
Hari ini Erlangga ada pertemuan dengan pihak utusan Bagaskara Corp. Dia akan menjalin kerja sama dengan perusahaan besar tersebut. Kebetulan direktur perusahaan itu merupakan teman masa kecilnya saat mereka masih di taman kanak-kanak.
"Selamat siang, Tuan Langit Bagaskara," sapa Erlangga seraya menjabat tangan lelaki muda berparas tampan yang diketahui bernama Langit.
"Selamat siang juga, Tuan Erlangga yang memiliki ketampanan paripurna," balas Langit kemudian mereka berpelukan melepas rindu dan diselingi tawa mereka.
Meskipun mereka berada di negara yang sama, tidak serta merta membuat mereka bisa saling bertemu. Mungkin dikarenakan kesibukan mereka sedari kecil yang dididik dengan sangat keras untuk menjadi seorang pemimpin sebuah perusahaan besar keluarga mereka masing-masing.
"Kapan ya kita terakhir bertatap muka seperti ini?" tanya Erlangga membuka percakapan diantara mereka.
"Haha mungkin saat kamu masih ingusan, Lan!" jawab Langit diiringi tawa renyahnya.
"Apa memang sudah selama itu ,ya?" mereka sama-sama tidak percaya, jika memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Bagaimana kabarmu? Aku dengar dari istriku, istrimu tengah mengandung?" tanya Langit. Dia memang sering mendengar cerita istri Erlangga ini dari sang istri, Ayumna.
Semenjak pertemuan Yutasha dan Ayumna di halte, mereka menjadi lebih dekat. Ditambah lagi saat Yutasha kehilangan sahabatnya yang melakukan bunuh diri di dalam jeruji besi.
Mulai pada saat itulah Ayumna menjadi tempat curhat Yutasha. Dan mereka sangatlah cocok. Sama-sama perempuan cantik yang berkehidupan sederhana. Meskipun mereka di gelimangi harta yang melimpah oleh suami mereka.
"Dan kamu tau Lang? Sekarang permintaannya semakin aneh saja setiap hari," keluh Erlangga mengenai permintaan sang istri.
Bagaiman tidak aneh, jika Yutasha selalu meminta Erlangga untuk mempertemukan dirinya dengan para idolanya. Dan jika tidak Erlangga turuti, maka tidur di sofa adalah jalan satu-satunya.
"Hahaha ternyata kau juga merasakan kerepotan bagaimana harus menuruti permintaan konyol mereka?" Langit tertawa puas karena dirinya juga pernah mengalami itu.
Memang hal itu mampu membuat mereka sangat cemburu. Namun, mereka tetap melakukannya demi orang tercinta mereka.
Tawa mereka pun menjadi pusat perhatian dari pengunjung cafe Benning. Dua papa muda yang mempunyai wajah tampan, serta gestur tubuh yang sama-sama kekar, menjadikan mereka sangat diidolakan oleh kaum hawa. Namun, mereka tak mampu untuk melirik ke samping, karena para istri mereka selalu menaruh orang untuk mengawasi mereka jika diluar kantor.
"Apa kamu juga sama kayak aku?" tanya Langit tiba-tiba seraya berbisik kepada Langit. Membuat Langit semakin penasaran, kenapa dia bertanya harus dengan berbisik.
"Kenapa?" tanya Langit sembari mendekatkan wajah mereka.
"Apa kau juga diikuti oleh orang suruhan istrimu? Supaya kita nggak macem-macem ketika berada di luar kantor?" tanya Erlangga lirih. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, mengawasi apakah ada orang suruhan istrinya di sekitarnya.
Langit tertawa keras mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Erlangga. Ternyata nasib mereka benar-benar sama. Padahal dulu dia harus berusaha sekeras mungkin untuk membuat istrinya cemburu. Namun, setelah mereka mempunyai anak, Ayumna semakin bersikap protektif padanya.
"Kenapa kau malah ketawa?" kesal Erlangga memukul bahu Langit.
"Haha kita benar-benar senasib, Bro!" Langit benar-benar tidak percaya jika mereka memiliki istri yang sifatnya sama.
Erlangga kini bisa bernapas lega, karena lagi-lagi dia tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan menghadapi sifat istrinya yang tidak bisa ditebak.
Saat mereka melanjutkan pembicaraan mereka tentang kerja sama antara dua perusahaan besar tersebut, ponsel Erlangga berdering.
"Ya, halo. Kenapa Mbok?" tanya Erlangga saat menjawab telpon dari rumahnya.
"..."
Wajah Erlangga berubah menjadi pucat pasi, saat mendengar kabar dari rumahnya. Lalu dia langsung mengakhiri pertemuan ini dan bergegas untuk pulang.