
"Siapa kau?" tanya Arga seraya menarik tudung yang dipakai untuk menutupi wajah orang tersebut. Dan betapa kagetnya Arga, saat mengetahui siapa orang yang telah mendorong Yutasha. Dia tidak menyangka, kalau orang itu tega melakukan hal seperti itu pada Yutasha.
"Kau!" Arga tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bagaimana bisa orang yang dekat dengan Yutasha melukai Yutasha.
"Nggak usah ikut campur!" bentak Hilda pada Arga seraya menepis tangan Arga dari bajunya.
"Dia temanmu!" Arga juga ikut tersulut emosi. Hilda yang sangat Yutasha percaya, malah menusuknya dari belakang.
Hilda tertawa sinis pada Arga. "Teman? Itu hanya awalannya saja sebelum dia merebut lelaki yang aku sukai! Bukannya kamu juga menyukai Yuta? Bagaimana kalau kita bekerjasama saling merebut orang yang kita cinta?" tawar Hilda dengan ide gilanya.
Arga menggeleng kepala. Memang benar dirinya menyukai Yutasha, tapi dia tidak akan pernah melukai Yutasha. Apalagi jika memisahkan Yutasha dengan orang yang dicintai. Jika memang itu benar.
"Aku tidak sekejam kamu, Hilda! Aku memang mencintai Yuta, tapi aku tidak akan memaksakan kehendakku padanya." ucapan Arga membuat tawa Hilda semakin kencang.
"Hahaha... Jangan munafik kamu, Arga!" pekik Hilda.
"Berhati-hatilah mulai sekarang. Karena aku akan selalu mengawasimu," ucap Arga menatap tajam serta menunjuk Hilda dengan jari telunjuknya.
Kemudian Arga meninggalkan Hilda sendiri. Dia akan mempertanyakan kepada Yutasha tentang status Yutasha yang sebenarnya. Arga tidak akan mempercayai gosip yang beredar tentang Yutasha begitu saja.
Sementara itu Hilda merasa geram terhadap Yutasha. Kenapa Yutasha yang baru tiba di kota ini sudah mendapatkan dua pria yang paling berpengaruh di kota ini. Rasa benci Hilda terhadap Yutasha semakin bertambah.
"Aku harus segera melenyapkan mu, Yuta." geram Hilda.
Erlangga terlihat begitu gelisah, saat mendapat kabar tentang keadaan Yutasha. Saat Erlangga sedang membicarakan bisnis dengan kliennya, Tanisha mengirimi pesan kalau Yutasha jatuh karena didorong seseorang. Tanisha mendapat informasi itu dari orang yang Tanisha suruh untuk melindungi kakak iparnya. Dan Erlangga baru mengetahui hal itu.
"Mas udah pulang? Kok nggak ngucap salam?" tanya Yutasha saat menyadari keberadaan Erlangga yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Yutasha, Erlangga langsung memeluk tubuh Yutasha dengan sangat erat. Seakan takut akan kehilangan Yuatasha dari sisinya. Membuat Yutasha sedikit bingung.
"Mas...Aku nggak bisa napas kalau meluknya terlalu erat," rengek Yutasha. Tangannya memukul bahu belakang Erlangga. Agar Erlangga mengurai pelukan mereka.
Erlangga tersadar dengan tindakannya. Lalu sedikit merenggangkan pelukannya terhadap Yutasha.
"Apa kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Erlangga sembari memeriksa di bagian mana Yutasha merasa sakit. Hingga Erlangga menyuruh Yutasha untuk memutar badannya.
"Mas, aku nggak apa-apa!" kesal Yutasha karena tak sengaja Erlangga menyentuh dua aset kembarnya. "Jangan modus, deh!" lanjut Yutasha.
Erlangga terkekeh saat menyadari kesalahan yang tidak akan ia sesali. "Aku hanya khawatir, Sayang," kata Erlangga kemudian. "Beneran nggak ada yang sakit? Apa perlu kita pergi ke dokter?" tanya Erlangga masih mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Perhatian yang berlebihan seperti inilah yang membuat Yutasha semakin jengah terhadap Erlangga. Terkadang suaminya itu terlalu memperbesar kekhawatiran nya terhadap dirinya.
"Mending Mas sekarang mandi dulu, deh. Setelah itu kita makan malam bareng," Yutasha mendorong tubuh Erlangga agar segera membersihkan dirinya. Karena setelah ini ada yang mau Yutasha katakan pada Erlangga.
Yutasha telah memikirkan baik-baik tentang apa yang akan dia ucapkan nanti pada Erlangga. Dan berharap Erlangga menerima semua itu.
Siapkan mental kalian yah🤧