Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Pedang Suci


Beberapa menit sebelumnya.


Areishia menyaksikan sosok Ars yang berangsur-angsur tidak terlihat.


"Haaa... Apa yang salah dengan ku, mengapa aku marah pada kakak Ars tanpa alasan?"


Menghela napas, dia menyentuh dadanya.


Untuk alasan yang tidak dikenal, mendengar Julia ingin menjadikan Ars sebagai suaminya, Areishia merasa tidak senang.


"Mungkin aku terlalu lelah."


Setelah menjemur semua pakaian, Areishia masuk ke rumah dan ingin memanggang roti untuk makan siang nanti.


"Kayu bakarnya sudah habis."


Mengambil keranjang bambu, dia meninggalkan rumah dan mencari kayu bakar di pegunungan.


Areishia mendaki gunung dengan sangat hati-hati agar tidak bertemu dengan beruang, serigala, dan hewan liar lainnya. Terutama Roh Pemberontak kadang-kadang muncul.


"Semoga tidak ada Roh Pemberontak... Jika saja kakak Ars ada disini..."


Mengumpulkan kayu yang bisa digunakan, Areishia tiba-tiba menyadari sudah lama sejak dia mendaki gunung sendirian. Sejak kedatangan Ars, dia selalu ditemani olehnya dan hari-hari selalu menyenangkan.


Suatu ketika mereka berdua bertemu dengan Roh Pemberontak di hutan, ketika dia mengira akan mati, dia syok melihat Ars mengalahkan Roh Pemberontak dengan tangan kosong.


Bahkan Elementalis akan kesulitan menghadapi Roh Pemberontak, tetapi Ars bisa mengalahkannya dengan mudah. Pandangan dunia Areishia runtuh sejak saat itu, dan keingintahuannya terhadapnya meningkat.


"Ini cukup."


Keranjang bambu di punggungnya telah terisi hampir penuh, Areishia memutuskan untuk pulang.


Dalam perjalanan menuruni gunung, dia tidak sengaja melihat sekilas sebuah bangunan bobrok.


"Ini pertama kalinya aku melihat bangunan disini. Mungkin seseorang pernah tinggal di gunung ini? Tapi gunung ini berbahaya di tinggali orang biasa."


Areishia hendak melangkah, tiba-tiba terdengar lolongan serigala.


"Awoooo...."


"Awoooo...."


"Awoooo...."


Sebagai orang berpengalaman, Areishia tahu tidak hanya ada satu serigala, melainkan berkelompok.


"Aku harus mencari tempat bersembunyi."


Dia tidak panik, melihat lingkungan sekitarnya, tidak ada semak-semak atau pohon yang mudah di panjat oleh gadis sepertinya. Pada akhirnya, Areishia memutuskan bersembunyi di bangunan bobrok yang tidak sengaja ditemukannya.


Di atas pintu bangunan terdapat plakat nama bertuliskan Aula Leluhur. Tapi Areishia tidak bisa membaca, sehingga dia mengabaikannya. Dan fokus utamanya adalah bersembunyi dari serigala.


Membuka pintu Aula Leluhur, debu menerpa wajahnya yang menyebabkan dia batuk.


"Cough Cough... Sudah berapa lama tempat ini tidak dibersihkan."


Sambil menutup mulutnya, Areishia menutup pintu dan berusaha agar tidak menimbulkan suara. Mengintip melalui lubang di pintu, dia melihat ada sekelompok serigala berlari melewati tempatnya berdiri.


Jika dia terlambat bersembunyi, dia mungkin akan makannya sekelompok serigala yang kelaparan.


(Harusnya aku menunggu kakak Ars kembali. Jika itu dia, tidak perlu takut pada sekelompok serigala ini.)


Tanpa disadari, Areishia mulai bergantung pada Ars.


"Huuu... Syukurlah mereka tidak menyadari ku."


Melihat serigala pergi, Areishia menghela napas lega.


Dia tidak buru-buru pergi, khawatir mungkin ada serigala yang tertinggal.


(Lebih baik aman daripada menyesal!) Areishia mengingat nasihat Ars.


Sambil menunggu, dia melihat-lihat ruangan.


Cahaya matahari masuk melalui celah atap yang bocor sehingga Areishia bisa melihat dengan jelas.


"Eh, ada pedang? Apakah pemilik tempat ini lupa membawanya?"


Ketika sedang mengamati, Areishia menemukan satu-satunya barang berharga di ruangan itu, yaitu sebuah pedang.


Pedang terhunus berdiri dengan gagang di atas batu besar. Itu tidak diragukan lagi adalah barang antik yang kemungkinan besar berusia ratusan tahun tetapi tidak memiliki karat pada panjangnya atau penyok di tepinya. Rune kuno yang halus terukir di bagian datar bilahnya, memancarkan cahaya biru redup.


"Ini indah sekali... Pedang ini bahkan lebih bagus daripada pedang kepala desa."


"Oh, benar. Kakak Ars selalu bertarung dengan tangan kosong. Karena pedang ini telah ditinggalkan, seharusnya tidak masalah jika aku mengambilnya, kan?"


Dia ingin memberikan pedang yang ada di hadapannya itu kepada Ars sebagai bentuk permintaan maaf atas sikat juteknya tadi pagi.


Fakta yang sebenarnya, Areishia tidak tahu bawah itu adalah Pedang Suci yang tak seorang pun bisa mencabutnya selama berabad-abad.


"Um, kakak Ars terlihat tampan dengan pedang ini."


Membayangkan Ars bertarung menggunakan pedang ini melawan Roh Pemberontak, Areishia semakin bertekad ingin memberikannya padanya.


Areishia mengulurkan tangan untuk mengangkat pedang, sama sekali tidak menyadari bahwa Roh yang kuat tersegel di dalamnya.


Pada saat itu, Roh Pedang muncul dari cahaya yang menyilaukan.


Roh Pedang itu mengambil bentuk gadis kecil berambut perak.


"Siapa kamu?"


Jawaban roh Pedang terhadap pertanyaan Areishia adalah: "Aku adalah pedangmu, Nyonya. Aku akan memberikan diriku sepenuhnya dan seutuhnya kepada Kontraktor Roh ku... Kamu."


"Bisakah aku menolak? Aku mengenal orang lebih baik menjadi Kontraktor Roh mu, bagaimana?"


Areishia tidak langsung setuju. Lagipula, niat awalnya ingin memberikan pedang itu kepada Ars.


"Permintaan Nyonya ditolak, aku bukan Roh biasa, tapi senjata Roh yang dibuat untuk digunakan dalam perang selama Era Arkeozoikum. Nyonya telah terpilih, tidak ada orang yang bisa menggantikan mu."


Roh Pedang tanpa ekspresi menjawab. Itu adalah suara yang dingin dan terdengar mekanis.


"Dibandingkan diriku, kakak Ars lebih cocok. Aku hanya penggembala biasa."


Areishia telah menjalani seluruh hidupnya sebagai penggembala biasa, dia tidak dapat memahami hal-hal filosofis yang begitu dalam.


"Siapa namamu?"


"Nama asliku tidak bisa diucapkan dalam bahasa mu. Namun, dalam Bahasa Roh, Nyonya boleh memanggilku Terminus Est."


"Nama ini terdengar agak panjang... Bagaimana kalau aku memanggilmu Est saja?"


"Namaku bukan Est, tapi Terminus Est."


"Aku lebih suka tidak, cukup sulit untuk mengatakannya. Sudah diputuskan, namamu adalah Est."


Areishia tiba-tiba tersenyum, dan mengulurkan tangan untuk mengelus kepala Est.


"Nyonya, tolong jangan lakukan itu."


Est memprotes dengan ekspresi kosong.


"Mengapa tidak? Est sangat imut~. Adapun tentang Kontraktor Roh, mari kita tunda pembahasan ini. Setelah kamu bertemu kakak Ars, kamu pasti akan berubah pikiran."


"Aku adalah milik mu, Nyonya."


"Hehehe, kita lihat saja nanti."


Areishia berhenti membujuk Es. Fakta berbicara lebih keras daripada kata-kata. Dia yakin setelah Est melihat Ars, dia akan berubah pikiran.


"Ayo pulang, kelompok serigala sudah pergi."


"Nyonya dapat menggunakan ku membasmi serigala yang datang."


"Tidak, tidak, tidak, aku tidak tahu teknik pedang apapun. Selain itu, serigala sangat menakutkan."


"Mengenai itu, Nyonya tidak perlu khawatir. Aku dapat mentransfer teknik bertarung para pejuang Era Arkeozoikum, dan menjadikan mu orang terkuat dalam waktu singkat."


"Lupakan saja, aku tidak tertarik bertarung."


Areishia menolak saran Est. Kemudian Pedang Suci berubah menjadi aliran cahaya dan memasuki telapak tangannya. Kini lambang dari dua pedang yang bersilangan telah terukir di atasnya.


Itu adalah bukti dari Kontrak Roh, Segel Roh.


"Sangat ajaib..."


Areishia kagum pada adegan itu. Kemudian dia bergegas menuruni gunung dan kembali ke desa.


[Catatan Penulis: Berikanlah komentar agar penulis semangat menulis]