Suami Cicilan

Suami Cicilan
Morning Kiss


Pagi harinya setelah mereka sah menjadi suami istri, Yutasha melangkahkan kakinya menuju dapur dengan wajah ditekuk. Membuat Dina penasaran dengan apa yang terjadi pada putrinya.


"Ada apa, Yuta?" tanya Dina penasaran.


Yutasha tidak langsung menjawab. Dia memilih mengambil sayuran dan membersihkannya. Hatinya masih kesal karena ulah Erlangga yang mengerjainya.


Setelah sholat Tahajjud, mereka kembali tidur lagi. Namun dengan Erlangga yang tidur di sofa. Itu hanya awalnya saja. Karena setelah Yutasha terlelap, Erlangga pindah ke ranjang yang sama dengan Yutasha. Dan berbaring di samping Yutasha.


Tanpa Yutasha sadari, Erlangga memindah bantal guling yang dipakai Yutasha. Dan menggantikan bantal guling tersebut dengan dirinya.


Tentu saja Yutasha yang tidak bisa tidur jika tidak memeluk bantal guling, langsung memeluk tubuh Erlangga yang dia kira bantal guling kesayangannya.


Dan hal itu membuat Erlangga tersenyum senang. Malam ini dia benar-benar menang banyak dari Yutasha.


Di pagi harinya Yutasha mengerjapkan matanya dengan pelan. Tangannya meraba bantal guling kesayangannya yang terasa berbeda.


"Kok beda, ya?" ucap Yutasha pelan. Kemudian membuka matanya dengan sempurna. Betapa kagetnya Yutasha saat melihat Erlangga berada tepat dihadapannya.


"Pagi istriku," sapa Erlangga dengan senyum mengembang di bibirnya.


Dengan reflek Yutasha bergerak mundur hingga membuat tubuhnya akan terjatuh, jika saja Erlangga tidak cepat menarik tubuhnya.


"Oh, ternyata istriku ini minta dipeluk untuk sapaan di setiap baru bangun, ya?" ucap Erlangga berniat menggoda Yutasha. Tangannya semakin menarik tubuh Yutasha agar lebih dekat lagi dengan tubuhnya.


"Mas, lepas!" ucap Yutasha sembari mencoba melepaskan diri dari dekapan Erlangga.


"Morning kiss dulu, baru aku lepaskan." Erlangga memajukan bibirnya. Membuat Yutasha dengan cepat menutup bibirnya dengan telapak tangan sebelah.


Yutasha menatap tajam Erlangga. Namun tidak dihiraukan oleh Erlangga.


"Kamu bilang apa, Sayang?" tanya Erlangga berpura-pura tidak mengerti. "Coba di turunin dulu tangannya. Baru ngomong." lanjut Erlangga.


Dan Yutasha pun percaya dengan perkataan Erlangga. Lalu Yutasha menurunkan tangannya dari bibirnya.


Tanpa menunggu lama, bahkan tangan Yutasha belum sampai ke bawah. Erlangga langsung menyambar bibir Yutasha dengan penuh nafsu.


"Ahh...mmhh...," suara Yutasha tercekat di tenggorokan. Karena Erlangga tidak membuang kesempatan yang datang kepadanya


Awalnya Yutasha mencoba memberontak, namun sia-sia saja. Kemudian dengan pasrah Yutasha mengikuti permainan lidah Erlangga. Mencoba menikmati ciuman di pagi hari pertama mereka menjadi suami-istri.


Ternyata jika dinikmati dan diresapi, rasanya enak juga. Batin Yutasha. Dia bisa menyalurkan perasaannya saat ini ke dalam sebuah tulisannya. Bukan hanya riset dari membaca yang selama ini Yutasha lakukan.


Bibir Erlangga tertarik ke atas saat melihat Yutasha juga menikmati ciuman mereka. Tanpa canggung lagi Erlangga semakin memperdalam ciuman mereka. Hingga membuat Yutasha menyerah karena kehabisan pasokan oksigen di paru-paru nya.


"Pagi, Ma." sapa Erlangga pada Dina dengan wajah yang segar dan berseri. Berbanding terbalik dengan Yutasha.


"Pagi, Erlan." jawab Dina. Sementara Yutasha memasang wajah cemberut pada Erlangga. Membuat Dina semakin dibuat penasaran oleh pengantin baru tersebut.


"Eh, tunggu dulu. Ini kenapa wajah kalian sangat bertolak belakang?" Dina menatap Yutasha dan Erlangga secara bergantian.


Erlangga tersenyum kepada mertuanya. Kemudian menjawab pertanyaan Dina.


"Biasa, Ma. Pengantin baru," jawab Erlangga dengan bahasa yang cukup ambigu bagi Yutasha.


"Oohh...sudah gol toh!" ucap Dina menyimpulkan perkataan Erlangga. Membuat Yutasha melotot tajam ke arah Erlangga. Sementara yang ditatap hanya menyengir puas.


Aku juga mau di kasih morning kiss, Mas🤭