Suami Cicilan

Suami Cicilan
Menuju Sah


Semua orang berhambur keluar saat rombongan dari mempelai laki-laki datang. Meskipun hanya keluarga inti saja, karena Yutasha meminta agar papanya menghubungi keluarga inti saja. Karena sebagian keluarga besar dari Arjun maupun Dina, menetap di Surabaya dan Jember. Hanya sedikit yang tinggal di Jakarta.


Mereka begitu terperangah melihat dua mobil mewah yang terparkir rapi di depan rumah Yutasha yang tak terlalu luas. Bahkan, Arjun pun menatap tak percaya saat menyambut kedatangan keluarga dari calon besan dan calon menantunya itu.


"Apa benar dia Erlangga, Ma?" tanya Arjun pada istrinya yang berdiri di samping kanannya. ia tidak percaya akan apa yang dilihatnya.


"Mama kan sudah bilang, sebenarnya Nak Erlan itu orangnya ganteng. Mungkin dia berpenampilan seperti kemarin itu untuk mengambil hati putrimu, Pa." ucap Dina dengan santai. Ia tidak terlihat terkejut sama sekali. Berbeda dengan suaminya yang masih menatap dengan mulut yang terbuka.


"Bukan itu yang Papa maksud, Ma. Tapi mobil yang mereka tumpangi itu bukanlah mobil biasa Ma." terang Arjun lebih memperhatikan kuda besi yang rombongan itu tumpangi.


Kemudian Dina memperhatikannya lagi. Memang benar mobil yang mereka tumpangi bukanlah mobil sembarangan yang hanya seharga empat ratus juta. Dina bisa tafsirkan, harga mobil itu setara dengan lima rumah di perumahan yang mereka tinggali sekarang.


"Assalamu'alaikum." Darren mengucapkan salam sembari mengulurkan tangannya pada Arjun.


"Wa'alaikumsalam." sambut Arjun kemudian merangkul calon besannya itu setelah berjabat tangan.


Setelah semua bersalaman, kini giliran Erlangga yang menyalami calon mertuanya tersebut. Dia memang sengaja mengambil giliran terakhir untuk bersalaman. Bukan karena tanpa alasan. Erlangga mau meminta maaf atas kebohongan yang sebelumnya ia lakukan.


"Assalamu'alaikum." salam Erlangga kemudian memeluk Arjun yang nampak bingung dengan perlakuannya.


"Pa... Maaf," ucap Erlangga membuat semua orang yang berada di depan rumah Yutasha itu bingung.


Kenapa mempelai pria nya meminta maaf? Kesalahan apa yang telah dilakukannya? Begitulah kira-kira pemikiran orang yang melihat adegan tersebut.


Arjun mengusap bahu Erlangga sebelum melepas pelukan mereka. Ia bisa menangkap kenapa Erlangga berkata seperti itu. Pasti tentang Erlangga yang telah merenggut kesucian putrinya.


"Semua sudah terjadi, kita jalani saja. Dan semoga kamu kuat menghadapi sifat Yutasha yang cepat berubah-rubah." kata Arjun mencoba menenangkan keresahan hati calon menantunya itu.


"Erlangga juga minta maaf, selama ini Erlangga menyembunyikan penampilan Erlangga yang sebenarnya, Pa." Arjun tersenyum mendengarnya. Entah bagaimana reaksi putrinya nanti jika mengetahui penampilan Erlangga yang sekarang.


Gestur tubuh yang tinggi serta kekar. Di balut setelan Tuxido berwarna hitam. Dan juga mempunyai garis rahang yang tegas serta mata yang tajam. Juga bibir tipis sedikit berisi. Membuat Ketampanan Erlangga tiada tara. Sangat berbeda jauh dengan penampilan Erlangga yang menggunakan kacamata tebal. Pantas saja, jika Yutasha tidak bisa membedakan mereka.


"Papa tau apa yang kamu khawatirkan. Itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang yang terpenting adalah kamu fokus pada ijab qobul kamu dulu." Arjun berusaha menenangkan kegelisahan Erlangga yang takut pada reaksi Yutasha nanti. "Kamu sudah hafal, kan kalimatnya?" lanjut Arjun disertai kekehan kecil untuk menetralisir kan suasana harus tersebut.


Pada kangen sama aku, apa Yutasha? πŸ‘‰πŸ‘ˆ


kalau sampai jawab kangen Yutasha, aku ngambek dan nggak mau up lagiπŸ˜’