
Entah siapa yang memulai, masalah kontrak antara gadis gembala tak dikenal dan Pedang Suci legendaris dengan cepat menyebar ke seluruh negeri.
Setelah berhasil menyelematkan desa Aelric, semakin banyak orang yang mendatangi Areishia dan meminta bantuannya.
Dengan kepribadian baik hatinya, Areishia tidak menolak dan membantu mereka yang datang.
Karena 'hampir' tidak ada Elementalis di era ini, orang-orang harus menanggung malapetaka yang ditimbulkan oleh Roh Pemberontak.
Maka, Areishia mulai menggunakan kekuatan yang diberikan oleh Roh Pedang untuk membawa perdamaian ke dunia, dengan menenangkan, atau mengalahkan Roh Pemberontak.
Orang-orang memuji upayanya, dan memberinya nama <>.
Di sisi lain, Ars yang selalu menemani Arenishia, selalu mendapat tatapan bermusuhan dari semua orang karena menampilkan berbagai kekuatan magis.
Dia dianggap sebagai Elementalis laki-laki kedua dalam sejarah selain Solomon.
Alasan utama mengapa semua orang membencinya, tidak lain karena Solomon menginvasi semua negara dengan mengendalikan 72 Roh, yang memberikan gelar <>.
Karena mereka tidak bisa melakukan apapun kepada Raja Iblis Solomon, mereka melampiaskan kebencian mereka pada Ars. Tidak sampai disitu, mereka telah berulang kali menghasut Areishia mengusir Ars, tapi usaha mereka selalu gagal.
Di salah satu kamar mewah Istana Nefescal di Kekaisaran Ordesia.
Ars duduk di tepi jendela, memandangi bulan yang menerangi langit malam.
"Sudah empat bulan, huh... Para wanita bangsawan menjijikkan itu benar-benar bekerja keras, mereka berusaha merusak citra ku di mata Areishia. Inilah mengapa aku tidak menyukai bangsawan era feodal."
Membuka [Storage Magic], ia mengambil sebungkus rokok, membakar ujungnya, dan menghisapnya.
Dalam waktu empat bulan, Ars memulihkan 1% dari kekuatannya. Dia cukup beruntung membuka kemampuan [Storage Magic].
"Huuu... Ayo temui Areishia. Aku belum melihatnya sejak tiba di istana."
Mematikan rokok, Ars berganti pakaian formal.
Alasan dia dan Areishia berada di Istana Nefescal, Kekaisaran Ordesia secara khusus mengundang Areishia untuk membasmi Roh Pemberontak.
Tidak hanya Kekaisaran Ordesia saja, tapi Kerajaan Suci Lugia, Kekaisaran Dracunia, Kekaisaran Quina, dan negara kecil lainnya telah mengajukan permohonan pada Areishia agar mengunjungi negara mereka.
Pada dasarnya, Ars dan Areishia sangat sibuk dan hanya memiliki waktu luang untuk bersantai.
Terlepas dari seberapa lelah atau tidak bahagianya dia, Areishia akan selalu tersenyum untuk menyemangati orang lain.
"Haaa... Areishia terlalu baik, dia jelas tahu dirinya di manfaatkan, tapi dia tetap bertarung demi orang-orang."
Entah berapa kali Ars menghela nafas. Dia merasa Areishia terlalu polos dan naif.
Usai berganti pakaian formal berupa jas hitam dan celana hitam, Ars merapikan rambutnya di depan cermin.
Dari jendela yang terbuka, sebuah bayangan mendekat tanpa mengeluarkan suara, lalu dari dalam bayangan itu muncul seorang gadis muda yang penampilannya disembunyikan oleh jubah dan topeng hitam.
Berdiri di belakang Ars, gadis itu memegang belati dan tanpa ragu menusuk ke leher targetnya.
*Ting*
Namun, yang terjadi selanjutnya bukanlah adegan berdarah yang diharapkan gadis itu, justru belati di tangannya patah.
"Ugh."
Sebelum gadis itu melanjutkan serangan lainnya, lehernya di cengkram erat oleh tangan Ars.
"Ini adalah pembunuh ke-100... Apakah kalian tidak bosan mengirimkan pembunuh terus-menerus? Sejujurnya, aku sudah bosan." Ars menatap gadis di depannya tanpa simpati.
Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi percobaan pembunuhan. Faktanya, sejak nama Areishia tersebar luas, hampir setiap hari Ars akan ada pembunuh yang mengincar nyawanya.
Kekuatan Areishia terlalu memukau sehingga ada beberapa yang iri padanya, yang membencinya, dan bahkan mereka yang berhubungan dengannya hanya untuk ketenaran dan kemuliaan.
Jika bukan karena Ars selalu di sisinya dan menjaganya, para bangsawan wanita akan semakin menguras nilai Areishia.
"Ugh—."
Gadis itu meronta dan berusaha membebaskan diri. Sayangnya, itu tidak berguna. Dia semakin sulit bernapas dan tubuhnya berangsur-angsur lemas.
"Coba lihat, siapa yang mengirim mu."
Ars menggelengkan hipnotis Sharingan pada gadis itu, lalu menginterogasinya. Namun, dia tidak memperoleh informasi yang berguna.
Gadis itu tidak mengetahui identitas klien mereka.
*Crack*
Merasa gadis pembunuh itu sudah tidak berguna lagi, Ars mematahkan lehernya dan mengakhiri hidupnya dengan cepat
Kemudian dia menggunakan [Hinokagutsuchi] untuk membakar mayat gadis itu tanpa meninggalkan residu.
Membuka pintu kamar, kedua ksatria wanita yang berjaga di depan langsung waspada. Bahkan tangan mereka telah memegang gagang pedang dan bersiap menariknya kapan saja.
Ars sudah terbiasa dengan perilaku bias para wanita di dunia ini terhadapnya.
"Tuan Ars mau ke mana?" Tanya salah satu ksatria wanita.
"Aku mau menemui Areishia."
"Ratu Suci saat ini sedang menghadiri jamuan bersama anggota keluarga kekaisaran. Perjamuan tidak mengizinkan pria hadir, silahkan kembali ke kamar."
"Kalau aku tidak mau, lalu apa?"
Tubuh Ars memancarkan momentum yang menekan kedua ksatria wanita itu berlutut di tanah.
"Hanya karena status sosial pria rendah, jangan samakan aku dengan mereka."
Meninggalkan perkataan mengintimidasi, Ars berjalan ke depan.
Setelah sosoknya menghilang, kedua ksatria wanita itu akhirnya menghela nafas lega.
"Sangat menakutkan..."
"Dengan kekuatan seperti itu, tidak heran dia disebut Raja Iblis Generasi Berikutnya."
Kedua ksatria wanita itu saling memandang.
Ars juga memiliki julukannya sendiri, yaitu <>.
Para bangsawan khawatir dia akan menjadi Raja Iblis selanjutnya setelah Raja Iblis Solomon berhasil dikalahkan Areishia. Selaiin itu, dia juga telah berkali-kali menghalangi mereka memanfaatkan Areishia demi kepentingan pribadi mereka.
Setelah gagal mencuci otak Areishia untuk membenci Ars, mereka memutuskan mengirim pembunuh bayaran untuk melenyapkannya. Namun, para pembunuh itulah yang menemui ajalnya.
...
Saat itu malam.
Sudah ada banyak tamu kehormatan berkumpul yang melakukan percakapan ramah di aula besar Istana Nefescal.
Ada musik yang elegan mengalir, dan lampu gantung yang ditata dengan mewah dengan kristal sebagai dekorasi.
Makanan laut, daging, dan buah-buahan yang mewah ditata di atas meja yang berjejer di tengah.
Mereka yang diundang ke upacara itu adalah Elementalis yang mewakili berbagai negara dan bangsawan tinggi serta bangsawan.
Dan sebagai bintang utama perjamuan, Areishia dikelilingi oleh para bangsawan yang mencoba menyanjungnya.
"Ratu Suci, berkat kerja keras mu, orang-orang hidup sejahtera tanpa Roh Pemberontak."
"Sekarang Roh Pemberontak sudah mulai berkurang, itu semua karena mu, Ratu Suci."
"Masalah yang tersisa hanya invasi Raja Iblis. Tapi selama Ratu Suci turun tangan, itu bukan masalah besar."
Kelompok bangsawan ini tidak memberikan kesempatan Areishia pergi dan terus memujinya.
"Ratu Suci, jangan terlalu mempercayai 'pria itu'. Dia bisa saja menjadi Raja Iblis berikutnya. Sebaiknya kurung dia di penjara atau bunuh dia sebelum menimbulkan masalah."
Itu diucapkan oleh seorang wanita pirang dengan rambut seperti bor dan memegang kipas di depan wajahnya.
"Yang nona Oliver Laurenfrost benar. Ratu Suci harus waspada terhadap pria itu, entah kapan dia akan mengkhianati mu."
"Mengapa Elementalist selalu perempuan? Itu karena jika itu pria, mereka akan mendatangkan malapetaka di dunia. Misalnya, Raja Iblis Solomon.”
"Pria itu pasti punya maksud tersembunyi mendekati Ratu Suci, dia harus di bunuh!"
Pria yang dibicarakan para bangsawan wanita tidak lain adalah Ars. Mereka terus berusaha membuat Areishia berpikiran buruk terhadap Ars.
"Terima kasih atas kekhawatiran kalian semua, kakak Ars bukan orang seperti itu. Mari kita hentikan topik ini." Areishia memaksakan senyum.
Semakin dia mendengar mereka memfitnah Ars, semakin dia tidak nyaman. Terlepas dari semua ini, Areishia masih menanggapi obrolan mereka.