
"Ars... Nama yang aneh."
Restia menganggap nama itu aneh, karena hanya terdiri tiga huruf.
"Banyak yang mengatakan itu." Ars mengangkat bahu dan tidak menyangkal.
"Kamu tidak takut pada ku, Ars?"
"Mengapa aku harus takut pada mu?"
"Tidakkah kamu khawatir aku Roh Pemberontak dan menyerang mu?"
Restia mengangkat tangannya dan membuat pose menerkam.
"Hanya pria pengecut takut pada gadis cantik."
"C-Cantik?!?"
Keseriusan Ars membuat Restia tersipu malu. Ini adalah pertama kalinya seseorang memuji kecantikannya. Selama ini, manusia takut padanya.
"Selain itu... Apakah Roh Pemberontak akan berkomunikasi seperti mu? Aku rasa tidak."
"Kamu laki-laki yang cukup pintar."
"Apakah itu pujian?"
"Tentu saja, semua pria yang aku temui tidak terlalu bergantung pada wanita untuk bertahan hidup dan tidak menggunakan otak mereka."
Restia tidak menyembunyikan rasa jijiknya terhadap pria. Di dunia wanita lebih mendominasi, laki-laki yang lemah tidak mengambil banyak peran dalam masyarakat.
"Yakinlah. Aku pria terbaik di dunia." Ars berkata tanpa keraguan sedikit pun.
"Oh, entah kamu percaya diri atau orang bodoh yang belum melihat dunia."
Mengepakkan sayap hitamnya, Restia mendarat di depan Ars. Namun, karena tinggi badannya yang lebih pendek, dia mendongak untuk menatap satu sama lain.
"Maka itu pasti yang pertama."
"Fufufu... Pria yang menarik. Semoga klaim mu benar."
Restia terkikik, tubuhnya menyatu dengan kegelapan dan menghilang.
"Jadi itu Roh... Apakah semua Roh berbentuk manusia atau Restia salah satu Roh istimewa? Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, ini Roh pertama yang kulihat, belum terlambat setelah melihat Roh lain."
Merasa cukup, Ars tidak menelusuri hutan dan kembali ke rumah.
...
Hari berikutnya.
Matahari baru saja terbit, tapi Ars sudah di bangunkan oleh suara berisik.
Dia bangkit dari lantai, semalam dia tidur di lantai karena tidak ada kasur lainnya.
Ars masih dalam keadaan setengah sadar dan bergumam: "Hoam~... Sudah berapa lama aku tidak tidur, beberapa tahun atau puluhan tahun? Aku sudah tidak ingat."
Keluar kamar, dia melihat Areishia sedang mengaduk gandum, di perkirakan dia ingin membuat roti.
"Pagi, kakak Ars." Menyeka wajahnya, Areishia menyapa dengan senyuman ceria.
"Selamat pagi."
Ars membuka pintu, udara sejuk pagi menerpa dirinya, dan sinar matahari menyinari seluruh rumah.
"Biar aku bantu."
"Tidak usah, kakak Ars masih terluka... Tunggu dulu..."
Menolak tawaran bantuan Ars, Areishia menyadari ada sesuatu yang salah. Dia mengamatinya dari atas ke bawah, sekarang dia menyadari lukanya telah sembuh total.
"Eh, kakak Ars sudah sehat? Dokter bilang setidaknya butuh satu bulan agar kamu pulih."
"Baru sekarang kamu sadar? Areishia, respon terlalu lambat."
"Oh." Areishia mengangguk dan tidak lagi mengajukan pertanyaan.
Meski telah hidup satu milenium, selain makanan instan, Ars tidak memiliki keterampilan memasak, sehingga dia di bimbing Areishia membuat roti.
Dengan kinerja dua orang, waktu pembuatan roti menjadi lebih cepat. Setelah roti matang, keduanya makan bersama.
(Jika saja aku bisa mengakses [Storage Magic], aku bisa menjual emas. Maka kehidupan Areishia akan menjadi lebih baik.)
Melihat Areishia menikmati roti hambar tanpa sedikit pun mengeluh, Ars merasa tak berdaya.
Gadis itu memanggilnya kakak laki-laki, dia telah menganggapnya adik perempuannya. Kebetulan sekali, ingin punya adik perempuan adalah salah satu penyesalan Ars dalam hidup.
"Mau ke mana?" Tanya Ars, memperhatikan Areishia bersiap-siap pergi.
"Mengantar kambing ke padang rumput. Aku bekerja sebagai penggembala, yang mengurus kambing milik warga desa ini." Areishia menjawab.
"Aku ikut."
"Oke."
Ke kandang, Areishia membimbing kambing ke padang rumput. Sepanjang jalan, penduduk desa menyapanya dan menatap Ars dengan rasa ingin tahu.
Ars menghalau para kambing yang keluar jalur, dan setelah berjalan beberapa menit, mereka tiba di padang rumput.
"Disini aku menemukan kakak Ars."
"Areishia, jangan bilang kamu... Membawa ku ke desa seorang diri?"
Melihat sekeliling, Ars tidak menemukan penduduk desa lainnya. Sebuah tebakan muncul di benaknya.
"Iya." Areisha mengangguk. Ia menganggap saling membantu adalah hal yang wajar.
"Kamu terlalu baik, Areishia... Bagaimana jika aku adalah orang jahat seperti bandit. Jika seperti itu, kamu akan dalam bahaya." Ars merasa harus memberikan gadis itu pelajaran hidup.
Tidak semua manusia akan membalas budi setelah menerima perlakuan yang baik!
Tidak ada yang salah dengan bersikap baik, tetapi ketika berhadapan dengan ampas yang telah kehilangan kualifikasi manusia, kebaikan hanya merugikan diri mereka sendiri!
"Kakak Ars berpikir berlebihan. Masih ada orang baik di dunia ini, jika kamu belum menemukannya, maka jadilah salah satunya."
Entah karena naif atau hatinya terlalu murni, Areishia memandang dunia dengan pikiran positif.
Kata-kata itu telah mengguncang hati Ars. Dia yang telah menyaksikan sisi gelap manusia, dan tahu betapa tidak masuk akalnya perkataan Areishia. Namun, melihat senyuman gadis itu, dia tidak ingin merusaknya dengan kebenaran.
(Lupakan saja, dia masih anak-anak. Wawasannya terlalu kecil, mungkin pola pikirnya akan berubah seiring bertambahnya usia.) Pikir Ars, membiarkan fantasi Areishia berlangsung.
Kemudian mereka berdua kembali ke rumah, tapi Areishia tidak santai seperti yang Ars pikirkan. Sebaliknya, dia menjadi lebih sibuk.
Areishia mencuci pakaian di tepi sungai, setelah itu dia akan bergabung dengan penduduk desa untuk bertani. Baru ketika tengah hari tiba dia akan istirahat makan siang.
Setelah satu jam istirahat, dia membantu penduduk desa bekerja dan mendapatkan bayaran yang tidak seberapa. Sore hari, dia menghabiskan uang yang diperolehnya hari itu untuk membeli gandum.
Dengan adanya penumpang tambahan, yaitu Ars. Areishia menghabiskan uang lebih banyak dari biasanya.
Tentu saja Ars ikut bekerja membantu meringankan pekerjaannya.
Yang membuatnya paling tidak nyaman adalah tatapan para wanita desa saat melihatnya, itu seperti harimau melihat kelinci.
Dia menyadari alasan di balik tatapan agresif para wanita. Dibandingkan dengan laki-laki di desa, tidak diragukan lagi dia adalah laki-laki yang paling tampan.
Apalagi, dunia ini tipikal matriarki. Menurut para wanita, laki-laki harus bersyukur karena ada wanita yang mau bersama mereka.
Ketika sore tiba, Ars dan Areishia akan menjemput kambing di padang rumput dan membawa mereka kembali ke kandang.
Gadis seusia Areishia seharusnya bermain dengan teman sebayanya dan menikmati masa muda seperti gadis pada umumnya. Tapi demi mencari nafkah, dia melepaskan masa mudanya.
Di malam hari, setelah Areishia tertidur, Ars akan pergi ke hutan untuk menjelajah. Namun, untuk beberapa alasan, satu-satunya Roh yang dia temui hanyalah Restia.
Sebagai Idaten, dia tidak membutuhkan tidur. Jadi, dia menghabiskan malamnya bersama Restia. Tentu saja mereka berdua hanya mengobrol dan tidak melakukan hal-hal aneh.
Demikianlah, Ars menjalani kehidupan yang monoton selama dua tahun sambil berusaha memulihkan kekuatannya.