
Setelah kejadian di pertunangannya kemarin malam, Yutasha benar-benar berubah sikapnya terhadap Erlangga. Ia bersikap cuek meskipun berpas-pasan sama Erlangga. Dan kecuekan Yutasha pada Erlangga itu disadari Hilda, sahabat Yutasha.
Kini, mereka tengah menikmati sarapan paginya di kantin. Hilda terus memandangi Yutasha sedari mereka duduk di bangku kantin tersebut.
"Kamu kenapa sih, Yuta? Dari kemarin aku perhatiin kok berubah banget sama Kak Erlangga?" tanya Hilda pada sahabatnya itu.
Yutasha menggeleng, lalu menjawab, "Aku juga bingung sama diriku sendiri, Hil."
"Bingung kenapa emang? Kan kalian sudah bertunangan. Otomatis perjodohan yang diatur oleh Papamu batal, kan?" Hilda mencondongkan badannya ke depan. Ia sangat penasaran tentang polemik kehidupan Yutasha.
"Bahkan minggu depan kita nikah." jawab Yutasha kesal.
"What! Nikah?" tanya Hilda terkejut, secara tidak sadar ia menggebrak meja dengan sangat keras. Sehingga mereka menjadi pusat perhatian.
"Sana! Pake toa masjid sekalian kalo teriak." kesal Yutasha seraya melempar botol kecap ke arah Hilda.
"Sorry, aku kaget saja Yuta. Tapi itu beneran kamu mau menikah dengan Kak Erlangga? Minggu depan apa nggak terlalu cepat? Percuma dong, kamu menghindar dari perjodohan kalau kamu sendiri malah menikah minggu depan." Ucap Hilda.
"Itu semua karena Kak Erlan, Hil. Kalau saja dia nggak berniat ngomong yang sebenarnya, aku nggak akan menciumnya lebih dulu untuk membungkam mulut Kak Erlan." Yutasha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu saat adegan ciuman panas mereka terlintas.
Disaat Yutasha merasa kesal karena masalahnya, yang dilakukan Hilda justru kebalikkannya. Hilda berdiri seraya bertepuk tangan dengan penuh semangat. Menjadikan mereka pusat perhatian di kantin itu untuk yang kedua kalinya.
Yutasha merasa malu, lalu menarik baju Hilda agar gadis di hadapannya itu duduk di tempatnya dengan tenang. Tidak menjadikan mereka pusat tatapan para pemburu berita di kampusnya.
"Kenapa sih? Aku kan juga ikut senang. Akhirnya sahabat aku punya banyak kemajuan. Jadi kalo menulis adegan ciuman, bisa menjabarkannya dengan jelas. Tidak dusta semata karena nggak pernah merasakan nikmatnya bibir manis milik seorang pria." dengan santainya Hilda berkata seperti itu. Tidak mengkoreksi dirinya sendiri yang juga jomblo.
"Ngaca dulu sana!" sarkas Yutasha. "Emang situ pernah ngerasain? Pacaran aja juga nggak pernah. Sok-sok nasehati segala."
"Memang gimana rasanya? Manis seperti kata di novel-novel? Atau asem seperti kisah asmaraku?" tanya Hilda penuh penasaran.
Sedangkan Yutasha menggeleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Dan tidak mungkin dirinya menjelaskan tentang rasa bibirnya Erlangga. Mengingatnya saja sudah membuatnya malu.
"Udah, ah. Yuk, masuk ke kelas." Yutasha memilih tidak menjawab pertanyaan Hilda. Ia mengajak Hilda untuk segera masuk ke kelas mereka.
Akhirnya mereka masuk ke kelas mereka setelah membayar makanan yang mereka makan di kantin tersebut. Hilda masih merasa kesal sekaligus penasaran dengan rasa yang dihasilkan dari ciuman.
Jam terus berdenting, hingga waktu pulang kuliah pun tiba. Yutasha melangkah menuju pos satpam yang berjaga di gerbang kampus. Ia berniat menunggu ojek online yang ia pesan melalui sebuah aplikasi di ponselnya itu di sebelah pos satpam.
Saat Yutasha sibuk memainkan ponsel sambil menunggu, ada sebuah mobil mewah berwarna hitam lekat berhenti tepat di depan dirinya berdiri.
Yutasha kaget saat mengetahui siapa yang keluar dari mobil mewah itu.
"Kamu kan....,"
Maaf, baru up🙏