
"Kenapa?" tanya Erlangga saat melihat wajah kesal Yutasha yang berjalan ke arahnya. Saat ini mereka berada di parkiran kampus.
"Aku ditolak," jawab Yutasha lesu. Padahal baru tadi pagi dia merasa senang, karena sebentar lagi akan mendapatkan pekerjaan yang bisa dia kerjakan setelah selesai kuliah. Karena toko roti tersebut mengijinkan Yutasha untuk masuk di sore sampai malam hari.
Namun, pada saat mata kuliahnya selesai. Tiba-tiba saja dia mendapat notif pesan di ponselnya. Yutasha melihat layar ponselnya, ternyata yang mengirimi pesan padanya adalah manajer toko roti yang semalam menghubunginya.
Mata Yutasha membelalak saat membaca pesan dari manajer toko itu. Belum juga Yutasha datang ke toko, manajer toko itu bilang bahwa mereka tidak jadi menerima Yutasha menjadi karyawan mereka. Dengan alasan mereka mencari orang yang bisa masuk full time setiap harinya. Tentu saja Yutasha tidak bisa melakukan itu. Karena di pagi hari dia ada kelas.
"Ya sudah, fokus saja sama novel yang kamu tulis. Untuk masalah biaya, Aku masih sanggup membiayaimu, Yuta." entah sudah berapa kali Erlangga katakan pada Yutasha.
"Tapi aku tidak mau merepotkan, Mas Erlan. Lagian aku juga butuh tabungan untuk biaya hidup saat kita cerai nanti. Aku jugammhhh--" ucapan Yutasha tercekat karena di bungkam oleh Erlangga.
Erlangga me lum at bibir Yutasha dengan sangat rakus. Dia merasa marah karena lagi-lagi Yutasha membahas tentang masalah perceraian, baru berapa hari mereka menikah.
Erlangga mendorong tubuh Yutasha hingga menempel pada mobil di belakang Yutasha. Erlangga memperdalam pagutan mereka. Tidak menghiraukan ada beberapa mahasiswa yang melihat adegan mereka.
Mereka tidak menyangka, seorang Erlangga yang culun dan kutu buku itu, bisa berubah menjadi sosok pria yang hot saat berciuman. Ada beberapa mahasiswa yang mengabadikan momen Yutasha dan Erlangga dengan ponsel mereka.
Yutasha berkali-kali memukul bahu Erlangga agar melepaskan dirinya. Namun Erlangga tidak menghiraukannya. Dia baru melepas Yutasha saat merasa sudah puas.
"Jangan bahas tentang perceraian lagi, Yuta." ucap Erlangga. Jemarinya mengusap lembut bibir Yutasha yang membengkak akibat ulahnya.
Yutasha terdiam membeku. Dia merasa malu diperlakukan seperti ini di tempat umum. Tak terasa air matanya menetes. Ini sudah yang ke berapa kali Erlangga melanggar kesepakatan mereka.
Erlangga tahu bagaimana perasaan Yutasha saat ini. Apalagi dengan penampilan dirinya yang sebagai Erlan. Erlangga lupa akan hal itu. Image Yutasha sebagai gadis baik akan tercoreng.
"Aku mau pulang sendiri," lirih Yutasha mendorong tubuh Erlangga.
Dengan cepat Yutasha berlari menjauh dari Erlangga. Yutasha merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa dia membiarkan dirinya jatuh lebih dalam lagi pada permainan yang dia mulai.
Yutasha terus berlari hingga membawa dirinya sampai di persimpangan jalan. Di sana Yutasha melihat ada halte Bus dan mendudukkan dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Yutasha. "Aku bukan orang munafik yang tidak tertarik pada Mas Erlangga. Namun aku takut dan tidak siap akan sakit hati nanti. Sementara, pasti banyak perempuan diluar sana yang menginginkan Mas Erlangga. Aku bukan gadis bodoh yang tidak tahu itu. Aku hanya mencoba menyangkalnya saja selama ini," lirih nya lagi seraya menundukkan kepalanya.
Ingin sekali Yutasha mengakhiri ini dengan cepat. Akan tetapi, apa dirinya sanggup mengatakan yang sebenarnya pada keluarga mereka. Sementara keluarga Erlangga sangat baik padanya. Tidak membedakan dirinya yang berasal dari kalangan orang biasa. Dan juga orang tuanya sendiri pasti akan kecewa padanya untuk yang kesekian kali.
Ya, jalan satu-satunya adalah aku harus mengatakannya pada Mas Erlangga. Agar rasa yang ada di hatiku tidak terlampau jauh. Batin Yutasha. Dia ingin segera memutus hubungan yang baru terikat.
Saat Yutasha kalut dengan pemikirannya sendiri, ada seorang gadis yang duduk di sampingnya. Gadis itu mengulurkan tangannya yang memegang tisu. Yutasha tersenyum lalu menerima tisu tersebut.
"Makasih," ucap Yutasha.
Sudah aku ingatkan, kan Yuta. Jangan bermain api kalau tidak ingin terkena percikan cinta. Eh! salah ya🙈😂