
"Acara pertunangan kita adakan besok." ucap Erlangga. Membuat Yutasha mematung seketika.
"Hah? Besok?" tanya Yutasha tidak percaya.
Yutasha menarik tangannya lalu menutup mulutnya sendiri. Karena kini mereka menjadi pusat perhatian dari para penghuni perpustakaan akibat ulahnya yang spontanitas tersebut.
"Kenapa?" tanya Erlangga. "Apa mau menunggu sampai perutmu membesar?" bisik Erlangga tepat di telinga Yutasha. Ia sengaja menggoda gadis yang telah membeli dirinya itu.
Tubuh Yutasha lagi dan lagi meremang hanya karena tindakan kecil oleh Erlangga. Karena memang dirinya tidak pernah dekat dengan mahluk yang dinamakan laki-laki, itu. Ia selalu mengurung diri dan hanya berkutat dengan laptop dan gambar-gambar khayalan nya saja di dalam kamar.
"Bu-bukan begitu, Kak!" akhirnya setelah bisa menguasai dirinya ia bisa menjawab pertanyaan Erlangga. "Bagaimana dengan persiapannya? Aku belum bilang sama Mama untuk hal ini. Karena rencana awal kita masih tida hari lagi, kan?" Yutasha mencari berbagai alasan untuk mengundur acara pertunangan itu.
Jujur saja, bagi Yutasha sebuah pernikahan itu harus dipikirkan secara matang dan jangan gegabah. Dan disini ia menyesali perbuatannya karena telah mempermainkan sebuah ikatan suci yang bernamakan pernikahan. Ia belum siap betul jika harus menikah sekarang.
Namun apalah daya nasi yang sudah terlanjur menjadi bubur. Tidak bisa ia ubah untuk menjadi nasi goreng atau nasi campur.
"Kamu tenang saja. Aku sudah menyiapkan semuanya dan hanya keluarga intiku saja yang datang ke rumahmu." ucap Erlangga dengan santai.
"Tidak bisa gitu, Kak. Aku yang harus menyiapkan semuanya, karena aku yang memulai permainan ini!" ucap Yutasha sedikit gusar. Karena mempersiapkan lamaran itu tidak semudah yang dibayangkan.
"Tenang saja, Yuta. Aku akan memerankan permainan ini dengan baik." Padahal Erlangga sangat menjiwai bahkan dengan setulus hati memerankan nya.
Saat terjadi perdebatan diantara mereka berdua, Hilda yang sudah jengah mendengarkan itu, akhirnya pun ia angkat suara.
Hilda menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sadar akan apa yang telah ia ucapkan. Kemudian ia berpura-pura membaca buku kembali setelah mendapat tatapan yang tak biasa dari kedua mahluk itu.
"Sorry!" ucapnya lalu beralih fokus pada buku lagi.
Yutasha dan Erlangga kemudian saling pandang. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Hilda itu adalah jalan tengah yang tengah mereka perdebatkan barusan.
Tidak mengambil waktu lebih lama lagi, Erlangga mengemas barangnya, memasukkan ponsel ke dalam tasnya lalu menggandeng tangan Yutasha.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Keburu malam nanti pulangnya. Dan jangan lupa kabari Mama terlebih dulu." berbagai perintah Erlangga ucapkan dengan tangannya yang masih memegang tangan Yutasha.
Yutasha sedikit terkesiap dengan tindakan Erlangga yang menurutnya terlalu buru-buru. Namun tidak memungkiri memang itulah jalan tengah untuk mereka. Salah ia sendiri yang telah mengatakan kalau sudah tidak virgin lagi pada sang papa. Dan sekarang inilah akibatnya.
Yutasha baru sadar akan tangan Erlangga yang menggenggam erat pergelangan tangannya. Dengan gerakan halus, ia melepas genggaman itu seraya berkata,
"Tidak enak Kak, jika diliat sama yang lain. Aku belum terbiasa," tolak Yutasha dengan alasan yang memang logis menurut Erlangga.
Erlangga melepas tautan itu lalu merutuki dirinya sendiri yang terlalu ter buru-buru pada Yutasha. Ia sudah tidak sabar ingin mengikat Yutasha dengan sebuah ikatan yang lebih resmi dari sekedar pacaran.
Jangan lupa like😘