Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Cinta


Ribuan meter di langit, sebuah kapal terbang dengan kecepatan tinggi.


Di kamar utama khusus Ratu Suci.


Suasana dipenuhi bau cabul dan keringat saat tubuh laki-laki dan perempuan saling bersentuhan dengan keringat bercucuran di tubuh mereka menandakan betapa intensnya aktivitas yang mereka lakukan saat ini.


Ars meniduri Areishia sementara Areishia menikmati kenikmatan dengan mata ke belakang dan lidah menjulur keluar dari mulutnya.


Mereka berdua bercinta selama tiga jam hingga Areishia tak tahan lagi, barulah Ars berhenti.


"Hah Hah Hah..."


Bernafas berat, Areishia menggunakan tangan Ars sebagai bantal, dia terlalu lelah bahkan untuk menggerakkan satu jari.


Setelah staminanya pulih sedikit, dia menatap Ars dengan sikap menyalahkan.


"Kakak Ars terlalu berlebihan. Lihat lah perut ku, itu membesar seperti hamil. Bagaimana jika orang lain melihatnya? Aku terlalu malu keluar kamar."


Kini perut Areishia besar seperti sedang hamil. Namun dia tidak hamil, perutnya membesar karena diisi air mani oleh Ars.


"Cough Cough Cough... Lain kali aku akan menahan diri." Ars merasa tidak bisa mengendalikan diri tiap kali berhubung badan dengan Areishia.


"Kakak Ars selalu mengatakan itu." Areishia menggembungkan pipinya.


Dia tidak benar-benar marah, hanya mengungkapkan sedikit keluhannya.


"Hei, kakak Ars, apakah aku bisa mengalahkan Naga Hitam?"


Berhenti bercanda, Areishia mengangkat topik serius.


"Kamu pasti bisa, Areishia. Bagaimanapun, kamu adalah jenius. Jika itu kamu yang baru memegang Pedang Suci, memang tidak ada kemungkinan memang. Tapi setelah mengalami banyak pertarungan melawan Roh Terkontrak Raja Iblis, kamu telah bertambah kuat. Aku percaya kamu bisa mengalahkan Vitra."


Ars menepuk kepala Areishia dan menatapnya dengan tulus.


Sudah tiga hari sejak pertemuan keduanya dengan Raja Naga Bahamut.


Bahamut memiliki dua permintaan pada Areishia.


Permintaan pertama adalah memintanya mengangkat kutukan Tuan Elemental Tanah yang melekat padanya. Sayangnya, bahkan dengan Pedang Suci Severian, Areishia masih gagal mengangkat kutukan tersebut.


Permintaan kedua adalah pemusnahan Naga Hitam Vitra!


Vritra terlibat dalam penghancuran dan penjarahan luas di benua ini.


Bahamut telah mengirim beberapa naga untuk menangkap Vitra tapi berakhir dengan kegagalan.


Tidak hanya memiliki kekuatan yang kuat, Vitra juga pandai bersembunyi jika merasa tidak bisa mengalahkan naga yang mengejarnya.


Bahamut merasa sakit kepala oleh perilaku yang disebabkan Vitra. Jika bukan karena dia tidak bisa meninggalkan Kekaisaran Bahamut dan sebagian besar kekuatannya di segel, dia akan secara pribadi menangkap Vitra.


Dia tidak menganggap ada Elementalis yang bisa mengalahkan Vitra, kecuali Raja Iblis Solomon. Tidak sampai Bahamut mendengar kabar Ratu Suci yang sangat kuat. Oleh sebab itu, ia ingin memintanya membasmi Vitra sebagai ganti dirinya.


Areishia yang baik hati pun menyetujui permintaan Bahamut. Dia merasa agak bersalah karena tidak berhasil mengangkat kutukan itu.


Saat ini mereka sedang menuju sarang Vitra.


"Semoga saja begitu."


Dengan senyuman di wajahnya, Areishia memejamkan matanya dan tertidur.


Beberapa saat kemudian, Est muncul sendiri tanpa perintah. Dengan ekspresi datar, dia melihat sepasang sejoli di ranjang.


"Ada apa, Est?"


Ars tidak malu tubuh telanjangnya dilihat Est. Dia tidak akan seperti Protagonis Beta yang akan panik ketika seorang gadis melihatnya telanjang.


"Nyonya terlihat sangat nyaman bersama Ars, mengapa?" Est memiringkan kepalanya sambil bertanya.


"Itu karena cinta." Ars menjawab tanpa perlu berpikir.


"Cinta? Apa itu cinta?"


"Cinta adalah perasaan yang sangat kompleks dan beragam, sering kali sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Secara umum, cinta adalah perasaan positif yang mendalam terhadap seseorang atau sesuatu yang membuat seseorang merasa sangat terhubung, peduli, dan bahagia. Cinta bisa bermacam-macam, termasuk cinta romantis, cinta keluarga, cinta persahabatan, dan banyak lagi."


"Jadi, Est tertarik dengan cinta?"


"Aku tidak tahu. Tapi... Nyonya terlihat sangat bahagia bersama Ars, dia lebih peduli pada mu daripada diriky."


"Oh, Est, kamu.... Cemburu?"


Pupil mata Est sedikit bergetar, lalu menjawab: "Aku tidak tahu."


"Ars, apa kamu mencintai Nyonya?"


"Tentu saja. Bahkan jika langit dan bumi terbalik, perasaanku terhadap Areishia tidak pernah berubah."


Ini pertama kalinya Ars merasakan jatuh cinta diantara ketujuh reinkarnasinya.


"Jadi begitu..."


Mendengar jawaban itu, Est berubah menjadi butiran cahaya dan kembali ke Segel Roh di tangan kanan Areishia.


"Sungguh, apa yang dia pikirkan." Ars menggelengkan kepalanya.


...


Setelah terbang seharian, kapal terbang mendarat di sebuah dataran bersalju.


Kemudian Areishia dan rombongan menuju sarang Vitra.


Untungnya, cuaca cerah sehingga perjalanan tidak menemukan hambatan apapun.


"Seharusnya disini."


Areishia memanggil Pedang Suci sambil menatap pintu masuk gua di depannya dengan waspada.


Melihat tindakannya, para Elementalis dibelakangnya juga memanggil Elemental Waffe dengan berbagai bentuk senjata atau hewan.


Hanya Ars yang terlihat santai.


"ROARRR!!!"


Mungkin merasakan niat permusuhan Areishia dan yang lainnya, Vitra yang berada di dalam gua mengeluarkan raungan naga yang memekakkan telinga.


"Semuanya, mundur." Perintah Areishia.


Semuanya menjauhi pintu gua, detik berikutnya, sosok besar keluar.


Itu adalah naga hitam legam dengan sayap yang melebar seolah-olah ingin menutupi matahari.


Mata merahnya menatap manusia lemah yang berani menerobos wilayahnya.


Perasaan menindas yang bahkan bisa dirasakan pada kulit seseorang.


Terlalu malas berbicara dengan 'semut', Vitra membuka mulutnya dan mengeluarkan api.


"Serang!" Teriak Areishia, menjadi orang pertama yang menyerang.


"Ooooohhhh!!!"


Lusinan Elementalis menyerang dengan metode serangan mereka masing-masing.


Disisi lain, Ars tidak bergabung dalam pertempuran. Itu keinginan Areishia, ia ingin menguji seberapa kuat dirinya.


"Hmm? Aura keberadaan ini...!!!"


Saat sedang menonton, Ars mengerutkan kening, tatapannya tertuju ke arah selatan.


"Seharusnya Areishia bisa mengalahkan Vitra, ini hanya masalah waktu."


Melihat medan pertempuran, Areishia dan yang lainnya masih bertarung sengit melawan Vitra. Diperkirakan, pertarungan tidak akan berakhir dalam waktu singkat.


"Jangan biarkan ada yang menganggu pertarungan ini."


Setelah merenung sejenak, Ars memutuskan untuk menghadapi musuh lainnya. Kemudian, dia berlari di dataran salju menuju ke selatan.