Suami Cicilan

Suami Cicilan
Ending Dari Tamat


Doorr!!!


Pelatuk senjata api itupun berhasil ditarik dengan sempurna oleh jemari William. Timah panas pun mendarat dengan sempurna di dada Arga. Tepat di bagian dada sebelah kirinya.


Mata William melebar menyadari siapa yang terkena timah panas miliknya. Tubuhnya terasa lemas, saat melihat darah segar menyembur dengan sempurna dari dalam tubuh sang putra. Kini, semua hal yang ia lakukan selama ini sia-sia.


Dengan rela dan hati yang bahagia, Arga rela menjadi tameng untuk melindungi perempuan yang selama ini mampu menarik perhatiannya. Perempuan yang selama ini berhasil mencuri hatinya. Perempuan yang selama ini selalu memenuhi pikirannya. Perempuan yang empat bulan ini selalu mengisi hari-harinya dengan suara tawa serta candaannya. Perempuan yang akhir-akhir ini selalu merepotkan dirinya dengan permintaan konyol nya.


Arga tidak menyesal mengorbankan dirinya demi perempuan pujaan hatinya. Tubuhnya yang jatuh tepat mengenai tubuh Erlangga, dan dengan sigap Erlangga menopang tubuh sepupu-nya tersebut.


Yutasha menjerit histeris saat melihat keadaan Arga yang berlumuran dengan darah. Dengan sisa tenaganya, tangannya mencoba meraih tangan Arga, kakak seniornya yang beberapa bulan terakhir ini selalu menemani harinya dikala Erlangga berangkat kerja. Dia berperan sebagai sahabatnya, menggantikan Hilda.


"Kak...," lirih Yutasha menggenggam erat tangan Arga. Arga pun tersenyum ke arah Yutasha, lalu kemudian beralih menatap Erlangga.


"Jaga dia baik-baik mulai sekarang, Lan. Jangan biarkan dia sendirian lagi. Karena aku sudah tidak bisa menggantikan mu, dikala kamu sedang tidak bersamanya," ucap Arga dengan suara yang mulai tidak jelas.


Erlangga mengangguk, lalu segera meminta Tanisha untuk menghubungi istri dari temannya. Sedangkan Yutasha masih menangisi Arga di sebelah suaminya. Dia masih tidak percaya akan apa yang terjadi hari ini.


"Kak Arga...bertahanlah sebentar lagi. Kak Aya pasti bisa sembuhin Kakak," Yutasha tak mampu menahan kesedihannya. Bahkan sekarang perutnya terasa keram.


Arga menampilkan senyuman yang paling menawan untuk istri dari sepupu-nya tersebut. Dia tidak menyesal telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dua nyawa sekaligus.


"Tersenyumlah, Yuta. Aku suka lihat senyum kamu yang menampilkan gigi gingsul-mu itu." ucap Arga dengan nada lirih. Tangannya terangkat, mencoba menyentuh wajah Yutasha. Lalu Yutasha tersenyum sesuai permintaan Arga.


"Mas, cepat hubungi Kak Aya. Suruh dia kesini bersama tim medisnya," suruh Yutasha kepada sang suami. Erlangga mengangguk mencoba menenangkan istrinya tersebut.


"Iya, Sayang. Mas udah nyuruh Tanisha. Dan katanya mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini," jawab Erlangga seraya mengusap lembut punggung Yutasha.


"Aku tidak menyesal telah mencintaimu, Yuta," ucap Arga ditengah kepanikan mereka semua. "Ka-kamu adalah wanita pertama yang mampu menarik perhatianku. Dan kamu adalah alasan aku hidup untuk beberapa bulan terakhir ini," ucap Arga susah payah. Karena luka di dadanya sakitnya sungguh luar biasa.


"Maksud Kakak?" Yutasha menatap Arga tak mengerti.


"Arga juga mempunyai riwayat penyakit jantung, Sayang. Sama seperti Bibi," jelas Erlangga sangat mengejutkan Yutasha.


Belum sempat Yutasha melayangkan protes kepada Arga, karena tidak berkata jujur kepadanya selama ini. Tiba-tiba tangan Arga mencengkeram tangan Yutasha dengan sangat erat. Membuat Yutasha dan Erlangga menatap panik dengan kondisi Arga saat ini.


Tidak lama kemudian, Arga menghembuskan nafas terakhirnya dengan bibir yang melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman yang paling bahagia.


Yutasha menangis histeris seketika. Dia menggoyangkan tubuh Arga dengan pelan. Mencoba untuk membangunkan kakak seniornya tersebut.


"Kak....bangun, Kak...!" jerit Yutasha terdengar begitu pilu.


Erlangga membawa tubuh Yutasha kedalam pelukannya. Ia tahu seberapa dekatnya Yutasha dengan Arga akhir-akhir ini.


Sementara William menangis dalam diam. Dia tidak bisa berucap sepatah katapun. Seolah shock dengan kenyataan yang baru saja terjadi. Untuk kedua kalinya, dia kehilangan orang yang paling dia cintai di dalam hidupnya. Di depan mata kepalanya sendiri.


Apa yang selama ini menjadi obsesinya untuk menduduki sebuah jabatan yang tinggi, serta membalaskan dendam atas kematian sang istri yang ia pikir karena ketidak perhatiannya dari keluarga istrinya.


Namun, ternyata itu salah besar. Istrinya meninggal akibat ulah darinya sendiri. William merasa frustasi. Dia berpikir, hidupnya akan sia-sia tanpa ada orang-orang tercintanya disisinya sekarang.


Dengan penuh penyesalan yang sangat dalam, dan rasa bersalahnya terhadap sang putra. Kini, matahari yang selalu menghangatkannya itu pergi darinya untuk selamanya.


Tanpa disadari oleh siapapun, William mengiris nadi di tangannya dengan sangat dalam. Tidak cukup dengan hal itu, lalu dia menarik pelatuk senjata api miliknya sendiri dan diarahkan tepat ke pelipis sebelah kanan.


Dan....dor! Timah panas itupun mampu menembus ke tulang kepalanya. Tubuhnya pun langsung tergeletak di lantai. Matanya menatap ke arah sang putra.


"Aku akan menyusul kalian," ucapnya sebelum matanya tertutup sempurna.


Semua orang tidak menyangka William akan berbuat senekat itu. Darren menghela napasnya kasar. Semua ini terjadi hanya karena sebuah harta, cinta dan obsesi semata.


Yutasha terlihat begitu shock. Baru satu tahun pindah ke kota ini, dirinya sudah mengalami begitu banyak situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Pernikahan yang tak terduga. Persahabatan yang ternodai hanya karena obsesi semata. Serta kehilangan orang yang ia sayang, hanya karena masalah perebutan kekuasaan dan dendam di masa lalu.


Yutasha tidak menyangka perjalanan hidupnya akan semenegangkan seperti ini.


Setelah semua selesai dengan permasalahan yang ada. Tidak ada lagi dendam, perebutan, serta obsesi. Yutasha meminta kepada suaminya untuk pindah dari kota ini. Dia memilih kota terpencil yang ada di Jawa Timur untuk menenangkan diri dari semua kejadian ini dan memilih untuk melahirkan di sana.


"Aku mau tinggal di Jember, Mas," ucap Yutasha selesai menghadiri acara pemakaman Arga dan William.


"Aku belum menyiapkan rumah untuk kita tinggali, Sayang." ucap Erlangga yang memang belum mempersiapkan segala sesuatu untuk mereka di sana.


"Aku sudah membeli rumah di sana, Mas. Di perumahan Toda Regency, yang ada di kota Ambulu. Salah satu kota yang ada di Kab. jember, Mas." jelas Yutasha.


Dan Erlangga pun mengiyakan permintaan sang istri.


Makasih atas dukungan yang telah kalian berikan selama ini untukku. Jika berkenan, Baca juga Karyaku yang lain😊


Me Love Kalian Puuuullll😘😘


Devan dan Tanisha udah publish. Buruan di kaporitin😉