Suami Cicilan

Suami Cicilan
Extra Part. 7


"Apa yang membuat kecurigaanmu itu mengarah padaku?" tanya William menatap tajam kearah keponakannya itu.


"Karena tidak ada kandidat lain selain Paman!" jawab Erlangga dengan suara lantang.


William tersenyum menanggapi tuduhan yang Erlangga layangkan padanya. Lalu William berdiri dan ingin beranjak dari sana.


"Daripada kau membuang waktumu di sini, lebih baik segera temukan istrimu dengan cepat. Sebelum kau tidak bisa melihat senyumnya," bisik William penuh dengan nada tekanan. Lalu berjalan menjauh dari sana.


Sesungguhnya Erlangga sangat ingin membunuh paman-nya itu di sana. Namun, tanpa Erlangga tahu ternyata papa Darren menyusul Erlangga ke cafe Benning.


Tentu saja hal yang mudah bagi papa Darren untuk mengetahui masalah yang ada. Tapi ia tidak bisa gegabah menghakimi adik ipar-nya itu tanpa bukti yang ada. Apalagi sang mendiang adik perempuannya sangat mencintai pria brengsek tersebut.


Saat papa Darren berpas-pasan dengan William, dia mendekat lalu membisikkan sesuatu pada adik iparnya tersebut. Tentu saja hal itu mampu merubah mimik wajah William seketika.


Erlangga sudah tidak bisa sabar lagi melihat dengan santai nya paman-nya itu mengancam dirinya. Dengan gerakan cepat, Erlangga mengarahkan senjata api nya tepat membidik ke arah William yang kini tengah berjalan ke depan.


Namun, belum sempat dia menarik pelatuknya, papa Darren lebih dulu merebut senjata api itu dari tangan Erlangga.


"Kau sudah gila!" bentak papa Darren pada putranya. "Apa kau ingin menjadi seorang pembunuh? Apa kau tak memikirkan masa depan istrimu dan anakmu?" sarkas papa Darren lagi. Dia berusaha menyadarkan Erlangga akan apa yang dilakukannya.


Mendengar kata istri dan anaknya, seketika Erlangga sadar akan keselamatan mereka. Lalu menatap khawatir kepada sang papa.


"Pa! Yuta dalam bahaya, Pa!" kata Erlangga dengan nada panik. Namun, papa Darren berusaha menenangkan putranya.


"Papa sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan menantu Papa. Dan bisa-bisanya kalian menyembunyikan ini dari Papa!" papa Darren terlihat sangat kecewa pada Erlangga. Tapi ini bukan saatnya untuk mereka membahas yang tidak lebih penting dari keselamatan Yutasha sekarang.


Butuh waktu berjam-jam untuk bisa menemukan tempat Yutasha. Tanisha dan orang-orangnya lantas tidak langsung menyergap ke sebuah gedung tua. Di luar gedung tersebut, dikelilingi oleh begitu banyak penjaga yang bersiaga.


Mereka benar-benar menjaga Yutasha dengan sangat ketat. Lalu Tanisha mengatur strategi bagaiman untuk menyusup ke dalam, sementara dia kalah jumlah dengan para penjaga gedung tua tersebut.


Sedangkan di dalam sana, terlihat Yutasha tengah terbaring di atas lantai tanpa alas sekalipun. Dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


Bagaimana tidak mengenaskan, jika dia hanya menggunakan pakaian rumahan yang biasa disebut oleh kaum rebahan adalah baju daster. Dengan tangan dan kaki diikat dan tangannya diarahkan ke belakang, serta mulut yang disumpal dengan kain.


Dengan suasana malam yang dingin seperti ini, tubuh Yutasha jelas menggigil kedinginan. Merasakan angin malam dan dinginnya lantai, menusuk hingga ke tulangnya. Bibirnya pun mulai terlihat membiru.


Saat Tanisha ingin melangkah lebih dekat lagi, terlihat ada sebuah mobil mewah yang memasuki area gedung tua tersebut.


Tanisha memperhatikan siapa pria paruh baya yang turun dari mobil mewah itu. Sepersekian detik dia memperhatikan dengan mata yang jeli. Betapa kaget nya Tanisha saat melihat siapa pria paruh baya tersebut.


Tanisha tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. Bagaimana bisa, saudara dekat keluarga mereka tega melakukan ini hanya untuk sebuah kekuasaan.


Tanisha merasa geram dan ingin langsung menghabisi pria paruh baya itu. Dia begitu bersikap munafik jika di depannya.


"Jangan gegabah, Nona. Kita perhatikan sedikit lebih lama lagi, baru kita menyerang," cegah anak buah Tanisha, saat Tanisha dengan gegabah ingin menyerangnya langsung.


Tinggal tiga part lagi mungkin ya🤧