Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Salah Perhitungan


Di tepi sungai, Ars memegang pancing yang terbuat dari bambu dan sabar menunggu ikan mengigit umpan.


"Tanpa modernisasi, alam tidak akan rusak, tetapi peradaban juga tidak akan maju."


Dia berbicara seperti seorang ahli filsafat sambil melihat air sungai yang jernih.


"Sudah 15 tahun sejak Indra memberontak. Sepertinya aku harus melakukan perjalanan ke Tanah Leluhur lagi."


Ars selalu mengembara ke berbagai tempat agar orang lain tidak mencurigai penampilannya yang selalu terlihat awet muda, dan juga menghindar terdeteksi oleh Hagoromo.


Dia juga tahu bawah Hamura tidak lagi berada di planet ini, melainkan membawa keturunannya bermigrasi ke bulan. Selain menjaga segel Kaguya dan Ars, dia juga ingin menghindari konflik dengan manusia.


Namun dalam pengembaraannya, Ars pernah bertemu keturunan Hamura di desa terpencil. Dia menduga mereka tidak ingin pergi dan memutuskan untuk melarikan diri.


Setelah melihat mereka, dia tahu mereka akan menjadi cikal bakal klan Hyuga di masa depan.


Meskipun dia memiliki dendam terhadap Hamura, dia tidak melakukan apa-apa terhadap keturunan Hamura desa tersebut. Ars bukan orang yang tidak punya hati, dan tidak akan menyerang keturunan musuhnya kecuali mereka memprovokasi terlebih dahulu.


"Oh, kultivasi Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan (Void Imperfection Physique) sebentar lagi akan menerobos ke Penyelesaian Kecil."


Beberapa jam kemudian, Ars menerima umpan balik dari tubuh utamanya. Setelah berkultivasi tanpa henti selama 25 tahun, akhirnya mulai membuat kemajuan.


Dia memperkirakan lima bulan lagi budidayanya akan menerobos.


"Tsk, aku tidak menangkap satu pun ikan hari ini. Keberuntungan ku sangat jelek. Apakah Dewi Keberuntungan membenci ku atau semacamnya?"


Menarik tali pancing, dia tidak melihat ikan di kail dan hanya bisa menghela nafas panjang.


Membuang pancing itu dengan kesal, dia mengambil peta di kantong, lalu menuju Tanah Leluhur.


...


Suasana Tanah Leluhur tidak semeriah biasanya karena banyak orang yang bersedih. Rikudo Sennin sedang berbaring di tempat tidur dan kematiannya sudah dekat.


Orang-orang menganggap Rikudo Sennin sebagai dewa sekaligus pilar spiritual mereka. Berkat dia yang mengajar Ninshu, kehidupan rakyat jelata menjadi lebih baik.


Saat terjadi kekeringan, murid-murid Rikudo Sennin akan menggunakan jurus elemen air untuk mengairi sawah. Jika banjir, mereka akan menciptakan tembok tanah untuk mengubah arah air. Dan masih banyak kegiatan yang meningkatkan taraf hidup masyarakat.


Sederhananya, Rikudo Sennin dianggap pemimpin paling sempurna di mata orang awam.


Banyak orang berkumpul di depan sejauh rumah besar ketika mengetahui Rikudo Sennin berada di napas terakhirnya.


Diantara kerumunan, Ars juga hadir, dan menjaga profil rendah. Selama Hagoromo belum mati, ia tidak akan bertindak gegabah.


Ia dengan sabar menunggu pengumuman kematian Hagoromo.


Di kamar, Hagoromo berbaring lemah di kasur dan ditemani beberapa keturunannya.


"Asura..." Gumamnya lemah.


"Ayah!"


"Kakek!"


Asura kini telah menjadi pria paruh baya, dan khawatir melihat kondisi ayahnya.


"Aku tidak bisa membimbing dunia ini dengan baik."


"Itu tidak benar!"


"Indra datang tadi malam."


"Hah?!"


Asura terkejut mendengar ini, dia tidak berharap kakak laki-lakinya yang telah pergi dan tidak pernah kembali telah diam-diam menemui ayahnya. Dia bersyukur kakak laki-lakinya masih mempunyai hati nurani, dan tidak menyerang ayahnya dalam keadaan lemahnya.


...


Kemarin malam.


Lilin di kamar itu telah padam, lalu suara petir terdengar meskipun di luar tidak hujan.


Tanpa perlu membuka matanya, Hagoromo sudah menebak siapa yang datang.


Pria paruh baya yang datang tak lain adalah Indra. Dia hanya berdiri diam dan hanya menatap ayahnya yang terbaring sakit.


"Apakah kamu datang untuk membunuhku?" Tanya Hagoromo.


"Hu Hu Hu... Tidak perlu bagiku untuk melakukan itu lagi." Indra tertawa kecil, lalu melanjutkan tujuannya: "Aku datang ke sini untuk mengakhiri masa depan neraka yang menjijikkan yang disebabkan oleh Ninshu. Kesalahpahaman egois mu merusak masa depan Ninshu, dengan perang dan bencana. Aku tidak punya niat untuk menghentikan pertarunganku."


"Sampai aku menyelesaikan ini. Jiwaku akan bereinkarnasi dan bertarung, berapa lama pun itu!"


*⚡⚡⚡*


Bersamaan dengan suara petir di luar, sosok Indra telah menghilang dan hanya menyisakan Hagoromo yang terdiam.


...


Setelah Hagoromo menyampaikan kata-kata Indra semalam, memegang tangan Asura dan berkata: "Asura... Aku percayakan masa depan dunia ini pada mu dan keturunan mu..."


Setelah menyampaikan wasiat terakhirnya, napas Hagoromo berhenti.


Di luar kediaman.


Salah satu keturunan Asura menyampaikan kabar kematian Hagoromo ke publik.


Mendapat kabar tersebut, orang-orang menangis dan meratapi kematian Hagoromo.


"Akhirnya dia mati!"


Hanya Ars yang sangat senang mendengar kabar tersebut.


(Haruskah aku mengambil mata Rinnegan milik Hagoromo.)


Jika dihadapkan pada dua pilihan antara mata Sharingan Indra dan mata Rinnegan Hagoromo. Jadi Ars akan memilih opsi terakhir. Tapi dia masih ragu-ragu harus mengambil tindakan atau tidak.


Dia tidak tahu apakah Hamura hadir atau tidak di saat-saat terakhir Hagoromo. Jika Ars mengambil tindakan dan ternyata Hamura datang, ia tidak bisa mengalahkan pihak lain dengan kekuatannya yang sekarang.


(Bersabarlah, aku telah menunggu 25 tahun, menunggu beberapa hari lagi bukan masalah bagiku.)


Setelah merenung sejenak, Ars tidak berani mengambil risiko.


Lebih baik aman daripada menyesal.


Dia berencana diam-diam menggali kuburan Hagoromo malam ini dan mengambil Rinnegan untuk dirinya sendiri.


Sangat tidak bermoral menggali kuburan orang mati, tapi Ars tidak peduli. Kemudian dia pergi sambil menunggu malam tiba


...


Malam hari.


"Brengsek! Bahkan di akhir hidupnya, dia sangat keras kepala."


Di kamar penginapan, Ars melemparkan piring ke dinding dengan marah.


Baru saja dia menerima kabar bawah jasad Hagoromo tidak dikubur, melainkan dibakar.


Ini diluar perhitungan Ars!


Ars tidak berharap Hagoromo begitu kejam pada dirinya sendiri. Dia menduga pihak lain menyuruh Asura membakar mayat dan menyebarkan abunya ke laut, untuk menghindari orang jahat yang mengincar matanya.


"Haaa... Jika aku tahu akan begini, aku tidak akan ragu mengambil Rinnegan siang tadi. Sikap hati-hatiku menjadi bumerang."


Dia sangat menyesal dengan keputusannya. Sejak tubuhnya di segel, dia terlalu berhati-hati sehingga menjadi pengecut.


Namun, tidak ada yang bisa disalahkan, jika klon ini mati, maka kesadarannya akan kembali ke tubuh utama dan dia harus menghabiskan waktu dalam kesendirian entah berapa lama. Setidaknya, ia harus sendirian berada dalam kegelapan sampai budidaya Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan mencapai Setengah Penyelesaian.


"Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya menyesali hal yang telah terjadi. Fokus utama ku kini adalah mencari lokasi keberadaan Indra dan mengambil Sharingan-nya."


"Sebelum itu, aku harus mencari tabung dan cairan formalin untuk mengawetkan Sharingan nanti."


Depresi Ars tidak berlangsung lama, setelah memulihkan ketenangannya, dia memilih tidur.


Klon ini masih harus makan dan tidur seperti manusia biasa. Lagipula, Teknik Klon yang diciptakannya masih setengah jadi.