Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Perpisahan Hidup dan Mati


Di pulau terpencil ditengah lautan.


Ars bangkit dari tanah dan menepuk debu di pakaian.


"Aku ada urusan, sampai jumpa, Prontea."


"Uuu..."


Prontea ingin membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar dan dia hanya bisa berbaring di tanah.


Sudah 50 tahun sejak ia lahir, dia telah menjalani pelatihan neraka dari Rin sejak saat itu. Sudah beberapa kali ia berupaya melarikan diri karena tidak tahan dengan pelatihan yang dijalaninya, tapi ia akan selalu ditangkap Rin.


Prontea terkadang sangat kagum ke seniornya, yang menjalani semua pelatihan ini tanpa keluhan.


"Rin, aku pergi."


Seperti biasa, Ars memberitahu kepergiannya ke Rin.


*Whooosh*


Sosoknya menghilang karena bergerak terlalu cepat.


Ars terbang melintasi lautan luas.


Setelah berhasil menguasai kemampuan [Manipulasi Berat], dia membuat berat badannya menjadi 0 kilogram, dan bisa terbang seperti pesawat.


Beberapa menit kemudian, ia melayang puluhan kilometer di atas Kota Mathias.


"Kota ini... Tidak, dunia telah membuat kemajuan pesat, sekarang ilmu kemajuan telah mencapai tahap revolusi industri, dan tahap selanjutnya adalah peradaban modern."


Di Kota Mathias terdapat banyak cerobong asap dari pabrik-pabrik yang memproduksi berbagai barang dan makanan.


"Sebaiknya aku mengganti pakaian ku, ini mode pakaian 150 tahun yang lalu."


Ketika ia hendak turun, Ars melihat pakaian yang dikenakan orang-orang di kota, yang terlihat lebih modis.


Dia lebih seperti pengemis daripada makhluk abadi yang perkasa dan bermartabat.


"Aku memilih mu."


Ars melihat pejalan kaki dan memilih pria tertentu.


Saat berikutnya, pakaian lusuhnya berubah menjadi jas hitam dan dasi hitam.


"Ini terlihat jauh lebih baik."


Memeriksa pakaian ditubuhnya, ia mengangguk puas.


"[Light of Reflection]."


Ars membiaskan cahaya dan tubuhnya menjadi tidak terlihat.


Setelah mendarat di sebuah gang, ia menonaktifkan mode tidak terlihat dan berjalan keluar pintu gang, dan bergabung dengan pejalan kaki lainnya.


Karena penampilannya yang menawan, Ars menarik perhatian para wanita di jalan. Menurut standar manusia, ia memiliki wajah tampan. Namun, ia tidak tertarik menjalin hubungan romansa dengan manusia, karena ia tahu hasil akhirnya hanya penderitaan.


Betapapun cantiknya seorang wanita, mereka akan menjadi jelek ketika mereka tua. Ditambah, Ars harus menanggung kesedihan saat pasangannya meninggal, sedangkan dia terus hidup.


(Semoga aku menemukan seorang wanita yang bisa menemani ku selamanya.)


Ars telah merencanakan pergi ke dunia lain, selain menghilangkan kebosanan, tujuan lainnya adalah mencari wanita yang juga abadi seperti dirinya atau Ramuan Keabadian.


Selama dia mempunyai Ramuan Keabadian, Ars bisa membuat wanita yang dicintainya menjadi abadi.


"Jangan terlalu berharap, ini akan menjadi tugas yang sulit... Aku hanya bisa bergantung pada diriku sendiri." Ars menghela napas panjang.


Semakin besar harapan, semakin besar pula kekecewaan pada akhirnya. Karena tanpa harapan, tidak ada kekecewaan.


Memikirkan banyak masalah, ia tiba di rumah sakit terbesar di Kota Mathias.


Memasuki rumah sakit, ia melihat banyak orang-orang datang dan pergi.


(Pakaian petugas kesehatan terlihat lebih bagus daripada beberapa puluh tahun sebelumnya, terutama pakaian perawat, rok mereka sangat pendek.)


Ars memuji desainer yang merancang desain pakaian seksi perawat.


Dia akhirnya tiba di bangsal yang khusus merawat orang-orang VIP dan dia berhenti di depan pintu salah satu kamar rawat inap.


"Maaf pak, ini kamar pribadi, kamu tidak bisa masuk tanpa kartu kunjungan."


Di depan pintu kamar di jaga oleh dua pria kekar berseragam serba hitam.


"Aku kenal orang di dalam, namaku Ars. Sampaikan namaku kepadanya."


"Ini..."


Kedua pengawal saling memandang, dan salah satu dari mereka menganggu.


"Akan saya tanyakan, mohon tunggu disini sebentar pak."


Salah satu pengawal masuk ke kamar, tidak lama kemudian dia kembali.


"Nyonya telah memberi izin."


Kedua pengawal memberi jalan ke Ars.


Ars menggeser pintu kamar dan berjalan masuk.


Begitu masuk, aroma desinfektan memasuki hidungnya.


Seorang wanita tua berusia berambut putih terbaring di ranjang, tubuhnya terpasang beberapa alat bantu kehidupan.


"Paman Ars..."


Hanya ada satu orang di dunia ini yang menyebut Ars dengan sebutan seperti itu.


"Hai, Marie kecil, kamu terlihat tidak sehat."


"Hanya Paman Ars yang masih memanggil ku Marie kecil, aku sudah menjadi wanita tua."


Marie tersenyum pahit, hanya untuk berbicara beberapa kalimat, ia sudah kehabisan napas.


"Wanita tua apa! Di mata ku, kamu selalu gadis kecil yang dipenuhi rasa ingin tahu."


"Paman Ars..."


Air mata mengalir di matanya, Marie tergerak oleh kata-kata itu.


Sejak dia dirawat di rumah sakit, keluarganya tidak pernah menjenguknya. Jika mereka datang, mereka hanya membujuknya untuk memberikan warisannya.


Marie sangat kecewa dengan perilaku keturunannya, ia khawatir setelah kematiannya, keluarganya akan terpecah belah karena perebutan warisan.


"Jangan menangis, air mata tidak cocok untuk mu."


Ars mengusap air mata Marie dengan tangannya.


"En." Marie mengangguk lembut.


Setelah beberapa saat, Marie kembali tenang dan bertanya penasaran.


"Dari mana bunga itu muncul?"


"Itu Marie kecil yang aku kenal, kamu ingin tahu?"


"Iya, aku ingin tahu."


"Kemampuan itu disebut [Storage Magic], sebuah kantong ruang yang dapat menyimpan berbagai barang."


Ars tidak keberatan memberitahu Marie, lagipula itu bukan rahasia.


[Storage Magic] dia kembangkan berdasarkan [Cincin Penyimpanan] di novel xianxia dan [Inventaris] di manga atau anime Isekai.


Tidak sulit baginya menciptakan kemampuan ini, karena ia telah menguasai kemampuan Tata Ruang, yaitu [Teleportasi].


"Sangat menakjubkan... Kemampuan itu akan mengubah lanskap dunia."


Mata Marie berbinar cerah, sebagai pebisnis top, ia mengetahui potensi [Storage Magic].


"Jangan terlalu banyak berpikir, kamu sekarang harus beristirahat agar cepat sembuh."


"Paman Ars tidak perlu menghibur ku, aku mengetahui kondisi tubuh ku dengan baik. Ngomong-ngomong, kenapa membawa bunga krisan?"


Marie mengubah topik pembicaraan.


"Menurut penjual bunga, bunga krisan melambangkan sebuah emosi yang tinggi dan juga umur panjang. Sehingga memberikan bunga krisan untuk orang sakit merupakan pilihan yang tepat." Kata Ars.


"Jadi begitu... Umur panjang, huh?"


Menatap keluar jendela, Marie melihat langit yang sudah tidak seindah dulu karena asap pabrik yang mencemari udara.


"Jika kamu mau, aku bisa menyembuhkan penyakit mu." Ars mengajukan saran.


Marie mengalihkan pandangannya dari langit ke Ars, dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, bahkan jika penyakit ku sembuh, aku tetap akan mati beberapa tahun karena usia tua. Apa Paman Ars tahu, kematian terkadang merupakan bentuk lain kebebasan."


'Karena itu keputusan mu, aku tidak akan lagi membahas masalah ini."


Melihat mata jernih Marie dihadapan kematian, Ars berhenti membujuknya.


Seperti yang dia katakan, kematian terkadang merupakan kebebasan.


Ars telah mengalami tujuh kematian, dan beberapa kematiannya merupakan bentuk kebebasan dari kehidupan.


Misalnya di reinkarnasi ketiga, ketika ia terlahir sebagai seorang wanita. Untuk menghindari diperkosa dari bangsawan, ia memilih bunuh diri dengan cara melompati tebing.


Mereka berdua mengobrol selama beberapa jam.


"Sepertinya waktu ku telah tiba..."


Marie berkata dengan suara serak, kelopak matanya menjadi berat dan perlahan menutup, dan vitalitasnya perlahan memudar.


"Paman Ars..."


Ia mengangkat tangannya yang lemah.


"Aku disini, Marie kecil."


Ars memegang tangan Marie.


"Terima kasih atas semuanya bantuan mu selama ini... Tanpa kamu, kakek dan aku tidak akan sampai sejauh ini... Aku sangat senang mengenal mu... Dan maaf, telah meninggalkan mu kenangan menyedihkan..."


Marie memeras sisa vitalitasnya untuk mengucapkan kata-kata perpisahan, kemudian dia berhenti bernafas.


"Selamat tidur, Marie kecil, semoga kamu bermimpi indah."


Menyaksikan kenalannya meninggal di depan matanya untuk kedua kalinya, Ars tidak bisa menahan air matanya.


Dia tidak menyaksikan momen terakhir Nicholas, yang telah meninggalkannya penyesalan. Tapi Marie berbeda, Ars telah menemaninya sampai akhir hidupnya.


"Ternyata Idaten bisa menangis..."


Ars mengusap air mata di wajahnya.


Menaruh tangan Marie dengan lembut, ia mencium dahinya dan meninggalkan ruangan.


"Marie kecil telah meninggal, segera hubungi keluarganya."


Ars berkata ke kedua pengawal di depan pintu.


"Eh?"


Kedua pengawal syok mendengar berita tersebut, keduanya bergegas masuk ke ruangan. Setelah memeriksa kabar itu benar, mereka keluar ruangan, tetapi sosok pemuda sebelumnya sudah tidak terlihat dimanapun.