Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Menjadi Pendongeng


Malam hari.


Menyalakan lilin, rumah kecil itu diterangi cahaya lemah lilin.


Pada awalnya, rumah itu hanya cocok dihuni satu orang, kini ada dua orang tambahan, yaitu Ars dan Est. Alhasil, satu-satunya ranjang di tempati Areishia yang masih tidur.


"Jangan hanya berdiri, duduklah."


Ars menaruh kursi kaya di depan Est, dan duduk di kursi lainnya.


Di waktu luangnya, ia akan membuat furnitur seperti meja dan kursi dari pohon yang ia tebang di hutan.


Melihat Ars tanpa ekspresi di wajahnya, Est duduk di kursi.


Suasana begitu hening dan hanya terdengar suara kambing tidak jauh dari situ.


(Menurut Dracunia, Roh Peringkat Tinggi dapat mengambil bentuk manusia... Itu berarti, Est adalah Roh Peringkat Tinggi, huh.) Pikir Ars sambil mengamati loli berambut perak di depannya.


Est mengenakan kemeja yang terlalu besar untuknya.


(Uh, jika aku melihat lebih dekat, dia mungkin tidak memakai apapun!)


Baru sekarang Ars menyadari Est hanya mengenakan kemeja putih yang menutupi tubuhnya, dan bagian bawahnya terlihat.


Apa yang dia lihat sekilas mungkin tanpa pakaian dalam. Tidak, dia jelas tidak mengenakan pakaian dalam.


"Ahem... Est, mengapa kamu tidak memakai ****** *****?" Ars mengalihkan pandangannya agar tidak melihat pemandangan yang seharusnya tidak dilihat.


"Apa itu perlu?" Est memiringkan kepalanya, terlihat tidak mengerti.


"Tentu saja. Wanita harus menghargai diri mereka sendiri dengan benar. Jangan jadi wanita yang mempertontonkan auratnya di depan pria sembarangan secara cuma-cuma. Jangan jadikan dirimu wanita murahan seperti barang obral di pasar, tapi jadilah barang kelas atas di mall, agar orang tidak memandang sebelah mata.”


Melihat wajah polosnya, Ars merasa gadis ini seperti kanvas putih yang belum diwarnai. Jadi dia mengajarinya akal sehat.


"Aku mengerti." Est mengangguk sambil diam-diam menggumamkan mantra dalam bahasa roh.


Detik berikutnya, sepasang ****** ***** berwarna putih bersih muncul di tangannya. Kemudian turun dari kursi dan mengenakan ****** ********, menghasilkan gemerisik kain untuk sementara.


Untungnya, Ars beraksi cepat dan menutup matanya.


(Apa loli ini tidak memiliki rasa malu? Dia menggunakan ****** ***** di depan pria tanpa ragu. Sepertinya aku harus mengajarinya lebih banyak akal sehat di masa depan. Jangan sampai dia dibawa oleh paman yang menawarkan permen.)


Karena Est adalah Roh Terkontrak Areishia, Ars memperlakukannya sebagai adik perempuannya.


"Sudah selesai."


Membuka matanya, dia melihatnya masih tanpa celana, tapi Est sendiri tampak tidak peduli.


"Umh..."


Sebelum Ars berbicara, Areishia membuka matanya.


"Kamu akhirnya bangun, Areishia."


"Kakak Ars... Dan Est?"


"Jangan memaksakan diri mu, teruslah berbaring."


"Kakak Ars terlalu khawatir, aku baik-baik saja."


Areishia bangkit dari tempat tidur, selain rasa letih, dia tidak terluka.


"Ini pertama kalinya Nyonya menggunakan kekuatan suci, tubuh mu belum terbiasa." Est menjelaskan alasan di balik Areishia tiba-tiba pingsan.


"Terima kasih, Est. Berkat mu, aku bisa menyelamatkan semua orang."


"Nyonya, tolong jangan lakukan itu."


Meski memprotes karena kepalanya diusap, Est tidak menolak.


"Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan, sebelum itu, ayo makan malam dulu."


"Ah, aku belum memasak."


"Tidak perlu, aku sudah membeli makanan."


"Kakak Ars yang terbaik."


Ars tersenyum menerima pujian itu, lalu dia mengambil roti beserta kue ulang tahun.


"Ini...?"


"Selamat ulang tahun ke-14, Areishia. Semoga kamu selalu hidup sehat dan diberikan 'umur panjang'."


"Ini pasti mahal, kan? Sudah aku bilang, kakak Ars tidak perlu merayakan ulang tahun ku. Lebih baik menyimpan uang mu hal penting lainnya."


Ini kedua kalinya ada seseorang merayakan ulang tahunnya, Areishia merasa hangat di hatinya. Namun, dia tidak ingin Ars menghabiskan banyak uang untuknya.


Menanggapi itu, Ars menjentikkan dahinya dan berkata sambil menepuk kepalanya: "Jangan katakan itu. Bahkan jika aku ditawari semua emas di seluruh dunia atau kamu, aku akan memilihmu tanpa ragu, Areishia."


Baginya, emas tidak lebih sebuah batu berkilau. Setelah hidup lama, uang bukanlah kebahagiaan sejati, melainkan orang-orang yang berharga.


Ini hal yang Ars pelajar setelah hidup selama satu milenium.


"Kakak Ars!"


Tersentuh oleh kata-kata tulus itu, Areishia melemparkan dirinya ke pelukan Ars.


"Ini air mata kebahagiaan."


Di sampingnya, Est menyaksikan interaksi antara mereka berdua dan ada riak di matanya yang tanpa emosi.


Setelah momen mengharukan itu, Areishia meniup lilin di atas kue, lalu menyuapi Ars potongan kue pertama.


Tak terkecuali Est, awalnya dia menolak, tapi dia akhirnya memakan kuenya juga setelah dibujuk.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi saat aku tidak ada?"


Setelah semua orang kenyang, Ars bertanya tentang serangan oleh kelompok Roh Pemberontak.


Areishia tidak menyembunyikan apapun dan menceritakan semua kejadian yang dia lalui.


Mulai dari mendaki gunung untuk mencari kayu bakar, memasuki aula leluhur demi saat bersembunyi dari kawanan serigala liar, lalu begitu kembali, desa telah diserang banyak Roh Pemberontak.


Dengan keinginan menyelamatkan penduduk desa, Est merespon perasaan Areishia dan mentransfer ilmu pedang langsung ke pikirannya.


Mengandalkan kekuatan yang baru diperolehnya, Areishia bertempur melawan lusinan Roh Pemberontak tanpa mengalami cedera.


Itu adalah prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengingat dia sebelumnya hanya seorang gadis gembala dan tidak pernah berlatih seni bela diri. Berubah dari amatir menjadi ahli dalam waktu sesingkat itu, bisa dilihat bahwa Est bukanlah Roh biasa.


"Baiklah, sudah larut malam. Kamu pasti lelah setelah mengalami banyak hal, tidurlah yang nyenyak."


Melihat Areishia menutup mulutnya yang menguap, Ars berhenti menanyainya.


"Kalau begitu, aku kembali. Nyonya panggil aku jika membutuhkan ku."


Setelah mengatakan itu, Est diselimuti cahaya dan masuk ke dalam Segel Roh di tangan Areishia.


"Ini semua masih tidak terasa nyata."


Areishia menyentuh punggung tangannya yang terdapat Segel Roh.


"Jangan terlalu dipikirkan. Istirahatlah dengan baik, apapun yang terjadi, aku akan melindungi mu."


"Um, aku percaya kakak Ars."


Berbaring di ranjang, Areishia menatap Ars dengan senyuman cemerlang.


Saat Ars ingin berdiri, tangannya di tahan.


"Areishia?"


"Kakak Ars... Bisakah kamu bersama ku sampai aku tertidur?"


Dengan rona merah di pipinya, Areishia berkata malu-malu.


"Oke." Ars langsung setuju dan kembali duduk.


"Kakak Ars, ceritakan sebuah cerita."


"Cerita seperti apa?"


"Terserah kakak Ars."


Mendengar kata 'terserah', mata Ars berkedut.


Jika wanita di peradaban modern mengatakan 'terserah', itu akan membuat pria serba salah. Tapi Ars tahu Areishia bukan wanita egois seperti itu.


"Hmmm... Bagaimana kalau cerita Buto Ijo dan Timun Mas?"


"Iya, aku ingin mendengarnya."


Areishia mengangguk di penuhi antisipasi.


"Di suatu desa kecil, hidup seorang remaja perempuan yang cerdas nan tangkas. Timun Mas namanya. Ia hidup bersama ibunya, nenek Sri, janda tua yang telah lama ditinggal suami."


Kemudian Ars mulai menceritakan salah satu cerita rakyat Indonesia dari kehidupannya sebelum dia bereinkarnasi.


Isi cerita itu sederhana, Buto Ijo adalah adalah raksasa dan memiliki kemampuan magis setara Cawan Suci yang bisa mengabulkan permintaan apapun.


Ada seorang wanita tua bernama nenek Sri yang hidup sendiri dan sangat ingin memiliki cucu. Alhasil, dia membuat perjanjian dengan Buto Ijo untuk memberinya seorang cucu.


Tentu, bersekutu dengan kekuatan gaib ada konsekuensinya. Buto Ijo memberi syarat kalau ketika cucu perempuan yang diberi nama Timun Mas, berusia 6 tahun dia akan mengambilnya untuk dimakan! Dan nenek Sri setuju.


Pada saat perjanjian tiba, nenek sri malah berkali-kali mengingkari janjinya. Saat Timun Mas berusia 9 tahun, dia ‘diserahkan’.


Sayangnya, Buto Ijo dijebak dan ditipu, dan kemudian mati mengenaskan karena tenggelam di lautan lumpur.


"Nah, apa pelajaran moral yang dari kisah ini?" Tanya Ars.


"Timun Mas berhasil diselamatkan dari Buto Ijo dan hidup bahagia bersama nenek sri selamanya!" Areishia menjawab setelah merenung.


Ars menggelengkan kepalanya dan menjawab: "Salah, Buto Ijo adalah korban sebenarnya. Tidak hanya nenek Sri tidak membayar hutangnya, dia malah membunuh Buto Ijo yang memberikannya Timun Mas."


Areishia memikirkan dengan hati-hati dan merasa itu masuk akal. Meski tujuan Buto Ijo tidak dapat dibenarkan, perilaku nenek Sri juga salah.


"Jangan terlalu dipikirkan, itu hanya cerita belaka. Cepat tidur."


"Um, selamat malam, kakak Ars."


"Selamat malam, Areishia."