
Langit mulai cerah, sinar matahari masuk melalui jendela dan menerangi lantai dua toko.
Kemarin, Ars bersama Restia dan Est menata perabotan di toko hingga tengah malam. Kini toko tersebut tidak lagi sepi dan dipenuhi barang-barang yang tidak ada di era ini.
Mengingat ketiganya bukan manusia, mereka tidak merasa lelah atau mengantuk. Meski begitu, Ars memutuskan untuk mengikuti rutinitas manusia, lalu menyuruh kedua gadis Roh itu untuk tidur di kasur yang sudah disiapkan terpisah, dan dia sendiri yang berbaring di kasur dan tertidur dengan cepat.
Ini akan menjadi tidur pertama Ars setelah lebih dari satu milenium.
Itu benar-benar sudah cukup lama sejak terakhir yang ia mampu untuk tidur begitu nyenyak.
Ars sengaja tidak menyetel jam wekernya agar ia bangun secara alami, dan hari sudah siang ketika ia bangun.
"Ah, mmm..."
"Huah..."
Dia bisa mendengar suara samar-samar yang lucu. Selain itu, ia merasa kedua tangannya sulit digerakkan.
(Mungkinkah aku mengalami kelumpuhan tidur? Itu tidak mungkin) Pikir Ars, menyangkal pemikiran itu.
Masih setengah tidur, dia memiringkan kepalanya.
Tampaknya ada sensasi lembut pada kedua lengannya.
(Hmm... Perasaan lembut ini, dimana pernah aku merasakannya...)
Karena penasaran, Ars meraih apa yang ada di depannya.
Sfx: *Boing Boing*
"Mmm... Ars... Itu..."
"Berhentilah ... itu bukan ..."
Napas samar menyapu lehernya.
(Aku punya firasat buruk)
Ars perlahan membuka matanya
"Oh sayang, kamu sudah bangun?"
Restia menatapnya nakal.
"Restia, apa kamu tidak kedinginan mengenakan itu?" Tanya Ars tanpa mengubah ekspresinya.
Restia hanya mengenakan pakaian dalam hitam, berbaring di sebelah kirinya di tempat tidur.
"Fufufu~ Roh tidak takut dingin." Restia terkikik.
"Sigh... Padahal aku sudah menyiapkan kasur untuk mu." Ars menghela napas.
Usianya 2129 tahun, Ars sudah tak perjaka lagi tanpa pengalaman.
Dia tidak akan menunjukkan reaksi berlebihan seperti protagonis beta ketika melihat seorang wanita hanya mengenakan pakaian dalam.
"Aku adalah Roh Terkontrak mu, Ars. Bukankah berbagi ranjang yang sama adalah hal yang wajar?"
Sementara kecewa karena tidak berhasil melihat Ars malu, Restia menempelkan *********** yang tidak besar tapi tidak kecil ke arahnya.
Rambut hitamnya menutupi wajahnya. Gesper bahu bra-nya terlepas, itu terlihat sangat menggoda.
“Baiklah, ayo lanjutkan tidur.”
Restia menjadikan lengan kiri Ars sebagai bantal, dan menempelkan tubuhnya.
Sebelum Ars sempat menanggapi tindakan genit Restia, lengan kanannya sedang dicengkeram erat.
Tak perlu ditebak siapa pelakunya, dia sudah tahu bahkan tanpa harus menoleh.
"Ars, tolong tinggalkan Roh Kegelapan."
Kata-kata Est seperti baja dingin.
Rambut putih keperakan berkilau. Kulit seputih salju warna susu segar.
Di sisi lain, penampilan Est lebih tidak bermoral dari Restia. Ia telanjang bulat dan hanya mengenakan kaus kaki selutut, ia pun menemani Ars di ranjang.
"Bahkan kamu ikut bergabung, Est."
"Ars adalah tuanku."
Est memeluk lengan Ars erat-erat. Dadanya yang mungil dan imut menempel di lengannya.
Sayang sekali, Ars tidak bernafsu pada gadis kecil. Tak ada gejolak di hatinya saat ditemani dua gadis kecil yang nyaris telanjang bulat.
"Ya ampun, adik kecil, seharusnya kamu yang meninggalkan Ars, kan? Jangan lupa, aku adalah Roh pertamanya~"
"Fufu, Ars, tubuhmu sangat jujur."
"Itu reaksi fisiologis para pria di pagi hari. Itu wajar." Ars membantah kalau dia terangsang oleh Restia.
"Dengan aku sebagai pedangmu, bukankah itu sudah cukup?" Est tidak mau kalah.
Bisikan manis terdengar di telinga Ars dari kedua sisi. Nafas mereka yang dihembuskan menyapu lehernya.
Menghadapi rayuan keduanya, ia merasa imannya sedang diuji.
(Mengendalikan diri adalah tanda kekuatan sejati, orang yang mampu mengendalikan diri adalah kuat sejati... Orang bijak menguasai diri, mereka mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakan mereka... Pemurnian pikiran adalah kunci kebahagiaan sejati membebaskan diri dari keinginan adalah jalan menuju kedamaian)
Setelah membaca Sutra Dhammapada agama Buddha di dalam pikirannya, Ars berhasil menekan hawa nafsunya, sehingga dia tidak berubah menjadi binatang buas dan menyerang Restia dan Est.
Tidak ada pilihan lain. Ia pernah mencicipi rasa buah terlarang tersebut dan itu membuatnya ketagihan. Setelah Areishia meninggal, Ars tidak pernah melakukan hal itu lagi, sehingga nafsunya pun menumpuk.
(Aku tidak bisa terus seperti ini. Jika tidak, aku khawatir aku akan kehilangan kendali dan menyesali perbuatan ku di kemudian hari. Aku harus menemukan solusi untuk masalah ini secepatnya)
Ars yakin Restia dan Est tidak akan menolak jika dia mengajak keduanya berhubung badan. Namun, hati nuraninya tidak mampu melakukan itu!
"Bagaimana rasanya, Ars?"
"Ars, jangan tergoda."
Saat Ars sedang berpikir, dia tidak memperhatikan Restia mengarahkan tangannya menyentuh *********** dan meminta pendapatnya. Disisi lain, Est terlihat tidak senang dan melakukan hal serupa.
"Cukup sampai disini."
Sadar kembali, Ars menarik tangannya dari payudara kedua gadis Roh, lalu berdiri dari tempat tidur.
Membuka pintu lemari, ada banyak pakaian era modern tergantung di dalamnya.
Ars mengambil pakaian kasual, dan berpakaian dengan cepat, lalu melirik mereka berdua yang masih berdebat saling menyalahkan.
"Mau berapa lama lagi kalian berdua telanjang? Cepat kenakan pakaian mu."
"Baiklah, kita lanjutkan lain kali~"
Gaun hitam dipadatkan dari kekuatan ilahi, dan Restia telah berpakaian dalam sekejap mata.
"Aku tidak akan menyerahkan Ars padamu."
Est juga menggunakan kekuatan ilahi untuk membuat pakaian di tubuhnya. Dia mengenakan seragam sekolah Akademi Roh Areishia, dan stoking hitam yang melingkari kakinya selalu ada.
Berjalan ke jendela, Ars melihat kerumunan di depan toko.
"Kenapa di luar sangat ramai?"
Berdiri di sebelahnya, Restia tidak mengerti mengapa orang-orang itu berdiri disana.
"Ada beberapa orang memiliki niat buruk." Est berdiri disisi lain, mengamati orang-orang itu.
"Biarkan saja. Tidak peduli apa yang mereka coba lakukan, mereka tidak akan pernah bisa memasuki toko. Aku telah mengatur array takdir. Hanya orang-orang yang memiliki Token Perubahan Takdir, atau mempunyai takdir unik, yang bisa memasuki toko."
Ars mendirikan Klub Perdagangan Takdir hanya untuk bersenang-senang dan kegiatan menghabiskan waktu kekalnya.
Dia telah membuat token khusus yang dia beri nama Token Perubahan Takdir, dan menyebarkannya secara acak ke berbagai semesta melalui teknik [Great Teleportation].
Orang-orang diluar adalah warga sekitar yang penasaran dengan kemunculan Klub Perdagangan Takdir.
Tidak hanya muncul secara misterius dalam satu hari, arsitektur bangunan itu sendiri bergaya eropa, yang sangat menonjol dibandingkan bangunan Jepang Zaman Heian.
Ini juga menarik perhatian pemerintah dan Kaisar Suzaku.
Diluar toko, ada penghalang tak terlihat yang mencegah siapapun masuk, termasuk samurai dan pejabat sipil dari pihak pemerintah.
Tidak peduli metode apa yang mereka gunakan, mereka tetap tidak bisa masuk.
Ars bahkan menemukan broker tanah kemarin menatap ke toko dengan ekspresi tercengang.
"Abaikan saja mereka. Ayo sarapan."
Tidak lagi peduli, Ars berbalik dan menuju dapur.
"Aku mau makan roti dengan madu." Ucap Restia.
"Tahu (Tofu)." Est sangat menyukai tahu.
"Nah, aku akan menyiapkannya."
Lagipula, Ars tidak bisa memasak makanan yang begitu rumit. Paling-paling, dia hanya bisa memasak nasi, mie instan, dan telur goreng.
Untungnya, ada banyak makanan instan di [Storage Magic], sehingga ia hanya perlu memanaskan dengan oven.