Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Gadis Gembala


Badai ruang dan waktu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena luar biasa di mana ruang dan waktu mengalami distorsi, perubahan, atau gangguan yang tidak biasa.


Inilah yang Ars alami sekarang.


Dia secara tidak sengaja terjebak di badai ruang dan waktu.


Namun, badai ruang dan waktu yang terjadi di Kekosongan Tak Berujung berkali-kali lebih mengerikan daripada yang terjadi di luar angkasa.


Bahkan dengan ketangguhan Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan Ranah Empyrean dan Kehendak Surga, tubuhnya tercabik-cabik seperti berada di dalam mesin pemotong daging.


Jika bukan karena Faktor Penyembuhannya, Ars sudah berubah menjadi daging kornet.


(Betapa sialnya aku... Jika keberuntungan ku dalam bentuk numerik, itu pasti menunjukkan angka minus.)


Menggertakkan giginya, Ars menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.


Kekuatan spasial yang jelas berputar dengan keras di sini, membentuk retakan hitam. Di sela-sela retakan, desingan badai dingin seakan tak ada habisnya.


Kekuatan destruktif menghancurkan tubuhnya. Ars menggunakan segala cara untuk melarikan diri dari badai ruang dan waktu, tetapi hambatan ruang di sini tidak memungkinkannya untuk menggunakan teknik spasial apa pun.


(Oh, tidak! Jika terus seperti ini, aku bisa benar-benar mati!)


Pupil mata Ars mengecil seukuran jarum. Fisik Batinnya yang merupakan perwujudan dari Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan yang telah terintegrasi dengan Teratai Pemanasan Jiwa dan Kehendak Surga, saat ini mulai retak seperti kaca.


Jika Fisik Batinnya dihancurkan, Ars pasti akan mati seketika karena daya tahan tubuhnya tidak dapat menahan kekuatan destruktif dari badai ruang dan waktu. Bahkan Faktor Penyembuhan yang memberikan Keabadian, tidak dapat mengimbangi kecepatan kehancuran.


Tubuhnya mengeluarkan suara mendesis saat terpotong oleh badai ruang dan waktu. Itu seperti pisau yang bergesekan dengan baja. Tubuh Ars terus menerus berlumuran darah.


Ars terbang dengan kecepatan tercepatnya. Cahaya putih keluar dari dadanya dan melindungi tubuhnya. Meski begitu, semakin banyak waktu berlalu, Fisik Batinnya terdapat lebih banyak retakan.


(Dengan kecepatan seperti ini, diperkirakan aku hanya dapat bertahan setengah jam. Jika melewati batas waktu itu, aku khawatir Fisik Batin ku akan benar-benar hancur dan basis kultivasi ku akan lumpuh.)


(Nemesis, Invidia, Seth, Binbougami, Loki. Apakah kalian sangat menyukai ku, huh! Persetan dengan kalian semua!)


Mengingat kesialan yang selalu dia alami, Ars mengutuk para Dewa Kesialan dari berbagai mitologi.


*Whoosh*


Seiring berjalannya waktu, Ars menjadi lemah. Kepalanya pusing, sekujur tubuhnya dipenuhi luka, dan Fisik Batinnya meredup. Sayangnya, dia masih terjebak di pusaran badai ruang dan waktu.


Ars bahkan tidak menyadari rambutnya memutih karena kurangnya vitalitas. Satu-satunya hal yang baik, dia belum menua sama sekali. Tapi dia tidak bahagia dan hatinya dipenuhi dengan keputusasaan.


(Sampai disini saja, huh... Ku pikir setelah menjadi Kaisar Abadi, meski tidak menjadi tidak terkalahkan, hanya sedikit hal yang bisa mengancam ku. Namun berkat nasib buruk ku, aku bertemu dengan hal yang mengancam ku. Mungkin... Aku lebih sial dari Kamijou Touma?)


"Cough Cough Cough..."


Ars memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Dari atas sampai bawah, tidak ada anggota tubuhnya yang tidak ternoda darah.


(Di kehidupanku selanjutnya, aku ingin menjadi bangsawan... Dengan begitu, aku bisa hidup malas seperti ikan asin...)


Menyerah berjuang, kelopak matanya terasa berat dan Ars telah kehilangan niat untuk hidup. Bagaimanapun, jika dia mati, dia akan bereinkarnasi lagi. Satu-satunya hal yang disayangkan, dia akan kehilangan akumulasi dari semua kekuatan yang diperolehnya dengan susah payah.


Ketika Ars hendak menutup matanya dan beristirahat selamanya, rasa sakit yang menyiksanya seperti neraka tiba-tiba menghilang.


(Huh, badai ruang dan waktu menghilang? Ini kesempatan ku!)


Secercah harapan melintas di matanya, dengan kekuatan yang tersisa, Ars terbang ke bola cahaya super besar terdekat. Kemudian semuanya menjadi gelap dan dia kehilangan kesadarannya.


...


"Mbek..."


"Mbek..."


"Mbek..."


Sekawanan kambing sedang memakan rumput liar di padang rumput, tiba-tiba ruang itu retak dan seorang pemuda berambut putih jatuh dari celah itu, yang membuat mereka takut dan berlari menjauh.


Pemuda itu tidak lain adalah Ars yang sedikit beruntung karena badai ruang dan waktu menghilang tepat sebelum dia meninggal.


Rerumputan tersiram darah Kaisar Abadi, secara mengejutkan mengubah tumbuhan biasa menjadi Tumbuhan Spiritual kelas atas.


Jika orang biasa memakan rumput itu, umur mereka akan bertambah setidaknya 500 tahun. Itu tidak ada bedanya dengan obat umur panjang yang legendaris!


Sayangnya tidak ada manusia di sekitar, hanya ada kambing.


Para kambing tertarik oleh aroma yang dipancarkan rerumputan itu, kemudian mereka mengerumuni Ars dan memakan rumput disekitarnya.


Jika Alkemis Dunia Kultivasi melihat Ramuan Spiritual di makan oleh sekumpulan kambing, mereka akan memuntahkan tiga liter darah dan terkena stroke


Ketika para kambing memakan rumput, spiritualitas mereka terbuka dan di masa depan, dan mereka tidak akan kalah cerdas dari manusia.


...


"Semuanya, ini sudah senja, ayo cepat kembali ke kandang."


Gadis gembala memegang tongkat kayu di tangan kanannya.


"Hah, kenapa mereka tidak datang?"


Dia heran mengapa tidak ada satu pun kambing yang datang setelah mendengar seruannya. Biasanya, mereka akan langsung mengejarnya setelah ia memanggil mereka.


"Hm? Mengapa mereka semua berkumpul di sana?"


Gadis gembala itu bingung melihat kambing-kambingnya berkerumun. Dia bergegas ke sana.


"Aroma apa ini?"


Semakin dekat dia, bau amis tercium di udara, yang membuatnya menutupi hidungnya.


"Mbek..."


"Mbek..."


"Mbek..."


Kambing-kambing itu melirik gadis gembala, lalu melanjutkan makan rumput.


"Eh, seseorang?"


Ketika gadis gembala itu tiba, dia syok melihat pemuda berlumuran darah tergeletak di tanah. Dia melewati kerumunan kambing, dan memeriksa pemuda itu.


"Bisakah kamu mendengar suara ku?"


Dia berbicara lembut, tetapi pemuda itu tetap tidak bangun. Mengabaikan rasa takutnya, ia menempelkan telinganya ke dada pihak lain.


*Dub Dub Dub*


Meski terdengar lemah, gadis gembala itu merasa lega karena pemuda itu masih hidup.


"Syukurlah, dia masih bernafas... Hari mulai gelap, aku harus membawanya sebelum malam. Aroma darah bisa memikat serigala untuk datang."


Gadis gembala itu tidak peduli bajunya berlumuran darah, dengan tubuh mungilnya, dia menggendong pemuda itu di punggungnya.


"Semuanya, ayo pulang."


Dia berjalan dengan langkah pelan karena beban di punggungnya. Kali ini, semua kambing mematuhi gadis itu dan berbaris rapi berjalan di belakangnya.


"Bertahanlah, kamu pasti akan selamat."


Gadis gembala itu menolak meninggalkan pemuda itu. Meski sulit, ia tetap membawanya ke rumahnya yang merupakan gubuk kecil.


Untungnya, jarak padang rumput dan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh. Ketika matahari benar-benar hampir terbenam, ia tiba di gubuknya.


Menaruh pemuda itu di kasur, gadis gembala itu berkata dengan cemas: "Tunggu sebentar, aku akan memanggilkan dokter di desa. Aku mohon, bertahanlah sebentar lagi."


Mengabaikan rasa lelahnya, ia berlari ke rumah dokter.