Suami Cicilan

Suami Cicilan
Dasar, Lemah!


"Apa kau merasa takut, Yuta?" tanya Hilda dengan angkuhnya. Suara tawa terdengar begitu nyaring di telinga Yutasha.


Kemudian Hilda berjalan mendekat ke arah Yutasha berada. Tangannya melepas kain yang menutupi mata Yutasha sedari tadi.


"Sshh! Apa yang sedang kau lakukan, Hida?" tanya Yutasha dengan tatapan penuh amarah.


Hilda tertawa mendengar pertanyaan Yutasha. Matanya menatap penuh kebencian terhadap teman sekaligus sahabatnya tersebut.


"Aku ingin kau lenyap dari dunia ini, Yuta sahabatku." ucap Hilda dengan seringai licik di bibirnya.


Yutasha tidak menyangka Hilda bisa bersikap seperti itu padanya. Bahkan Hilda tega menaruh obat bius di makanan Yutasha. Sehingga Yitasha dalam keadaan seperti ini sekarang. Yutasha mencoba menarik tangannya yang diikat oleh Hilda. Namun hal itu sia-sia.


"Apa alasanmu? Apa aku punya salah padamu?" pertanyaan Yutasha membuat Hilda tertawa keras. Tangannya terangkat dan mengarahkan pisau ke arah leher Yutasha. Membuat Yuyasha meringis kesakitan, karena ujung dari pisau itu menggores kulit lehernya. "Jangan macam-macam, Hil!" bentak Yutasha. Sementara Hilda semakin menekan pisau ke arah leher Yutasha.


"Kau bilang jangan macam-macam padaku? Sementara kau mengambil orang yang aku cintai, Yuta. Orang yang aku CINTAI!!" bentak Hilda tak kalah nyaring dati Yutasha.


"Aku tidak merebutnya, Hil. Kamu yang tidak pernah bercerita padaku." Yutasha berusaha bersikap tenang kembali, agar tidak menimbulkan kemarahan bagi Hilda. Karena jika Hilda terpancing emosinya, leher Yutasha benar-benar akan lepas dari tempatnya.


"Aku mencintai Kak Erlangga sedari masih SMA, Yuta. Dan hatiku selalu buatnya. Tidak berubah sama sekali sampai sekarang." ujar Hilda mulai berkata dengan tenang.


"Lalu kenapa kau tidak bilang dari awal, jika Kak Erlan adalah orang yang kau cintai?" Yutasha mencoba mengajak Hilda ngobrol dengan santai. Tangannya mencoba melepas ikatan yang ada di kakinya tanpa sepengetahuan Hilda.


"Aku kehilangan jejaknya saat di hari kelulusan Kak Erlan. Dan aku baru menemukannya saat di pernikahanmu. Kak Erlan membuka jati dirinya kembali. Dan apa kau tau? Bagaimana perasaanku saat itu?" tanya Hilda menatap tajam ke arah Yutasha.


"Rasanya sakit, Yuta! Sakit!!" teriak Hilda lagi. "Kau ingin tau sakitnya seperti apa?" tanya Hilda tersenyum lembut pada Yutasha. Membuat Yutasha bersikap waspada.


Kemudian tangan Hilda terangkat, mencekik leher Yutasha dengan kuat, sehingga membuat Yutasha sesak susah bernapas.


"Sakitnya seperti ini, Sayang. Sakit itu membuatmu tidak bisa bernapas, dan semakin menyiksamu." ucap Hilda seraya menambah tekanan pada tangannya.


Yutasha menjerit tertahan, jantungnya berdetak tidak normal. Pasokan oksigen di paru-parunya mulai terasa berkurang. Wajah Yutasha pun terlihat memucat, terutama di bagian bibirnya.


Hilda tertawa melihat Yutasha yang kesakitan seperti ini. Dia merasa puas, melihat wajah cantik Yutasha berubah menjadi pucat dan penuh kegelisahan.


"Bagaimana, Yuta? Sakit, kan?" tanya Hilda kembali. Dia tertawa seperti orang gila. Yutasha tidak bisa mendengar ucapan dari Hilda lagi. Napasnya mulai sesak dan berat. Tidak berselang lama, akhirnya tubuh Yutasha lemas seketika. Tidak melakukan perlawanan lagi. Matanya pun tertutup dengan sempurna.


"Dasar, lemah!" teriak Hilda saya melihat tubuh Yutasha terkulai lemas. Lalu Hilda melepaskan tangannya dari leher Yutasha.


"Dan sekarang, aku bisa memiliki Kak Erlan sepenuhnya. Hahaha!" Hilda tertawa penuh kemenangan. Dan pada saat yang bersamaan, terdengar suara tembakan. Hilda pun memekik kesakitan.


"Kau pikir, aku akan membiarkan mu melakukan itu? Hah!" bentak seseorang yang tidak Hilda kenal. Di tangannya, ada senjata api yang telah menembus betisnya.


Ku menangiiiissss.... membayangkan, Mas Erlan akan seperti apa perasaannya😅