
"Kau pikir, aku akan membiarkan mu melakukan itu? Hah!" bentak seseorang yang tidak Hilda kenal. Di tangannya, ada senjata api yang telah menembus betisnya.
Hilda tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya sendiri. Gadis yang berparas bak bonek hidup dan terlihat lemah lembut itu ternyata sangat menakutkan saat marah. Bahkan dia sendiri tidak pernah menduga kalau Tanisha, adik dari laki-laki yang di cintai itu berkarakter seperti ini.
Tanisha tersenyum menyeringai, saat melihat wajah Hilda yang sangat ketakutan padanya. Dia mendapat kabar dari orang suruhannya tentang keadaan Yutasha. Ketika itu Tanisha sedang merayu tambatan hatinya agar kembali padanya.
Dan laki-laki itu kini menatap tidak percaya pada mantan kekasihnya. Gadis yang selalu jutek, namun terkadang manja itu ternyata memiliki sifat diluar penampilannya.
"Kalian jangan diam saja! Cepat bawa Kak Yuta ke rumah sakit!" bentak Tanisha pada orang-orangnya. Para orang suruhannya pun mengangkat tubuh Yutasha yanh terkulai lemas. Pada saat mereka ingin melangkah, terdengar suara boriton dari arah pintu.
"Jangan sentuh istriku!" bentak suara yang berasal dari arah pintu.
Semua melihat ke arah pintu, dan terlihat ada tiga pria yang melangkah masuk. Dan salah satu diantara mereka membuat Hilda tersenyum girang. Karena bisa melihat lelaki yang selama ini ia cintai.
"Erlan," lirih Hilda menatap nanar pada Erlangga yang berjalan menuju Yutasha berada.
Erlangga langsung mengambil alih tubuh istrinya, dari tangan orang suruhan Tanisha. Lalu menatap tajam pada Irang yang telah menyentuh rubuh istrinya tersebut. Membuat orang itu menunduk seketika. Tanisha hanya menggeleng melihat ke-posesifan kakaknya itu.
Sementara itu Dika merasa bersalah pada Yutasha. Dia memang mencintai Yutasha, namun caranya yang salah. Dan Dika baru sadar saat melihat tubuh Yutasha yang terkulai lemas seperti saat ini.
"Aku tidak lupa. Kau sahabat dari istriku yang ternyata seorang iblis!" ucap Erlangga menoleh sekilas pada Hilda. Ingin rasanya Erlangga membunuhnya, namun keadaan Yutasha sekarang lebih penting. Yutasha membutuhkan penolongan segera.
"Ck! Kau benar melupakanku secepat itu? Aku Hilda Andini! Gadis yang selalu menyatakan cinta padamu. Gadis yang selalu memperhatikan semua sikapmu. Gadis yang selalu kau tolak cintanya." di ujung kalimatnya Hilda berkata lirih. Merasa miris dengan hidupnya sendiri.
Mendengar nama Andini, Erlangga meradang seketika. Karena nama gadis itulah yang selama ini merusak hidupnya. Selalu menyingkirkan perempuan yang tengah dekat dengannya. Hingga Erlangga merasa bersalah, karena hidup perempuan-perempuan itu berakhir akibat dekat dengan dirinya. Itulah sebabnya, Erlangga memutuskan untuk pindah dan menyamar menjadi jelek dan culun. Agar gadis yang bernama Andini itu tidak mengikutinya dan merusak kembali hidupnya.
"Kau!" geram Erlangga dan Hilda menampilkan senyuman semanis mungkin di depan lelaki yang ia cintai.
"Iya, Sayang. Apa kau sudah mengingat ku?" tanya Hilda seraya mencoba berdiri dan menghampiri Erlangga.
Dika melihat ada sesuatu yang aneh pada diri wanita yang betisnya terluka tersebut. Dan di balik tangan wanita itu, tersembunyi sebuah pisau kecil namun sedikit panjang. Dika dapat melihat itu dengan jelas, karena posisinya berada di samping Hilda.
Tanisha juga nampak khawatir melihat Hilda melangkah yang semakin dekat dengan kakaknya. Lalu Tanisha memasang posisi siaga, siap menembak jika terjadi hal diluar dugaannya. Namun tangannya dicegah oleh Devan yang berdiri di samping Tanisha.
"Jangan gegabah, lebih baik suruh kakakmu untuk segera membawa istrinya ke rumah sakit. Sebelum nyawanya terancam," bisik Devan dengan lembut di telinga Tanisha.
Waahhh Bang Dev....😍