
"Pa! Demi Arga! Tolong lepasin Yuta, Pa!" mohon Arga dengan suara menjerit, tapi juga menyiratkan kesedihan yang mampu menyayat hati.
"Ini semua Papa lakukan demi kamu, Arga!" William tidak mengerti kenapa putranya itu sangat keukuh untuk menyelamatkan istri Erlangga.
Selama ini William melakukan semua ini hanya untuk masa depan putra semata wayang nya tersebut dan juga karena rasa sakit hatinya kepada keluarga Elajar.
William menyalahkan keluarga Elajar atas kematian mendiang sang istri. Kenapa dulu keluarga Elajar tidak berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istrinya yang mempunyai riwayat sakit jantung.
"Ini bukan demi Arga, tapi ini semua karena obsesi dan juga rasa dendam Papa!" bentak Arga berusaha lepas dari kuncian tangan anak buah papa-nya. "Yuta tidak bersalah, Pa! Lepaskan dia!" berontak Arga kembali.
Yutasha perlahan membuka matanya. Mengerjapkannya beberapa kali lalu membuka dengan sempurna. Betapa terkejutnya dia saat melihat Arga yang dikunci tangannya oleh orang bertubuh kekar dibelakang Arga.
"Kak Arga!" suara Yutasha tertahan karena sebuah kain masih menutup rapi di mulutnya.
Yutasha menggeliat berusaha melepaskan tangan serta kakinya yang diikat. Namun, itu hanya memberikan luka gores pada kulit putihnya.
Yutasha menatap ke depan, ke arah Arga yang juga tengah menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Karena obsesi dan dendam papa-nya lah, perempuan yang dia cintai menjadi korban. Bahkan yang lebih membuatnya lebih ngiris, perempuan yang terikat di lantai itu tengah mengandung.
Yutasha menggelengkan kepalanya saat Arga mencoba memberontak dan ingin melangkah mendekat ke arahnya. Yutasha tidak menyangka ada orang tua yang tega menyakiti anaknya sendiri demi sesuatu yang diinginkannya tercapai.
Dia tidak tega melihat Arga yang mendapat pukulan dari papa-nya, karena berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Yutasha menangis histeris melihat Arga tersungkur ke lantai. Namun, ia juga tidak bisa apa-apa dengan kondisi yang terikat seperti ini.
William terpaksa melakukan itu untuk menyadarkan putranya. Padahal yang perlu disadarkan dari rasa dendam dan obsesi itu harusnya dirinya sendiri. Namun, William menolak pemikiran seperti itu. Dia tetap akan melakukan ini hingga tujuannya tercapai.
Erlangga mulai menyelinap masuk dan diikuti oleh papa Darren di belakangnya. Sementara Tanisha mengambil jalan dari sisi lain pintu masuk ke dalam ruangan yang terdapat Yutasha, William, serta Arga dan anak buah William yang berjumlah tujuh orang. Mereka menjaga di setiap sisi ruangan yang memiliki banyak jendela tersebut.
Karena William yakin, setelah pertemuannya dengan Erlangga tadi. Apalagi Darren juga mengetahui pertemuan itu. Mereka pasti akan datang untuk menyelamatkan Yutasha.
Erlangga memberi aba-aba kepada anak buahnya dengan isyarat tangan. Dia menyuruh dua anak buahnya untuk berjaga di sis kiri ruangan tersebut. Dimana terdapat satu jendela lumayan besar di sana.
Sementara itu papa Darren berjalan menuju pintu utama untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Sedangkan disisi belakang William berdiri, ada sebuah jendela. Dan Tanisha sudah bersiap di sana dengan orang-orangnya.
Anak buah papa Darren dan Erlangga yang lain, mereka berjaga di luar gedung dan membereskan orang-orang William yang dilumpuhkan dengan cepat oleh orang-orang Tanisha.
Erlangga dan papa Darren sengaja masuk melewati pintu utama ruangan tersebut. Karena mereka pikir masalah ini berawal dari mereka. Dan mereka akan mencoba untuk menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan.
Tapi itu hanya pemikiran papa Darren saja. Karena Erlangga sudah bulat ingin membunuh paman-nya itu jika terjadi sesuatu pada istrinya.
"Kau!" hardik Erlangga saat masuk ke dalam ruangan dan melihat kondisi sang istri yang sangat memprihatinkan.
Menuju ending sebenarnya🤧