Suami Cicilan

Suami Cicilan
Mau Kamu Berubah


Hari ini Yutasha kuliah seperti biasa. Hilda pun juga mulai masuk kembali setelah lama menghilang. Namun,kali ini ada yang berbeda dari sikap Hilda kepada Yutasha.


Jika biasanya, Hilda akan menyapa Yutasha terlebih dulu. Akan tetapi sekarang sikap Hilda berubah menjadi pendiam. Terutama pada Yutasha.


"Kamu kemana saja selama ini, Hil?" tanya Yutasha kemudian duduk di sebelah kiri Hilda.


Hilda menatap Yutasha sekilas. Lalu tersenyum seperti dipaksa. "Pergi ke rumah Budhe yang ada di Bandung, Ta." jawab Hilda dengan sedikit malas.


Yutasha tampak bersikap biasa saja dan berpura-pura tidak tahu apa yang telah Hilda perbuat pada dirinya. Yutasha ingin Hilda kembali baik lagi seperti dulu. Terutama terhadap dirinya.


"Ke kantin, yuk!" ajak Yutasha masih bersikap santai.


Hilda begitu muak dengan sikap Yutasha yang terlihat sangat bahagia itu. Dia ingin segera melenyapkan Yutasha jika saja tidak ada Arga yang selalu menggagalkan rencananya.


Ya, semenjak Arga mengetahui obsesi Hilda pada Erlangga, dan niat Hilda yang terbilang sangat sadis untuk sahabatnya sendiri, wanita yang disukai oleh Arga. Dan ternyata wanita itu kini telah menjadi istri dari temannya sendiri. Bahkan hubungan mereka lebih dari teman.


"Malas, kamu saja yang ke sana. Aku mau ke restoran di depan kampus saja," ucap Hilda menolak ajakan Yutasha.


"Oke, ayok!" ucap Yutasha menarik tangan Hilda agar beranjak dari duduknya.


Tanpa Hilda duga, Yutasha malah mengajaknya untuk segera beranjak dari sana. Dan ini merupakan kesempatan bagi Hilda untuk melancarkan aksinya.


Dengan wajah riang, Yutasha menggandeng tangan Hilda menyusuri lorong kampus, dan menuju ke restoran yang mereka bicarakan tadi.


Selesai memesan, Hilda pamit pada Yutasha untuk pergi ke toilet. Dengan alasan tiba-tiba saja perutnya mules. Yutasha mengangguk dengan senyuman manis yang ia tampilkan pada Hilda. Dan itu membuat Hilda semakin muak.


"Nggak usah bersikap sok manis di depanku,Yuta. Aku tau, kau sebenarnya hanya mengincar hartanya Erlangga saja. Jangan berharap kau bisa hidup dengan tenang dan bahagia. Karena sebentar lagi aku lah yang akan menggantikan posisi mu." gumam Hilda lirih seraya melangkahkan kakinya menuju dapur restoran. Karena obsesi nya terhadap Erlangga, membuat Hilda menutup matanya rapat-rapat Yutasha. Padahal Hilda juga tahu awal Yutasha bertemu dengan Erlangga.


Yutasha sedang asik main dengan ponsel miliknya. Senyuman manis itu tak pernah pudar dari bibir Yutasha, saat membaca pesan demi pesan dari seseorang. Dia tidak tau saja, kalau bahaya sedang mengintai dirinya.


Sekembalinya Hilda dari toilet, lebih tepatnya dari dapur restoran, Yutasha tengah menikmati minumannya yang tersaji lebih dulu.


"Lama banget, Hil?" tanya Yutasha seraya menyeruput jus jambu merah yang ia pesan tadi.


"Mules banget perut aku, Yuta. Eh, makanannya belum datang ya?" tanya Hilda pura-pura bersikap akrab lagi dengan Yutasha. Padahal sedari tadi dia bersikap sedikit acuh pada Yutasha.


Yutasha tersenyum ramah pada Hilda. Dia tahu sebenarnya Hilda berpura-pura ramah padanya. Jadi Yutasha putuskan untuk mengikuti kemauan Hilda. Dan Yutasha berharap, semoga kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka akan cepat terselesaikan. Biar bagaimanapun, Hilda adalah teman pertama yang dimilki Yutasha di kota ini.


Selang beberapa menit dari kedatangan Hilda, makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang. Dan mereka mulai makan makanan mereka.


Hilda melirik ke arah Yutasha sekilas. Bibirnya tertarik ke atas, saat Yutasha menyuapkan makanannya ke dalam mulut dengan lahapnya. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun.


Crazy up nggak?