Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Kesialan Ars Masih Terus Berlanjut


Ada sebuah danau terletak di sebuah hutan yang masih belum di jamah oleh manusia.


Ikan dan udang terlihat berenang di permukaan karena airnya sangat jernih dan alami.


"Wrebekk Wrebekk Wrebekk..."


Seekor kodok berwarna coklat dengan perut putih sedang duduk santai di atas batu sambil menikmati kedamaian.


Tidak hanya kodok itu lebih besar dari ukuran kodok normal, dia juga memakai kalung yang bertulis 'minyak' di atasnya.


"Ah, sangat damai... Sejak Kaguya disegel 10 tahun yang lalu, dunia ini telah mencapai kedamaian."


Kodok itu tiba-tiba berbicara bahasa manusia. Jika ada orang yang mendengarnya, orang itu akan melarikan diri dan mengira telah melihat monster.


"Hmmm? Apa itu?"


Saat kodok itu ingin berbalik pergi, dia melihat ruang di tengah danau seolah seperti retak dan retakan itu terus membesar.


Beberapa saat kemudian, ruang itu hancur lebur dan membentuk sebuah lubang yang dipenuhi kegelapan.


Di dalam lubang tersebut, seorang pemuda berambut hitam pendek, bermata merah tua, dan mengenakan pakaian aneh sedang berusaha keluar dari lubang tersebut.


"Tidak bagus, orang ini sangat berbahaya!"


Kodok itu sangat ketakutan saat merasakan energi tak terbatas yang dirasakannya pada pemuda tersebut. Itu telah mengingatkannya pada Kaguya yang telah mengkonsumsi Buah Chakra.


"Aku harus melaporkan orang ini ke Hagoromo dan Hamura secepat mungkin."


Memanfaatkan pemuda itu masih berupaya keluar dari celah ruang, kodok itu memuntahkan gulungan dari mulutnya.


Membuka gulungan tersebut, kodok itu menekan tangannya ke gulungan.


"[Kuchiyose no Jutsu (Summoning Technique)]"


Tiba-tiba asap muncul menyelimuti kodok itu, dan saat asap menghilang, dia telah menghilang.


Disisi lain, Ars masih berjuang melawan penolakan Kehendak Dunia, melihat adegan itu, dia samar-samar menebak dunia ini.


"Apakah ini dunia berdasarkan anime [Naruto]? Tidak heran Kehendak Dunia begitu kuat dibandingkan dengan dunia anime sepotong kehidupan."


Dia mengertakkan gigi melawan rantai yang terbuat dari berbagai macam hukum dunia ini. Ini adalah metode Kehendak Dunia yang menolak kedatangannya.


"Aaaaaahhhh!!!"


Untuk pertama kalinya setelah menjadi Idaten. Ars mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan rantai hukum yang menjeratnya.


*Clank Clank Clank*


Satu per satu rantai hukum yang bisa dengan mudah menahan Juubi mulai putus.


*Crush-Bang*


Akhirnya semua rantai hukum terputus, dan Ars berhasil keluar dari celah spasial.


Setelah dia menginjakkan kakinya di dunia ini, Kehendak Dunia tidak bisa melakukan apapun lagi terhadapnya.


Celah spasial di atas danau mulai menutup, dan ruang yang hancur mulai memperbaiki dirinya sendiri.


Berdiri di atas permukaan air, Ars menghela napas lega.


"Klan Otsusuki bisa datang ke planet ini tanpa menerima perlawanan Kehendak Dunia, mengapa aku menerima perlakuan semacam ini? Ini diskriminasi!"


Tidak ada yang menanggapi keluhan Ars.


"Lupakan saja, meskipun Klan Otsutsuki adalah alien, mereka adalah makhluk dari alam semesta ini. Tapi aku berbeda dengan mereka, dari awal aku bukan makhluk alam semesta ini. Tidak heran Kehendak Dunia begitu menentangku.”


Ars membuat teori alasan dia sangat tidak disukai Kehendak Dunia.


"Karena kamu sudah mengetahui hal itu, silahkan pergi. Dunia ini tidak menyambut kehadiran makhluk luar seperti dirimu."


Suara bermartabat dan agung terdengar dari belakang.


Ars berbalik dan melihat dua pria dewasa mengenakan kimono putih entah bagaimana muncul.


Penampilan kedua pria itu sangat mencolok dibandingkan orang biasa. Tidak hanya keduanya mempunyai sepasang tanduk di kepala mereka, tapi mata mereka berdua juga sangat unik.


Pria disebelah kanan mempunyai rambut runcing dan pola riak yang menyebar di seluruh bola mata. Sedangkan pria disebelah kiri mempunyai rambut lurus dan tidak ada pupil mata seolah matanya buta.


Selain itu ada seekor kodok besar berdiri di belakang mereka berdua


"Aku baru saja sampai, dan kamu langsung mengusirku tanpa alasan? Bukankah itu terlalu kasar? Setidaknya biarkan aku beristirahat selama beberapa waktu."


Ars tidak ingin menjadi musuh mereka, namun Hagoromo tetap pada pendirian kata-katanya.


"Maaf mengusir mu, tapi yang kakak katakan ada benarnya. Silahkan pergi."


Dibandingkan sikap keras Hagoromo, Hamura berkata ramah.


"Apakah aku benar-benar tidak boleh tinggal di dunia ini sementara waktu?" Tanya Ars.


"Jawaban ku tetap sama, pergi dan jangan pernah datang kembali."


Alasan Hagoromo menolak pendatang baru tak lain adalah pengalaman masa lalu.


Orang luar dunia ini tidak memiliki kasih sayang terhadap penduduk dunia ini dan cenderung memperlakukan mereka dengan semena-mena. Contohnya adalah ibunya sendiri yang memperbudak manusia.


Dia dan adik laki-lakinya, Hamura, menghentikan ibu mereka dan berhasil menyegelnya setelah pertarungan sengit.


Dia tidak ingin peristiwa yang sama terulang kembali.


"Haaa... Keberuntungan ku tidak pernah bagus, aku sangat senang tidak datang ke dunia kiamat, tetapi malah diusir setelah tiba..."


Ars menghela napas panjang, dan meragukan apakah dia telah dikutuk sehingga keberuntungannya mencapai nilai minus.


"Jadi, maukah kamu pergi?" Tanya Hagoromo.


"Jika aku menolak?" Ars tersenyum tak kenal takut. Kebetulan dia sangat ingin melawan lawan yang kuat.


"Jadi begitu... Maka kami hanya bisa menggunakan kekerasan."


Hagoromo mengangkat tangan kanannya ke depan, lalu Ars merasakan gaya tolak yang sangat kuat menimpanya, dan dia terhempas ke belakang.


*Whooosh*


Ars terhempas melintasi ujung danau, dan menghancurkan banyak pohon yang berada di jalurnya.


*BOOM*


Dia akhirnya berhenti setelah menabrak sebuah bukit.


"Bukankah kakak terlalu berlebihan? Kita bisa membicarakannya baik-baik."


"Kamu terlalu naif, Hamura. Gunakan mata mu, lalu kamu akan mengerti betapa menakutkannya orang itu."


Mengikuti kata-kata kakaknya, area mata di sekitar Hamura menjadi berurat. Visibilitasnya meningkat ratusan meter, dan dia melihat Ars di kejauhan yang sudah mulai berdiri dan tidak mengalami luka sedikit pun setelah diserang oleh kakak laki-lakinya.


Ketika dia melihat kedalam tubuh pihak lain, pupil matanya berkontraksi.


"Bukankah ini..."


"Dia seperti Juubi, ada energi tak terbatas di dalam tubuhnya."


Hagoromo menjawab keraguan adik laki-lakinya.


"Karena pertarungan tak terhindarkan, aku pergi dulu. Semoga kalian berdua berhasil mengusir penjajah."


Mengetahui dia tidak berguna dalam pertempuran, kodok bernama Gamamaru bersiap mengungsi agar tidak menjadi beban.


"Terima kasih telah memberi informasi ini, Gamamaru, aku berhutang budi padamu." Hagoromo mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, Gamamaru, tanpa kamu, kami tidak tahu ada makhluk berbahaya yang datang." Ucap Hamura.


"Sama-sama. Kalian berdua jangan sampai kalah. Jika tidak, itu berarti akhir dunia ini."


Mengucapkan salam perpisahan, Gamamaru buru-buru pergi. Tidak lama setelah kepergiannya, sosok Ars muncul tidak jauh dari mereka.


"Kamu sangat kejam, aku bahkan belum melakukan perbuatan apapun yang merusak dunia, tapi kamu sudah menganggap ku sebagai ancaman. Ini terlalu berlebihan."


Mengabaikan keluhan pihak lain, Hamura mencoba membujuknya untuk terakhir kali.


"Tuan, kami benar-benar tidak bisa menyambut mu. Silahkan tinggalkan dunia ini dengan damai."


"Karena kalian sangat ingin mengusirku, itu justru membuat ku semakin ingin tinggal." Ars menolak.


Hamura menghela napas, dan tahu pertarungan memang tidak bisa dihindari.


"Sebelum kita mulai, setidaknya mari kita saling memperkenalkan diri. Setidaknya ini bisa dilakukan, kan?" Ars berpura-pura tidak mengetahui nama kedua orang di depannya..


Setelah merenung sejenak, Hagoromo setuju.


"Namaku Otsusuki Hagoromo, dan ini adalah adik laki-laki ku, Otsusuki Homura. Siapa namamu, pengunjung dari dunia lain?"


"Kalian berdua bisa memanggil ku Ars. Namaku sangat sederhana dan pendek dibandingkan nama kebanyakan orang."


Setelah kedua belah pihak saling memperkenalkan diri, suasana menjadi hening dan tegang, seolah-olah bom waktu bisa meledak kapan saja.