Suami Cicilan

Suami Cicilan
Wejangan


Sementara itu, Erlangga tak henti-hentinya tertawa di dalam kamar apartemennya yang luas tersebut. Ia menggeleng kepala saat mengingat reaksi yang Yutasha tampilkan.


"Kau benar-benar memberi warna dalam hidupku, Yutasha Geraldine." ucap Erlangga yang masih setia menatap foto Yutasha hasil Screenshot barusan. Tentu saja itu tanpa sepengetahuan Yutasha. Jika gadis itu tahu, bisa dibuat rendang nanti, Erlangga.


Waktu berjalan sangat cepat. Hingga tak terasa kini tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua belah keluarga. Terutama Erlangga yang sangat antusias dengan pernikahan ini.


Di ruangan yang sangat luas, tepatnya di kamar Erlangga yang berada di kediaman Elajar, terlihat seorang pria yang tengah sibuk mematut dirinya di depan cermin. Ia nampak bimbang dengan penampilannya ini.


"Aku musti berpenampilan yang bagaimana?" Erlangga bertanya pada dirinya sendiri.


Erlangga terus merapikan penampilannya, memasang dan melepas kembali alat penyamarannya selama ini. Dan saat Erlangga memakai kacamata, serta memakai wig untuk menyamarkan rambutnya agar tak dikenali sebagai Erlangga Elajar, terbukalah pintu kamar Erlangga yang luasnya setara enam kamar kost.


"Belum selesai, Sayang?" tanya Karina pada sang putra.


Erlangga menoleh ke asal suara. Lalu menggeleng kepala sebagai jawaban dari pertanyaan sang mama.


"Erlangga bingung, Ma." jawab Erlangga.


"Bingung kenapa Sayang? Harusnya kamu seneng dong, bisa mempersunting gadis cantik itu. Mama sangat suka dengan Yuta, Lan. Dia gadis biasa yang sangat sederhana. Bahkan menerima kamu dengan keadaanmu yang kekurangan itu." ucap Kalian memuji calon menantunya yang beberapa jam ke depan sudah sah menjadi bagian keluarga Elajar.


"Aku memang sangat beruntung, Ma. Bisa mendapatkan, lebih tepatnya di beli oleh gadis itu. Di jaman modern seperti ini, jarang ada gadis yang menerima jika diajak berjuang bersama. Dan aku mendapatkan salah satu gadis langka yang seperti itu." ucap Erlangga sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan gadis yang bernama Yutasha Gerladine.


Erlangga mendesah, sebelum menjawab. "Aku bingung dengan penampilanku, Ma," Erlangga kembali menatap penampilannya sendiri.


Karina seolah tahu apa yang dipikirkan oleh putranya itu. Karina menepuk halus baru Erlangga dan kemudian menatap putranya dengan senyuman merekah.


"Lebih baik kamu terbuka mulai sekarang, Sayang. Sebelum dia mengetahuinya dari orang lain. Karena itu lebih menyakitkan. Yuta gadis yang baik, Mama yakin dia juga menerimamu sebagai Erlangga Elajar. Namun tetap, kita harus menyembunyikan pernikahan ini. Agar keselamatan Yuta terjaga." Karina memberi wejangan pada sang putra sebelum mereka berangkat ke kediaman Yutasha.


Erlangga mengangguk membenarkan ucapan sang mama. Kemudian Erlangga melepas kembali alat penyamarannya, lalu merapihkan penampilannya. Setelah semua lepas, Erlangga kembali mematut dirinya dari balik cermin. Setelah itu, Erlangga menatap kearah sang mama.


"Ayo Ma! Erlangga sudah siap menerima apa yang akan terjadi nanti." ucap Erlangga ada keraguan di dalamnya. Mengingat sifat Yutasha yang ya...kalian tahulah.


"Kamu yakin mau berpenampilan seperti ini, Sayang?" tanya Karina meyakinkan.


Erlangga mengangguk mantap. Apapun nanti konsekuensi nya, Erlangga akan menghadapinya dengan pasrah.


"Erlan yakin, Ma. Kalaupun nanti Yuta menolak, akan Erlan buat Yuta tidak bisa menolak Erlangga. Apapun itu alasannya." dengan mantap Erlangga berkata seperti itu pada Karina.


Aku pasti bisa mengambil hatimu, Yutasha Geraldine. Kau tidak akan bisa menolak ku dengan alasan apapun. Aku pastikan itu. Batin Erlangga penuh percaya diri.


Siapin hati kamu ya Mas Erlan🤦‍♀️