Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Umat Manusia Punah


Kekosongan Tak Berujung.


Sosok Ars muncul di depan sebuah bola putih super besar yang merupakan semesta independen.


"Kamu yakin tidak ingin menjelajahi tempat itu terlebih dahulu."


Suara Restia terdengar dibenak Ars.


Restia dan Est berada di Segel Roh.


"Kamu tidak mengerti, Restia. Dunia kultivasi terkenal berbahaya, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan. Kultivator kelas atas dunia kultivasi dapat memindahkan gunung dengan lambaian tangan dan membelah lautan dengan satu tebasan. Pada tingkat kekuatan paling atas, mereka bahkan dapat memetik bintang dari langit dan menggenggam bulan dengan tangan mereka."


"Sementara yang kuat akan berkembang di dunia kejam ini, yang lemah akan menderita dan berjuang hanya untuk bertahan hidup setiap hari. Di dunia kultivasi, kehidupan mereka tidak berarti seperti rumput liar. Satu akibat dari pertempuran yang dilakukan oleh kultivator tingkat menengah dapat merenggut nyawa orang biasa seolah itu bukan apa-apa."


Ars memberikan pelajaran betapa berbahaya dunia kultivasi kepada Restia dan Est.


Selama tinggal di semesta itu, dia tidak pernah sekalipun meninggalkan bahtera. Dia khawatir bertemu dengan para kultivator yang tidak bisa dia kalahkan.


Dia hanya menyaksikan kehidupan masyarakat dunia kultivasi melalui [Divine Sense]. Ars juga tidak membiarkan Restia dan Est meninggalkan bahtera.


Setelah Tian Shen membantunya mengangkat koneksi Bintang Setan Kekacauan, Ars sebenarnya ingin langsung pergi, tapi pihak lain sangat antusias, sehingga dia menunda kepergiannya. Tanpa sadar 10 tahun telah berlalu.


Akhirnya Ars memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya, tidak peduli bagaimana Tian Shen membujuknya untuk tinggal lebih lama.


Setelah mengadakan jamuan perpisahan, dia berpamitan pada Tian Shen dan yang lainnya, lalu menggunakan [Great Teleportation] untuk muncul di Kekosongan Tak Berujung.


"Kedengarannya itu bukan tempat yang bagus untuk ditinggali." Ucap Restia, setelah mendengarkan itu.


"Tidak peduli dimana, aku selalu disisi Ars." Est menjawab penuh keyakinan.


"Fufu~ jangan lupakan aku." Restia tertawa kecil.


Mendengar perkataan keduanya, bibir Ars membentuk senyuman tipis. Kini dia tidak lagi kesepian, ada dua gadis (Roh) yang menemani perjalanannya.


Dia tidak perlu khawatir berpisah dengan mereka karena meninggal karena usia tua.


(Jika Areishia masih hidup...)


Memikirkan kekasihnya, Ars menekan pikiran negatifnya. Melihat semesta tempat Tian Shen berada, lalu dia terbang menjauh dengan kecepatan melebihi cahaya.


....


"Apa masih jauh? Kamu sudah terbang begitu lama, aku sudah tidak tahu berapa jauh kamu terbang." Tanya Restia merasa bosan.


Kekosongan Tak Berujung tidak memiliki pemandangan lain selain bola putih besar (semesta) dan kegelapan ruang angkasa.


"Sebentar lagi." Ars menjawab.


Sepanjang jalan, dia tidak menjumpai badai ruang dan waktu. Mungkin itu karena dia tidak lagi terhubung dengan Bintang Setan Kekacauan, sehingga dia tidak lagi mengalami kemalangan seperti sebelumnya.


"Kamu telah mengatakan itu 30 menit yang lalu" Restia mengeluh.


Disisi lain, Est sangat patuh dan tidak mengeluh.


"Kita sampai."


Tanpa ragu, Ars memasuki bola cahaya.


Tidak ada perlawanan dari Kehendak Dunia untuk menolak kedatangannya.


Itu semua berkat [Cryptic Space], yang membuat Ars tidak bisa terdeteksi bahkan oleh Kehendak Dunia.


"Apakah ini tempat yang kamu kunjungi setelah melakukan perjalanan sejauh itu?" Restia bertanya heran.


"Tidak ada kehidupan." Est berbicara tanpa emosi.


"Itu aneh, mungkinkah aku ke semesta yang salah?" Ars lebih bingung.


Disekitarnya terdapat banyak gedung pencakar langit, mobil di jalan raya, dan arsitektur modern lainnya.


Tidak salah lagi, dia telah sampai di dunia yang memiliki peradaban modern.


Tidak ada kesibukan yang terlihat di kota metropolitan seperti pada umumnya, melainkan kota mati yang dipenuhi dengan mayat hidup, yaitu zombie.


"Roar!"


Merasakan aura kehidupan Ars, segerombolan zombie menyerbu ke arahnya dengan kecepatan yang tidak manusiawi meski tubuh mereka sudah membusuk dan dipenuhi ulat.


Jika orang biasa menghadapi ratusan zombie kelaparan, orang tersebut akan kesulitan bergerak karena takut atau berbalik untuk berlari.


Sayang sekali, bahkan sebelum menjadi Kaisar Abadi, hanya dengan mengandalkan menjadi Idaten, Ars tak lagi dikategorikan sebagai 'orang biasa'.


"Enyah."


*⚡⚡⚡*


Mengangkat tangannya, petir putih jatuh dari langit memusnahkan semua zombie di sekitarnya dan tidak meninggalkan residu.


Tak lama kemudian, gelombang zombie lain datang ke Ars, mereka terpikat oleh suara guntur yang memekakkan telinga.


"Tsk, ini tidak ada habisnya."


[Divine Sense] menyelimuti seluruh kota, Ars tidak menemukan satu pun orang hidup. Oleh sebab itu, dia menggunakan serangan skala besar tanpa rasa khawatir.


Tubuhnya melayang ke udara, sehingga zombie saling bertabrakan.


"Uwah, mereka terlihat sangat menjijikkan."


Ini pertama kalinya Restia melihat zombie.


"Mereka hanya mayat berjalan." Est berkata.


"Terima kasih atas informasinya, Nona Pedang Suci~, aku sudah tahu itu."


"Huh, aku terlalu malas berdebat dengan mu."


Seperti biasa, kedua gadis itu masih tidak akur.


Mengabaikan pertengkaran kecil keduanya di pikirannya, Ars menghela napas kecewa.


"Sepertinya aku memang melakukan kesalahan, ini bukan dunia yang ingin aku datangi. Umat ​​manusia di dunia ini telah tamat."


[Divine Sense] menyelimuti bumi, Ars tidak menemukan satu pun manusia hidup di negara manapun. Kesimpulannya, umat manusia telah musnah karena wabah zombie.


Dan juga, hal itu sudah terjadi cukup lama!


Hal ini terlihat dari tumbuh-tumbuhan liar yang tumbuh di perkotaan dan bangunan-bangunan yang terlihat sudah lama tidak dirawat.


Selain itu, zombie-zombie yang ada sepertinya sudah membusuk akibat perubahan iklim. Cepat atau lambat, mereka sendiri akan punah melalui proses pembusukan alami.


Saat itu tiba, jejak manusia perlahan-lahan akan menghilang dari bumi, dan hanya menyisakan hewan sebagai penghuni planet ini.


"Teori kiamat disebabkan ulah umat manusia telah dibahas oleh banyak ahli, baik dari kalangan ilmuwan maupun agamawan. Teori ini telah menjadi salah satu topik yang dibahas dalam berbagai forum. Aku tidak berharap untuk melihatnya secara langsung dengan mata kepala ku sendiri." Ars bergumam lembut.


"Umat manusia sudah punah?"


Restia kaget mendengar itu. Lagipula, dia tidak memiliki [Divine Sense] dan radius persepsinya tidak begitu luas.


"Menarik~ aku ingin tahu apa penyebab kepunahan mereka."


Setelah keterkejutan awal, dia tidak menunjukkan kesedihan, melainkan ketertarikan. Dia bukan manusia, kenapa dia harus bersedih?


Est juga sama, tidak ada gejolak apapun di hatinya. Selain Ars dan Areishia, dia tidak peduli dengan manusia lain.


"Hei, Ars, bisakah kamu menyelidiki penyebab ini semua?" Tanya Restia dengan rasa ingin tahu.


"Tentu. Kebetulan, aku ingin mencoba kemampuan Kitab Suci Takdir."


Alih-alih mengakses Catatan Akashik, Ars ingin mencoba kemampuan Kitab Suci Takdir.


Dia juga ingin tahu apakah ini dunia berdasarkan anime dari kehidupan sebelumnya.