Suami Cicilan

Suami Cicilan
Jangan Lakukan Lagi


"Jangan gegabah, lebih baik suruh kakakmu untuk segera membawa istrinya ke rumah sakit. Sebelum nyawanya terancam," bisik Devan dengan lembut di telinga Tanisha.


Tanisha membenarkan apa yang dikatakan oleh Devan. Namun, sebelum dia berkata pada kakaknya, Hilda berlari dengan susah payah untuk menjangkau Erlangga.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada wanita yang boleh memilikimu juga. Mari kita mati bersama." ucap Hilda seraya berusaha menjangkau Erlangga dan Yutasha.


Tangan Hilda mengarah ke depan, seraya memposisikan pisau yang dia sembunyikan di balik tangannya tadi tepat kearah tubuh Yutasha yang berada di gendongan Erlangga.


"Awas!" pekik Dika saat dengan cepat Hilda mengarahkan pisau itu ke tubuh wanita yang dicintainya. Dika berlari secepat mungkin ke arah Erlangga dan memasang tubuhnya sebagai tameng.


Jleb!


Pisau itu tertancap di sebelah kanan perut Dika. Tanisha begitu geram dengan Hilda, karena tindakan Hilda memakan korban lain. Dan seketika itu peringatan dari Devan tidak ia hiraukan.


Jari Tanisha menarik pelatuk di pistol yang dia pegang sebanyak dua kali. Dan tembakan itu ia arahkan ke tangan Hilda sebelah kanan yang memegang pisau, dan kaki sebelahnya lagi. Membuat jeritan Hilda semakin terdengar nyaring.


"Dasar, setan sialan!" pekik Hilda menatap Tanisha dengan tatapan nyalang. Tanisha tersenyum menyeringai sambil berjalan mendekati Hilda. Lalu berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan posisi Hilda yang kini tersungkur ke lantai dengan luka tembakan di tiga tempat.


"Dan beruntunglah kau, karena bisa melihat setan secantik diriku." Tanisha mengangkat dagu Hilda dengan ujung pistol nya. Membuat Hilda gemetar ketakutan. Keberanian yang sedari tadi Hilda sombongkan, kini berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat dalam pada Tanisha. Gadis cantik yang terlihat lemah lembut itu, bisa berubah menjadi malaikat pencabut nyawa dalam sekejap mata.


"Apa perlu aku buat mulut ini tidak bisa mengeluarkan kata-kata busuk lagi?" ancam Tanisha dengan senyum manis yang dia tampilkan. Namun, di mata Hilda itu adalah senyuman paling mengerikan yang pernah dia lihat.


Lalu Tanisha mengarahkan menurunkan pistol nya sampai ke leher Hilda. Jarinya siap untuk menarik pelatuk dari pistol tersebut. Membuat tubuh Hilda semakin bergetar hebat. Dan Tanisha semakin tersenyum penuh arti.


"Jangan lakukan lagi," bisik Devan lembut kemudian menyesap cepat bibir Tanisha. Berusaha untuk meredakan emosi mantan kekasihnya tersebut. Karena jika dibiarkan lanjut, nyawa Hilda akan benar-benar melayang.


Tanisha luluh seketika mendapati Devan kembali bersikap lembut padanya. Namun, tanpa Tanisha duga, Devan menarik pelatuk pistol yang dia ambil dari tangan Tanisha dan di arahkan ke tangan Hilda yang satunya lagi. Membuat jeritan Hilda kembali terdengar.


"Itu bayaran karena kau telah berani menusuk temanku!" gertak Devan menatap tajam ke arah Hilda.


Sementara itu, Bagas memapah tubuh Dika yang berlumuran darah di bagian perutnya. Pergi keluar dari ruangan tersebut. Begitupun dengan Erlangga yang membopong tubuh istrinya dan masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh Bagas.


"Maafkan aku, Dik." ucap Erlangga yang duduk di belakang Dika dan sedang memangku istrinya yang masih belum tersadar.


Dika meringis menahan sakit di bagian perut. Serta tangannya sedang menekan luka di perutnya, dengan sebuah kain yang diberikan oleh anak buah Tanisha.


"Ini balasan untukku karena pernah berbuat jahat pada istrimu, dulu." ucap Dika berusaha untuk bertahan agar tetap sadar. Karena darah yang keluar dari luka di perutnya cukup banyak.


Erlangga tahu apa yang terjadi antara Dika dan Yutasha di masa lalu. Dia baru mengetahui masalah itu baru beberapa hari yang lalu dari orang kepercayaan adiknya. Namun, Erlangga berusaha bersikap biasa. Ingin Dika berkata jujur padanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Erlangga. Kemudian Dika menceritakan semuanya tanpa dia tutupi. Sesuai dengan apa yang Erlangga dengar dari Alvin, orang kepercayaan Tanisha. Dan sekarang Dika menyesal, telah memilih jalan yang salah.


Jangan lupa dukung cerita ini🤗