Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Niat Jahat Lin Fan


Mereka membasmi zombie dalam waktu singkat, kemudian Ars menawarkan beristirahat di toko serba ada terdekat dan disetujui semua orang. Lagipula sudah tengah hari, mereka tidak hanya lelah, tetapi juga lapar.


Ars berjalan paling depan dan memandu ke toko serba ada.


Berjalan disebelah Rei, Hisashi menatap punggung Ars.


(Penampilan orang ini sangat mirip dengan protagonis anime 86, Shin Nouzen. Aku sangat yakin dia tidak ada di anime ini, apakah ini hanya kebetulan? Tidak peduli siapa dia, aku akan menghancurkannya jika menghalangiku. Aku adalah orang yang telah ditakdirkan mencapai puncak dunia ini!)


Lin Fan yang telah mengganti jiwa Igou Hisashi tidak bisa tidak tersenyum.


Sebelumnya bertransmigrasi, dia hanyalah seorang mahasiswa miskin yang ditinggalkan pacar perempuannya, yang memilih berkencan dengan orang kaya.


Teman asramanya mengajaknya minum sampai mabuk untuk menghiburnya. Namun, ketika dia sadar, dia telah berada di ruang kelas dan ingatan Igou Hisashi muncul dibenaknya.


Lin Fan telah membaca novel klise semacam ini, dan tahu dia telah bertransmigrasi!


Pada awalnya dia sangat cemas karena mengetahui bawah dunia ini akan segera berakhir dan virus zombie akan menghancurkan tatanan masyarakat. Disaat dia berpikir rencana bertahan hidup, jari emasnya tiba-tiba muncul dan itu disebut Sistem Seni Beladiri Tak Terkalahkan.


Dengan adanya sistem, Lin Fan tidak takut lagi dan ingin membangun harem yang berisi wanita-wanita cantik.


Disisi lain, alis Ars terangkat merasakan tatapan sengit Lin Fan.


(Kenapa dia menatap ku seolah aku mempunyai hutang padanya? Dia juga menyebut ku Shin Nouzen, apakah aku benar-benar mirip?)


"Anoo... Apakah itu pistol jenis Nambu Model 60?"


Kohta tidak bisa menahan rasa penasarannya dan bertanya.


Ars menoleh untuk melihatnya, dan berkata sambil tersenyum.


"Oh, kamu sangat berpengetahuan, anak muda. Itu benar, pistol Nambu adalah senjata api standar yang digunakan polisi Jepang."


"Nambu"dinamai Kijirō Nambu yang mendesainnya. Ini revolver aksi ganda dengan kaliber 38 Khusus berdasarkan desain gaya Smith & Wesson. Bahkan, itu juga disebut S&W M37 karena sangat mirip dengan S&W M36."


Saat membahas senjata, Hirano Kohta tampak menjadi orang yang berbeda, dan sangat membahas senjata api.


"Cukup, Hirano. Suara mu bisa menarik perhatian zombie, dan itu menganggu Yamaguchi-san."


Takagi Saya menghentikan Hirano yang terus berbicara tanpa henti.


"Ah, aku minta maaf, Takagi-san." Kohta meminta maaf.


"Apa masih jauh? Aku sangat lelah..." Marikawa Shizuka bertanya lemah.


"Kita hampir sampai."


Ars melirik dada Shizuka yang menjadi bebannya.


Lima menit kemudian, mereka tiba di toko serba ada.


"Ini dia."


Ars memasuki toko serba ada terlebih dahulu, linggis di tangannya menghancurkan kepala zombie sebelum itu bereaksi.


"Roar."


Zombie lainnya mengaum, berlari ke arahnya dan menerkamnya dari belakang.


Kohta menarik pelatuk senjata buatannya, lalu paku melesat menebus kepala zombie.


"Terima kasih, Hirano-kun."


Ars berterima kasih meski sebenarnya dia bisa mengatasinya sendiri.


"Sama-sama, hanya ini yang bisa aku lakukan." Jawab Kohta.


"Komuro-kun, mari pindahkan mayat ini ke ruangan lain, sangat tidak nyaman makan di depan mayat."


"Ah, baiklah."


Takashi dan Ars membawa kedua mayat itu keluar toko serba ada, lalu melemparkannya ke gang.


"Minum ini."


Saeko memberikan air mineral pada Ars dan Takashi.


"Terima kasih banyak, Busujima Senpai."


Takashi mengucapkan terima kasih, sedangkan Ars sedikit mengangguk dan mulai minum.


Ars mengambil roti, cokelat, dan makanan lainnya, lalu duduk di dekat pintu masuk untuk berjaga.


Saeko mendatanginya dengan membawa mie cangkir dan memberikan mie cangkir lainnya pada Ars.


"Boleh aku duduk disini?"


"Tentu."


Keduanya duduk bersebelahan dan suasana menjadi hening.


"Tidak ada." Saeko menarik tatapannya, menyatukan telapak tangannya dan berkata: "Ittadakimasu."


Mendengar itu, Ars tahu alasan gadis itu menatapnya, dia lupa mengucapkan selamat makan!


(Apa gadis ini meragukan identitas ku? Tsk, wanita mempunyai intuisi yang tajam.)


"Hm?"


Merasakan niat jahat, Ars melihat Hisashi menatapnya dengan permusuhan. Ketika dia menatapnya, pihak lain mengobrol dengan Rei.


(Kenapa dia memusuhi ku? Selain perkenalan, kami hampir tidak mengobrol... Mungkinkah...)


Ars melihat Saeko duduk disebelahnya dan menebak mengapa Hisashi sangat memusuhinya.


"Rumah kalian dimana?" Shizuka bertanya sambil meniup mie.


"Aku tinggal di seberang jembatan Onbetsu." Takashi menjawab sambil sesekali melirik Rei.


"Orang tuaku tidak tinggal disekitar sini, tapi aku akan mengikuti Takagi-san kemanapun pergi." Kohta berkata malu-malu.


Ars merasakan Hisashi menatap Kohta dengan permusuhan.


(Benar saja, Lin Fan memusuhi pria yang dekat dengan para heroine. Tampaknya dia memasukkan mereka ke dalam haremnya, pemikiran yang mudah ditebak.)


Penilaian Ars terhadap Lin Fan menurun, dan menganggapnya sebagai pria berpikiran sempit.


"Yamaguchi-san?"


"Ah, apa kamu mengatakan sesuatu?"


"Kamu tinggal di mana?"


Tanpa disadari hanya Ars yang belum mengatakan tempat tinggalnya, dan Saeko membangunkannya dari linglung.


"Aku berasal dari Tokyo, dan baru beberapa bulan yang lalu aku ditugaskan di Kota Tokonoshu."


"Ternyata Yamaguchi-san dari Tokyo."


Saeko dan yang lainnya tidak meragukan alasan palsu dikatakan Ars, kecuali Hisashi.


Setelah makan siang, semua orang berkumpul dan membahas rencana selanjutnya.


Diskusi berakhir dengan keputusan mereka akan menyeberangi jembatan Onbetsu dan menuju kediaman keluarga Takagi.


"Aku ingin mandi..." Shizuka mengeluh.


"Marikawa Sensei, tidak ada kamar mandi di tempat ini." Saya berkata tak berdaya.


"Ada tempat yang bisa gunakan, tempatnya tidak jauh." Shizuka berkata.


"Tempat pacar laki-laki mu?" Tanya Hisashi meski telah mengetahui jawabannya.


"B-Bukan! Tempat teman perempuan ku! Dia selalu sibuk dan bepergian karena pekerjaannya, jadi dia meminjamkan ku kuncinya agar aku kesana untuk membiarkan masuk sesekali."


Shizuka menjelaskan seperti apa tempat tinggal temannya.


"Aku setuju, tidak aman tinggal di toko serba ada. Meski ada banyak persediaan makanan, sangat berbahaya di malam hari."


Hisashi bersikap sebagai pemimpin.


"Jika Hisashi berpikir seperti itu, aku juga setuju." Rei tidak mempertanyakan keputusan pacar laki-lakinya.


"Yang Igou katakan ada benarnya, lebih aman tinggal di apartemen." Saya mendorong kacamata di pangkal hidungnya.


"Aku tidak memiliki pendapat." Saeko menjawab singkat.


Kohta dan Komuro juga setuju, lalu semua orang melihat Ars, yang tidak mengatakan apa-apa.


"Tujuanku juga melewati jembatan Onbetsu, kita mempunyai tujuan yang sama. Apa aku boleh bergabung dengan kelompok kalian?"


"Tentu saja, Yamaguchi-san sangat membantu melawan zombie. Kami menyambut mu."


Sebelum Hisashi menolak, Saeko mendahuluinya.


Takashi dan yang lainnya juga setuju, mereka telah melihat betapa mudahnya Ars membunuh zombie dengan linggisnya. Perlu diingat, ini baru satu hari sejak kiamat zombie terjadi, sebagian besar orang hanya akan berlari ketakutan saat melihat zombie. Orang-orang yang berani membunuh zombie sangatlah langkah.


(Aku akan menyingkirkannya nanti.) Hisashi tidak senang penambahan Ars kedalam kelompok.


"Baiklah, hari masih siang. Kalian persiapkan perbekalan, aku akan mencari kendaraan yang masih berfungsi."


"Aku akan menemani mu."


"Oke."


Ars tidak menolak tawaran Saeko, dan keduanya meninggalkan toko serba ada.