
Meski hati dan pikirannya sedang menahan geram terhadap orang yang berada di hadapannya ini, Erlangga mencoba untuk bersikap tenang dan menunjukkan bahwa tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Meskipun ingin sekali Erlangga langsung membunuh orang di depannya saat ini.
"Waaahhh...ada angin apa ini, Tuan direktur utama mengajak Paman nya yang tak dianggap ini untuk bertemu?" tanya seorang pria paruh baya yang sedang menyesap kopinya.
Karena kecurigaannya terhadap pamannya sendiri terlalu kuat, akhirnya Erlangga memutuskan untuk mengajak suami dari adiknya papa Darren untuk bertemu di sebuah cafe bernama cafe Benning. Milik salah satu kolega bisnis Erlangga.
"Aku hanya ingin berbicara saja dengan Paman. Apa Paman tidak punya waktu luang untuk keponakanmu yang jenius ini?" tanya Erlangga dengan nada santai.
William terkekeh mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Erlangga. Pasalnya, hubungan mereka tidaklah sehangat ini sebelumnya. Semenjak mendiang istrinya meninggal, hubungan William dengan keluarga Elajar menjadi sedikit panas. Karena William tidak terima dengan bagian yang almarhum istrinya dapatkan.
Dari sanalah William selalu berusaha untuk merebut kekuasaan di perusahaan Elajar Corp. Dengan cara menghasut para pemegang saham yang lain untuk menolak Erlangga sebagai direktur utama mereka.
Berbagai cara telah William lakukan. Hingga mendengar kalau istri dari Erlangga tengah mengandung, dari situ William berpikir kalau dirinya tidak akan berkesempatan menjadi direktur utama perusahaan Elajar Corp, jika sampai anak dari Erlangga itu lahir.
William tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia melakukan percobaan pembunuhan pada Yutasha. Namun, gadis Barbie di keluarga Elajar tersebut tidak membiarkan Yutasha sendiri. Dia selalu menempel pada targetnya tersebut. Dan itu sangat menyulitkan William untuk melancarkan aksinya.
Dan kemarin kesempatan itu datang pada William. Anak buahnya melihat Yutasha sendirian yang sedang membeli rujak di depan rumah mereka. Lalu dengan segera William menyuruh orang-orangnya untuk menculik Yutasha. Karena selama ini William menaruh beberapa orangnya untuk mengintai kediaman Erlangga.
Erlangga berusaha keras menahan rasa geramnya terhadap pria paruh baya yang sedang tertawa lepas tersebut. Dia tidak boleh gegabah untuk memutuskan sesuatu. Karena nyawa istri dan calon anaknya taruhannya.
"Paman memang sangat mengerti aku," ucap Erlangga tersenyum miring. Dia tidak akan berbelit lagi kali ini. "Apa yang Paman inginkan? Aku akan mengabulkan semuanya." lanjut Erlangga seraya melipat kedua tangannya di depan dada dan menumpukan satu kakinya ke kakinya yang lain.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," kini giliran William yang berpura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Erlangga.
Dan hal itu sukses membuat emosi Erlangga meningkat. Dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Tangan Erlangga menggebrak meja dengan sangat keras. Untung Erlangga sudah memesan seluruh tempat di cafe ini. Jadi tidak ada pengunjung yang melihat pertikaian mereka.
"Dimana kau sembunyikan istriku!" bentak Erlangga. Dia melupakan tata Krama yang diajarkan oleh sang mama agar bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, dan saling menghargai kepada orang yang lebih muda darinya.
William nampak bersikap tenang tak menampakkan reaksi terkejutnya. Dia menyesap kopinya dengan penuh nikmat. Lalu menaruh gelas berisi sisa kopi tersebut ke atas meja. Membuat wajah Erlangga semakin merah padam.
Ini masih belum berakhir ya🤧