
"Kamu sudah hafal, kan kalimatnya?" tanya Arjun disertai kekehan kecil untuk menetralisir kan suasana haru tersebut.
Erlangga mengangguk lalu mereka berjalan ber-iringan menuju ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah yang sudah rame oleh beberapa kerabat yang datang. Mereka melangkah semakin masuk ke dalam rumah Yutasha yang sudah di dekor sedemikian rupa. Tidak begitu mewah memang, namun terlihat sangat lah sakral. Cocok untuk suasana saat ini.
Erlangga dan keluarganya duduk di tempat yang sudah disiapkan. Terutama untuk Erlangga yang duduk berhadapan dengan sang penghulu serta mudin.
"Dengan Mas Erlangga?" bapak penghulu memastikan kembali dengan data yang dia pegang.
"Benar, Pak." jawab Erlangga mencoba bersikap tenang agar tidak membuyarkan konsentrasinya saat mengucapkan kalimat yang sangat sakral nantinya.
"Dan mempelai wanitanya adalah ananda Yutasha Geraldine, benar?" tanya pak penghulu lagi. Memastikan bahwa orang yang akan dinikahi Erlangga adalah benar.
Karena sesuai adat dari keluarga Yutasha, mereka tidak boleh dipertemukan sebelum acara pengucapan qabul selesai. Baru setelah itu sang mempelai wanita boleh keluar dari kamarnya.
"Benar, Pak." kali ini Erlangga tidak se-gugup tadi. Dia sudah bisa memusatkan fokusnya. Yaitu mempercepat waktu agar Yutasha segera menjadi miliknya yang sah.
Dan Erlangga sudah pernah berjanji berkali-kali. Bahwa Erlangga tidak akan pernah melepaskan Yutasha, apapun alasannya.
"Bisa kita mulai, Mas Erlangga?" tanya pak penghulu seraya mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Erlangga.
Dan acara yang sakral itupun berlangsung dengan sangat khitmat. Darren mengucap syukur pada sang khalik, karena putranya berhasil mempersunting gadis yang baik dan tidaklah memandang Erlangga dari segi rupa maupun status Erlangga. tidak seperti gadis-gadis yang dulu pernah mendekati Erlangga dengan maksud tersembunyi. Apalagi kalau bukan tentang harta yang dimiliki Erlangga. Bahkan sekarang Darren menitihkan air matanya melihat sang putra berhasil mengucapkan kalimat ijab qobul tersebut dengan lancar.
"Bagaimana dengan para saksi? Sah?" tanya pak penghulu menatap ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Dan kebetulan yang menjadi saksi adalah pemuka agama di lingkungan perumahan yang Yutasha tempati.
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah....!" ucap semua orang yang berada di acara tersebut. Tak terkecuali Erlangga.
Bibir Erlangga tak henti-hentinya mengukir sebuah senyuman yang mampu membius para kaum hawa yang menghadiri acara sakral tersebut. Dari yang muda, hingga yang sudah berumur.
Setelah berjabat tangan dengan penghulu, kini giliran Yutasha untuk keluar dari kamar dan menuju ke ruangan yang di pakai untuk ijab qobul barusan. Guna menandatangani berkas-berkas dan buku nikah mereka.
Sementara itu di dalam kamar Yutasha, terlihat Yutasha sangat risau. Risau karena sekarang statusnya berubah menjadi seorang istri. Sebuah jabatan yang mulia dan begitu cepatnya melekat pada dirinya.
Berkali-kali Yutasha mengatur nafasnya untuk menstabilkan degupan jantungnya. Karena kata SAH yang mereka ucapkan terdengar begitu lantang di telinganya. Yutasha kini menunggu seseorang yang menuntunnya untuk menuju tempat terlaksananya ijab tadi, sembari meremas jari jemarinya.
Hilda yang melihat kegugupan Yutasha berusaha menenangkannya.
"Udah, tenang aja Yuta. Inikan jalan yang kamu pilih sendiri. Mana tau nanti takdir berkata lain, menjodohkan kalian dengan cara seperti ini. Jalani saja, jika nanti tidak ada kecocokan, jangan gegabah mengambil sebuah keputusan. Pertimbangkan dahulu, meskipun pernikahan ini berawal dari sebuah keisengan kamu." begitulah nasehat Hilda pada sahabat yang baru ia kenal beberapa bulan ini.
Pasti pada nungguin reaksi Yutasha🤣