
Setelah selesai makan malam, Yutasha dan Erlangga bersantai di dalam kamar mereka. Di pangkuan Yutasha sudah ada laptop yang siap untuk di pijat tombolnya dengan jari jemari lincah Yutasha. Sedangkan Erlangga bersandar di tepian ranjang memainkan ponselnya seraya menunggu Yutasha selesai menulis.
"Masih belum selesai?" tanya Erlangga menatap Yutasha yang dengan lincahnya mengetik satu persatu karakter yang ada di tombol keyword laptop.
"Sebentar lagi selesai, Mas." jawab Yutasha tanpa menoleh ke arah Erlangga. Erlangga pun mengangguk kemudian melanjutkan kegiatan nya yang mengecek bursa perusahaan dari layar ponsel miliknya.
Setelah hampir tiga puluh menit Yutasha menyelesaikan tulisannya, akhirnya kini dia menutup laptopnya dan menaruhnya di meja yang terdapat di samping empat tidur mereka.
"Mas," panggil Yutasha dengan lembut. Erlangga pun menoleh kearah Yutasha. Lalu menaruh ponselnya di samping dia duduk.
"Apa, Sayang?" tanya Erlangga menghadap ke arah Yutasha. Sehingga posisi mereka kini saling berhadapan.
"Kita cerai saja, Mas." ucap Yutasha bagaikan suara petir di telinga Erlangga.
Mata Erlangga melebar, menatap Yutasha dengan penuh kebingungan. Sejauh ini tidak ada masalah yang terjadi di antara mereka berdua. Dan Erlangga pikir Yutasha sudah menerima pernikahan ini dengan ikhlas.
"Kenapa?" Erlangga nampak gelisah. Apa selama ini dia tidak bisa membahagiakan Yutasha? Sehingga Yutasha kembali mengungkit tentang perceraian.
Erlangga takut akan kehilangan Yutasha. Dia tidak akan membiarkan perceraian itu terjadi di pernikahan mereka. Kalau diperlukan, Erlangga akan memakai cara kasar untuk menjerat Yutasha agar tetap disisinya.
"Karena Mas terlalu tampan," jawab Yutasha dengan santai. Dan jawaban Yutasha sangat lah tidak masuk akal menurut Erlangga.
"Karena orang tampan itu selalu dikelilingi wanita, Mas. Dan banyak wanita diluar sana yang sangat mendambakanmu. Dan aku nggak mau apa yang aku miliki di sentuh orang lain." ucapan Yutasha membuat Erlangga menyunggingkan bibirnya ke atas. Tentu saja hal itu tidak terlihat oleh Yutasha.
Ada rasa senang di dalam hati Erlangga. Apa ini artinya kau cemburu, Sayang? Tanya Erlangga di dalam hati. Baiklah, akan aku ikuti drama-mu ini. Erlangga berusaha untuk menahan senyumnya.
"Apakah itu alasanmu dulu membeliku? Saat aku berpenampilan jelek?" Yutasha mengangguk. Erlangga tidak habis pikir dengan jalan pikiran yang istrinya miliki.
"Ya, karena itu aku memilih Kak Erlangga sebagai suami cicilanku. Dan sekarang aku ingin kita cerai, Mas." Yutasha tidak memikirkan apa yang ia ucapkan itu bisa membangunkan serigala yang tengah terlelap.
Erlangga tersulut emosinya. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh istrinya. Dengan tenang dan tanpa di sangka oleh Yutasha, Erlangga mendorong tubuh Yutasha ke belakang dan kemudian menindih tubuh Yutasha. Tangan Erlangga mengunci kedua tangan Yutasha dan diletakkan di samping kiri dan kanan kepala Yutasha.
"Ma-mas... Kamu mau ngapain?" Yutasha gugup di bawah kungkungan tubuh Erlangga. Sementara Erlangga tersenyum miring, lalu mendekatkan wajahnya pada Yutasha.
"Bolehkah aku meminta hak-ku malam ini? Sebagai wujud rasa syukur ku atas nikmat yang Maha Kuasa berikan kepadaku?" ucap Erlangga dengan nada lembut. Membuat Yutasha semakin takut saat melihat ada kilatan yang tak biasa di mata Erlangga.
Yutasha mencoba memikirkan cara agar terlepas dari Erlangga untuk kesekian kalinya. Namun Yutasha sadar, kalau tak selamanya dirinya bisa menghindar dari kewajiban yang seharusnya ia berikan kepada suaminya.
Nah, loh! Jadi bingung sendiri kan kamu, Yuta😂
Apa aku skip aja ya, adegan nikmatnya? Tapi takut di santet online sama Mak Emak , yang udah pingin liat tingkah konyol Yuta saat melakukan ituðŸ¤