
Hari berikutnya.
Fajar.
Di kamar pendeta wanita, Miroku yang sedang tertidur di kasur, perlahan membuka matanya.
"Tidak ada mimpi?" Gumamnya linglung sambil mengusap matanya.
Butuh beberapa saat baginya untuk sepenuhnya sadar.
"Aku benar-benar tidak bermimpi... Mungkinkah apa yang Ars-sama katakan benar?" Miroku berkata tidak pasti.
Hanya ada satu pendeta wanita di Negara Iblis (Oni no Kuni) di tiap generasi.
Pendeta wanita bisa menggunakan Fuinjutsu (Teknik Penyegelan), dan apa yang membuat mereka istimewa adalah sebuah Dojutsu (Teknik Mata), yang disebut [Future Telling].
Sebagai pendeta wanita Negara Iblis di generasi ini, Miroku tentu saja bisa menggunakannya. Sayangnya, [Future Telling] berupa Dojutsu lebih merupakan kemampuan yang tidak disengaja. Itu memungkinkan Shion untuk memprediksi kapan seseorang akan mati.
Efek sebenarnya adalah membiarkan jiwanya kembali ke masa lalu saat dia meninggal. Saat dia melakukan ini, dia memberi tahu dirinya di masa lalu tentang peristiwa tersebut dan orang-orang di sekitarnya saat ini terjadi.
Justru karena itu, Miroku tidak memimpikan kematiannya, yang membuatnya ragu.
Dia menggelengkan kepalanya dan berkata lembut: "Tidak ada gunanya berpikir terlalu banyak. Aku hanya harus melihat apa yang akan terjadi nanti."
Setelah mengatakan itu, ia merapikan kasur, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Dia menolak bantuan pada koki yang ingin membantunya.
"Semoga Ars-sama menyukai masakan ku."
...
Ars terbangun oleh jam biologisnya, dengan rambut berantakan, ia menutup mulutnya yang menguap.
"Hoam~... Ternyata sudah pagi. Haaa... Aku heran mengapa orang masih menggunakan kasur jenis ini, sangat tidak nyaman dipakai."
Mengangkat tangannya ke atas, meluruskan pinggang, ia mengeluh betapa kasarnya kasur yang disediakan.
Keluar kamar, ia mencuci muka dengan air di baskom. Dingin air di pagi hari membuatnya tidak lagi mengantuk.
"Ars-sama, sarapan sudah siap."
Seorang gadis kuil datang memberitahunya.
"Mhm. Pimpin jalan." Ars mengangguk.
Keduanya menyusuri area kuil yang luas.
Tiba di ruangan makan, Ars menemukan Miroku duduk di depan meja makan.
"Selamat lagi, Ars-sama. Apakah tidur mu nyenyak."
"Pagi. Tidak buruk."
Duduk di seberang Miroku, Ars tidak mengatakan yang sebenarnya.
Di meja makan telah tersedia beberapa makanan seperti sup sayur, ikan bakar, nasi, dan telur gulung.
Ars mengambil mangkuk berisi nasi yang diberikan Miroku. Kemudian ia mulai makan tanpa peduli etiket makan.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Miroku gugup, ini pertama kalinya ia memasak makanan untuk laki-laki.
"Nyam Nyam Nyam... Cukup bagus."
Ars terbiasa makanan peradaban modern, yang akan akan bumbu. Dia agak tidak terbiasa memakan makanan sederhana seperti ini. Namun, tidak sopan menolak jamuan tuan rumah.
"Senang Ars-sama menyukainya. Masih ada banyak, silahkan tambah kalau kurang."
"Oke."
Keduanya makan tanpa banyak obrolan.
...
Ars menghabiskan semua makanan di atas meja, ia tidak suka membuang-buang makanan.
"Kapan Ars-sama berencana berangkat?" Tanya Miroku.
"Sekarang."
"Hah, sekarang?"
Miroku tercengang mendengar jawaban itu.
"Terus menunggu apa lagi? Bukankah Tentara Hantu hanya berjarak 10 kilometer dari Negara Iblis? Jika terus dibiarkan, negara ini akan terjatuh ke dalam peperangan. Selain itu, aku tidak bisa menggunakan serangan skala besar di area padat penduduk. Waktu terbaik menyerang adalah sekarang." Ars menjawab santai.
Bahkan baginya akan sulit mengatasi 10.000 pasukan jika dia dibatasi. Misalnya, dia harus melindungi orang, dan serangannya tidak jangan sampai tidak sengaja membunuh orang lain
"Jadi begitu... Keputusan Ars-sama bijak." Miroku kagum padanya yang memandang jauh ke depan.
"Nah, kalau begitu aku akan pergi."
Miroku memegang ujung baju Ars dan menahannya.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Jika Ars-sama tidak keberatan, bolehkan aku ikut bersama mu. Sebagai pendeta wanita, aku ingin memastikan hasilnya dengan mata ku sendiri."
"Tentu."
"....???"
Miroku tidak menduga permintaannya diterima begitu mudah. Menurutnya, pihak lain akan mencoba menghentikannya, lagipula yang dia lakukan cukup berbahaya
Bukankah melindungi klien adalah pekerjaan dasar Shinobi?
Siapa yang akan membayar mereka jika klien meninggal?
"Mari kita pergi."
"[Fly]."
Tidak tahu apa yang di pikirkan Miroku, Ars menggunakan sihir terbang pada dirinya dan gadis di sampingnya.
"Hyaaaa!!!"
Miroku berteriak saat mengambang di udara, dan tanpa sadar memeluk Ars sebagai pegangan.
"Miroku-sama!"
Beberapa penjaga kuil terdekat mendengar teriakan Miroku, mereka segera datang ke lokasi. Ketika melihat keduanya terbang, mata mereka terbuka lebar.
"Turunkan Miroku-sama!"
Setelah pulih dari linglung, mereka mengarahkan tombak ke arah Ars.
"Cepat turunkan senjata kalian, ini salah paham, Ars-sama tidak berniat jahat."
Para kuli penjaga menuruti perintah Miroku, meski senjata di tangan mereka sudah diturunkan, mereka tetap waspada.
Ars memberinya waktu menjelaskan kepada para penjaga kuil.
Tentu saja mereka menolak membiarkan pendeta wanita pergi dengan orang yang baru dikenal satu hari, tetapi Miroku mengabaikan mereka.
"Maaf membuat Ars-sama menunggu." Dia berkata dengan wajah semerah apel. Lagipula, ia sedang berada di punggung Ars, yang membuatnya sangat malu.
"Tidak masalah. Kita sudah menunda cukup lama, waktunya pergi."
Kali ini, Ars pergi tanpa menemui hambatan apapun.
Saat berada di ketinggian 300 meter di udara, Miroku mengencangkan tangannya di leher Ars dan tidak berani membuka matanya.
"Buka mata mu, mungkin ini akan menjadi pengalaman pertama dan terakhir mu terbang. Jangan lewatkan melihat pemandangan indah ini."
Suara Ars bergema di telinga Miroku.
Miroku secara bertahap berani membuka matanya. Yang menyambutnya adalah matahari terbit yang indah.
"Sangat indah..."
Ini bukan pertama kalinya ia menyaksikan matahari terbit, tetapi melihat dari daratan, dan dari udara memiliki sensasi yang berbeda.
"Tidak buruk." Ars berkomentar.
Setelah hidup lebih dari satu milenium, dia sudah lama mati rasa terhadap keindahan matahari terbit.
"Apakah semua Shinobi Konoha bisa terbang?" Tanya Miroku dengan rasa ingin tahu.
"Tentu saja tidak. Faktanya, Ninjutsu untuk terbang jauh lebih langka daripada Bijuu. Sejauh yang aku tahu, aku belum menemui siapapun yang bisa terbang selain diriku.'
Ars mengecualikan pengguna Eternal Mangekyo Sharingan, yang bisa menggantikan Susano'o bentuk sempurna.
"Bukankah itu berarti Ars-sama sangat kuat?"
"Kamu baru menyadarinya? Aku sudah mengatakannya kemarin. Lihat saja bagaimana aku membasmi Tentara Hantu." Ars berkata acuh tak acuh.
"Um, aku menantikannya."
Setelah itu, keduanya berhenti berbicara. Sesekali Ars menanyai arah pada Miroku.
Setelah 15 menit terbang, keduanya melihat deretan patung batu yang berjalan berbaris panjang.
"Ini mengingatkan ku pada Pasukan Terakota milik Kaisar Qin." Gumam Ars dengan tenang.
Bahkan setelah melihat lebih 10.000 pasukan, suasana hatinya tidak berubah.
"Sangat menakutkan... Jika mereka sampai ke Negara Iblis, tidak ada yang akan selamat."
Pemandangan ini terlalu mengejutkan bagi Miroku.