah.
"Hah? Kak Yuta bukannya ada di rumah?" tanya Tanisha dari sebrang telpon sana.
"Dia diculik, Nisha! Cepat temukan dia!" sontak perkataan Erlangga membuat Tanisha khawatir.
Karena barusan Tanisha mengecek lokasi keberadaan Yutasha melalui GPS, yang sengaja Tanisha pasang di kalung milik Yutasha.
"Kak Yuta nggak mengenakan kalung nya, Kak!" jawab Tanisha.
Seketika tubuh Erlangga merasa lemas, saat mengetahui istrinya tidak menggunakan kalung yang Tanisha desain khusus untuk mengetahui lokasi Yutasha. Kini pikirannya tak karuan, harus memulainya dari mana agar tidak diketahui banyak orang.
"Lalu kita harus bagaimana, Sha? Nggak mungkin kita melibatkan orang-orang Papa," Erlangga merasa frustasi. Karena orang-orangnya juga merupakan anak buah papa-nya. Jika Erlangga memerintahkan mereka, pasti papa-nya akan mengetahuinya.
"Kakak, tenang dulu. Aku punya beberapa orang luar yang bukan anak buah Papa. Aku akan coba suruh mereka mencari keberadaan Kak Yuta melalui nomor plat yang tertangkap oleh kamera CCTV. Kalau memang dia dalang dari semua ini, Kakak coba untuk mengajaknya bertemu dan pancing dia dengan apa yang dia inginkan. Karena yang dia inginkan adalah hanyalah posisi Kakak dan saham yang ada di perusahaan kita. Kalau kita menyergapnya dengan cara terang-terangan, nyawa Kak Yuta dan calon ponakanku yang akan jadi taruhannya." jelas Tanisha tentang rencananya.
Karena pikirannya sedang kacau memikirkan keselamatan istri dan calon anaknya, Erlangga hampir saja melupakan tentang perebutan jabatan yang baru-baru ini terjadi.
Serem banget sih julukan dedek Emeskuh🙈