
"Apa kamu akan terus menunduk, Nak?" tanya Arjun yang berada di samping kanannya. "Kamu tidak ingin melihat suamimu?" tanya Arjun lagi. Sebenarnya Arjun juga penasaran akan seperti apa reaksi putrinya saat melihat Erlangga yang sekarang.
Dengan perlahan Yutasha mengangkat kepalanya. Memberanikan diri untuk melihat Erlangga yang berstatuskan sebagai suami tersebut. Sementara itu, Erlangga mengembangkan senyumannya yang paling menawan terhadap Yutasha. Seolah menyiratkan, Aku bahagia, kamu jadi milikku.
"Mas Angga!" mata Yutasha membola tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. Yutasha terkejut tak terkira melihat Angga yang tersenyum padanya.
Orang yang berstatuskan suaminya tersebut harusnya Erlangga. Namun kenapa bisa Angga yang menjadi suaminya?
"Kenapa Mas Angga ada di sini?" Yutasha memelankan suaranya.
Erlangga tersenyum geli melihat reaksi Yutasha. Ia semakin ingin menggoda Yutasha. Ingin sekali rasanya ia memeluk Yutasha saat ini. Melihatnya dengan ekspresi bingung, terlihat begitu menggemaskan di mata Erlangga.
"Aku suami kamu, Sayang." jawab Erlangga dengan tatapan memuja Yutasha. Kamu sangatlah cantik, Yutasha. Membuatku semakin tidak sabar ingin memakanmu segera. Batin Erlangga.
"Hah! Kok bisa?" tidak sengaja Yutasha meninggikan suaranya, membuat hampir semua orang ketawa. Namun mereka menahannya karena menghargai acara yang seharusnya sakral dan penuh harus biru ini. Dan sekarang menjadi acara yang sangatlah konyol bagi sebagian orang.
Bagaimana bisa sang mempelai wanita tidak mengenali pasangannya? Begitulah pemikiran sebagian orang tersebut.
Erlangga sudah tidak kuasa menahan rasa gemasnya terhadap Yutasha. Lalu Erlangga mendekatkan posisinya lebih dekat lagi dengan Yutasha. Sementara itu, Yutasha masih mematung tidak percaya akan semua fakta ini. Bahwa Angga lah yang menjadi suaminya. Dan satu tindakan Erlangga membuat Yutasha semakin sadar kalau ini memang nyata adanya.
Cup.
Erlangga mengecup tepat di bibir Yutasha. Membuat Yutasha semakin cengo karena Erlangga menciumnya tepat dihadapan semua orang yang hadir.
"Udah, nanti aku jelasin. Sekarang kita lalui saja serangkaian adat Jawa ini." ucap Erlangga sembari mengedipkan sebelah mata.
Kenapa sikapnya beda banget dengan Kak Erlan? Tanya Yutasha dalam hati. Ia masih diam membeku mengamati sikap Erlangga. Dan wajahnya juga sangat tampan. Namun sayang, wajah tampan itu bukanlah jaminan seseorang untuk merasa nyaman. Lanjut Yutasha lagi di dalam hati.
Memang benar, jika hanya bermodalkan wajah yang tampan saja tidak menjamin suatu kebahagiaan seseorang. Contohnya saja, perut lapar tidak akan kenyang jika hanya menatap wajah orang tampan. Begitulah pemikiran Yutasha kira-kira.
Erlangga memasang senyum menawannya ke arah sang fotografer. Sedangkan Yutasha terlihat tersenyum kaku, karena tangan Erlangga yang sebelah kanan tetap melingkar di pinggang rampingnya.
"Mas, bisa lepasin dulu nggak, tangannya? Malu tau diliat semua orang." bisik Yutasha mencoba melepas tangan Erlangga.
"Panggilan nya berubah nih, jadinya?" bukannya melepas tangannya, Erlangga malah menggoda Yutasha yang merubah panggilan terhadapnya.
"Lah, emang salah? Yang di depanku sekarang ini kan Mas Angga, bukan Kak Erlan." ketus Yutasha namun dengan suara lirih.
"Jadi, kamu masih tidak mengenali siapa aku?" tanya Erlangga tidak percaya. Dan Yutasha hanya menggeleng tidak mengerti. Membuat Erlangga mendesah pasrah akan jalan yang ditakdirkan untuknya.
Allahuakbar...kamu emang bener-bener sesuatu, Yutasha Geraldine. Entah itu sudah yang berapa kali Erlangga ucapkan di dalam hati.
Haruskah Erlangga bersyukur atau malah sebaliknya, mendapat istri yang kelewat polos seperti Yutasha.
Aku sendiri pun juga bingung😅
Erlangga Elajar

Yutasha Geraldine