Suami Cicilan

Suami Cicilan
Maaf


"Oh... Anda yang di...," Yutasha terlihat mengingat sesuatu. Namun tak kunjung ia ingat.


"Kita pernah bertemu di panti asuhan." sambung Erlangga.


"Mas Angga?" Yutasha memastikan setelah ingatannya kembali. Dan Erlangga mengangguk. "Maaf, aku lupa." lanjutnya.


"Aku juga minta maaf, dengan apa yang aku lakukan tadi. Tapi menurutku dengan cara itulah laki-laki tadi bisa melepasmu," terang Erlangga. "Memang dia siapa? Sampai menarik tanganmu seperti itu?" tanya Erlangga penasaran.


Yutasha terdiam. Terlihat ia sedang memikirkan sesuatu. Tidak mungkin ia menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi pada orang yang baru dikenalnya.


"Maaf, Mas. Aku harus segera pulang." pamit Yutasha. Ia sengaja tidak menjawab pertanyaan Erlangga dan memilih pergi dari sana.


Melihat Yutasha melangkah menjauh, Erlangga segera mencekal tangan Yutasha sehingga gadis itu berhenti. Yutasha melihat tangannya yang dipegang oleh Erlangga, lalu menatap tajam kearah laki-laki super tampan tersebut.


"Lepasin!" ketua Yutasha. Ia masih merasa kesal pada Erlangga karena cara yang menurutnya konyol dan merugikan dirinya.


"Ah." Erlangga melepaskan tangan Yutasha. "Ini sudah mau maghrib, aku antar pulang saja." Lanjut Erlangga menawarkan diri. Dan memang sekarang sudah memasuki waktu maghrib.


Yutasha melihat sekeliling yang mulai gelap. Tidak mungkin ia bersama orang asing berdua di dalam mobil.


"Tidak usah, aku menunggu tunanganku menjemputku." jawab Yutasha.


Deg!


Ucapan Yutasha membuat Erlangga berkeringat dingin. Bagaimana jika Yutasha menghubunginya dan kemudian nada dering di ponselnya terdengar. Dengan berat hati, akhirnya ia pamit pada Yutasha.


"Baiklah kalau begitu. Aku pamit dulu. Dan kamu hati-hati." Erlangga meninggalkan Yutasha di sebuah cafe dekat kampus mereka.


Dan benar saja. Setelah Erlangga ynag sebagai Angga pergi, Yutasha menghubungi Erlangga. Di panggilan pertama, tidak terjawab. Barulah di panggilan kedua Erlangga menjawabnya.


"Kak Erlangga sibuk nggak? Bisa jemput aku? Kalau sibuk, ya sudah. Aku bisa naik ojek online saja." tanpa menunggu jawaban dari Erlangga, Yutasha mematikan sambungan telponnya.


Erlangga begitu tercengang dengan sikap Yutasha. "Apa maksudnya sebenarnya? Aarghh...!" kesal Erlangga.


Sepertinya Yutasha masih merasa jengkel pada Erlangga karena acara di hari pertunangan mereka. Dan sekarang ia sedang merajuk setelah beberapa hari menghindarinya.


Dengan segera Erlangga menyusul Yutasha di cafe saat ia meninggalkannya di sana. Erlangga nanti bisa mencari alasan apapun itu, saat Yutasha bertanya kenapa dirinya bisa menemukan keberadaannya.


"Kok Kak Erlangga tahu aku di sini?" pertanyaan Yutasha yang seperti ini sudah diprediksi oleh Erlangga. Dan benar saja tebakannya. Yutasha pasti sedang mencari kesalahannya.


"Tadi aku melacak ponselmu melalui GPS." jawab Erlangga enteng.


"Oh."


"Ya sudah, ayo ku antar pulang. Bukannya kamu menghubungiku agar aku menjemputmu?" tanya Erlangga saat Yutasha tak merespon.


"Kata siapa?" kilah Yutasha. "Aku mau naik ojek online saja." Yutasha berusaha memancing Emosi Erlangga.


"Yuta... Ini sudah petang dan waktu maghrib segera datang. Tidak mungkin kamu menunggu ojek online di sini. Lebih baik pulang sama aku, okey?" bukan kemarahan yang didapat, namun Erlangga malah membujuknya dengan penuh kelembutan.


Yutasha terdiam. Bukan maksud dia untuk menunggu ojek online. Yutasha hanya ingin melihat perhatian dari lelaki yang ia hindari beberapa hari ini. Dan yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.


"Maaf," lirih Yutasha saat mereka sudah menaiki motor butut Erlangga.


Jangan lupa, like nya😘