
Di tempat lain. Yutasha mengungkapkan pada keluarganya kalau acara pertunangannya dengan Erlangga dipercepat. Dan besok lah acara itu akan terselenggara. Semulanya, Arjun dan Dina keberatan. Karena begitu mendadak dan belum mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Yutasha kemudian menceritakan perihal rencana pertunangan nya. Ia ingin acara itu dikemas secara sederhana, jadi tidak memerlukan sesuatu yang rumit. Hanya menyambut empat orang saja, cukup dirinya dan Mama Dina yang mempersiapkannya. Arjun pun menyetujui perubahan hari pertunangan putrinya. Ia juga takut, jika semakin lama diundur akan semakin terlihat nanti perubahan fisik pada diri Yutasha.
Akhirnya, setelah semua disusun dan bagi tugas, datanglah hari yang mendebarkan bagi Yutasha. Mungkin juga akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Ia tidak meyangka akan secepat ini melepas masa lajangnya. Bahkan untuk hal pacaran saja, ia belum pernah menyicipinya.
Sore ini, langit yang berwarna jingga itu nampak terlihat indah, dengan bersamaan matahari yang mulai bersembunyi di balik langit belahan lain.
Yutasha menikmati langit berwarna jingga itu dari balik jendela kamarnya. Ia menatap penuh diam, menerawang kehidupannya mendatang setelah hari ini terlewati.
Yutasha tidak percaya, karena alasan konyolnya menghantarkan dirinya sampai ke posisi ini. Ia akan bertunangan dengan laki-laki yang tidak ia cintai. Lebih tepatnya dirinya belum pernah mengenal cinta dalam artian sesungguhnya. Yutasha hanya sering membaca serta mendengar kisah cinta itu dari novel maupun teman dekatnya.
"Apa ini pilihan yang tepat bagiku? Apa aku masih punya pilihan yang lain?" Yutasha bertanya pada dirinya sendiri.
Pikiran Yutasha mulai goyah. Ia menyalahkan kenapa papanya membuat perjodohan itu tanpa memberitahunya terlebih dulu. Sehingga tidak harus ia mengambil langkah seperti sekarang. Membayar seorang laki-laki yang sebelumnya tidak pernah ia kenal, dan menjadikan suami bayaran sesuai tenggat waktu yang disepakati.
Yutasha terlalu fokus pada lamunannya, sehingga tidak menyadari keberadaan Arkha yang sudah lama masuk kedalam kamar Yutasha. Arkha bisa merasakan sekacau apa perasaan sang kakak saat ini. Apalagi ini adalah ikatan resmi, yang mungkin kakaknya itu tidak bisa berbalik arah lagi.
Arkha melangkah pelan menghampiri tempat dimana Yutasha berdiri. Entah karena Arkha yang berjalannya tanpa menimbulkan suara, atau Yutasha yang tengah fokus pada lamunannya, hingga sampai Arkha berdiri tepat di sampingnya pun Yutasha tak menyadari itu.
Arkha merengkuh Yutasha dari samping, membuat Yutasha hampir terjingkat karena kaget. Setelah melihat siapa yang merengkuh nya, air mata Yutasha lolos begitu saja di wajah cantiknya.
Yutasha menyeka air matanya dengan jemarinya. Ia menatap lekat wajah adiknya itu, serta menggeleng kepalanya pelan.
"Nggak bisa, Dek. Kak Erlan dan juga keluarganya baik sama Kakak. Nggak mungkin Kakak mundur dan nanti malah mencoreng nama baik kedua keluarga." ucap Yutasha disela isak tangisnya.
Dan disaat mereka sedang terhanyut dalam perasaan gundah, pintu kamar Yutasha kembali terbuka. Arkha dan Yutasha menoleh ke arah pintu. Sebelumnya Yutasha menyeka air matanya dengan menempelkan wajahnya pada bahu Arkha.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Dina, mama dari Yutasha dan Arkha. "Loh, kenapa kok sembab gitu wajahnya?" Dina melihat wajah Yutasha yang sembab karena efek dari menangis.
"Nggak ada apa-apa kok, Ma. Tadi Lla Yuta enggak rela ninggalin Arkha. Padahal inikan masih acara lamaran, bukan nikahan. Eh, Kakak udah keburu laper." sangkal Arkha.
"Baper, Kha!" koreksi Yutasha sambil memukul pelan lengan Arkha.
Arkha dan Dina terkekeh melihat kekesalan Yutasha. Setidaknya untuk saat ini, Yutasha bisa tertawa seperti sebelumnya.
Please! jangan komen 'lanjut, next'๐
Tolong komen sesuai isi babnya. Ato kalo perlu, kritik saja. Aku malah suka yang begitu. Kalo cuman lanjut.. next... itu hanya aku lewatin doang๐