
Akhirnya hari ini Yutasha dan Erlangga pindah ke apartemen Erlangga. Pagi-pagi sekali mereka sudah menata barang Yutasha yang diletakkan di kamar Erlangga. Karena memang hanya terdapat satu kamar di dalam apartemen milik Erlangga.
Apartemen yang dibilang sederhana oleh Erlangga, tapi nyatanya bagaikan istana buat Yutasha. Yutasha menyayangkan, apartemen seluas ini hanya memiliki satu kamar utama, dan ada dua ruangan lain, yang terdiri dari ruang olahraga dan ruang kerja Erlangga.
Dan itu membuat Yutasha merasa sedikit kesal dengan Erlangga. Kenapa Erlangga tidak bilang kepadanya jika hanya ada satu kamar. Dengan kata lain, mereka juga harus berbagi kamar yang sama.
Setelah selesai menata barang-barangnya dan kemudian membersihkan diri, Yutasha bersiap untuk pergi ke kampus. Hari ini dia ada kelas di jam sebelas.
Sebelum berangkat, Yutasha telah memasak untuk Erlangga dan juga dirinya dengan bahan yang ada. Karena mereka belum membeli kebutuhan pangan mereka.
"Berangkat bareng aku saja, ya? " kata Erlangga baru keluar dari kamar mereka. Erlangga menuruni anak tangga dan menuju ke tempat Yutasha yang tengah mengambilkan makanan untuk Erlangga.
Kini penampilan Erlangga berubah seperti pertama kali Yutasha kenal. Erlangga berpenampilan culun kembali. Dengan memakai kacamata tebal, serta kemeja yang sedikit kebesaran.
"Mas juga ada kelas, emang?" tanya Yutasha tidak tahu kalau Erlangga juga ada kelas siang ini.
Erlangga duduk di kursi dan mulai menyantap nasi goreng buatan Yutasha untuk pertama kalinya. Di suapan pertama, Erlangga langsung menyukai masakan istrinya tersebut.
"Nanti sepulang kuliah, kita belanja ya?" bukannya menjawab pertanyaan Yutasha, Erlangga malah mengajak Yutasha untuk belanja kebutuhan mereka.
"Tapi mungkin aku pulang jam tiga sore, Mas. Soalnya nanti jam dua siang aku ada janji sama manajer toko," kata Yutasha. "Memangnya Mas selesai jam berapa?" tanya Yutasha.
"Manajer toko? Mau ngapain?" tanya Erlangga penuh selidik. Jangan bilang kamu mau mencari pekerjaan. Tebak Erlangga dalam hati.
"Kemarin tuh sebelum kita menikah, aku menaruh surat lamaran di toko roti itu, Mas. Dan semalam manajer toko mengirim pesan, agar aku datang di tokonya jam dua nanti," jelas Yutasha. Dan benar saja dugaan Erlangga.
"Toko roti mana?" tanya Erlangga penuh maksud yang tersembunyi.
"Oohh...,"
Erlangga tersenyum penuh arti. Dia kenal dengan manajer toko tersebut. Bagaimana bisa dia membiarkan Yutasha untuk bekerja. Erlangga tidak akan membiarkan itu.
Setelah menghabiskan makanannya, Erlangga dan Yutasha berangkat ke kampus dengan menggunakan motor butut yang biasa Erlangga gunakan.
Awalnya Erlangga ingin mengendarai mobilnya, namun dengan cepat Yutasha menolak jika mereka pergi menggunakan mobil. Yutasha tetap tidak mau jika Erlangga memperlihatkan jati dirinya yang asli. Yutasha merasa tidak nyaman saja dengan kemewahan yang di miliki suaminya.
"Mas! Berhenti di sini saja," Yutasha menepuk pelan bahu Erlangga agar menghentikan laju motornya.
"Kenapa?" kemudian Erlangga menepikan motornya.
Tangan Yutasha terangkat, lalu menata rambut Erlangga yang lupa belum seperti ciri khas sebagai kak Erlan yang cupu.
"Ini, rambut Mas belum ditata biar klimis, seperti ciri khasnya Kak Erlan." kata Yutasha. Membuat Erlangga tersenyum senang dengan perhatian kecil yang Yutasha berikan padanya.
Erlangga tidak memakai helm, karena helm yang biasa ia gunakan, Erlangga berikan pada Yutasha. Erlangga lebih memilih keselamatan Yutasha dibandingkan dirinya sendiri.
Jika tidak mengingat mereka sedang berada di pinggir jalan raya, Erlangga pasti sudah menyesap bibir Yutasha yang terlihat selalu menggoda iman-nya.
"Makasih, Sayang," ucap Erlangga dengan senyum tampan-nya. Namun itu malah membuat Yutasha memutar bola matanya.
Sementara, tidak jauh dari tempat mereka, ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah mereka. Tangan orang itu mengepal keras, seolah tidak suka melihat pemandangan yang matanya tangkap.
Jangan lupa berikan dukungan kalian pada cerita ini. Dengan cara beri like, gift dan komen. Kalau ada vote, aku juga mau😂